Ilustrasi wisata berbasis pengalaman. (Sumber gambar: Kevin Ianeselli/Unsplash)

Tren Wisata Telah Berubah, Tur Dengan Konsep Ini Sekarang Paling Dicari

09 October 2025   |   19:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Tren wisata terus mengalami perubahan. Minat wisatawan kini bergeser dari sekadar kunjungan ke destinasi mainstream, menuju pencarian keterlibatan aktif dan pengalaman yang lebih personal serta autentik. Wisatawan kini tidak lagi puas hanya dengan berfoto ria, tetapi mencari cerita, berinteraksi dengan budaya lokal, hingga belajar keterampilan baru. 

Ketua Umum Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) N. Rusmiati menerangkan tren wisata saat ini sangat dipengaruhi oleh generasi muda, khususnya Gen Z. Mereka tidak hanya mencari destinasi, tetapi juga pengalaman yang autentik dan bisa mereka bagikan.

Baca juga: Survei Alipay+ Ungkap Transaksi Digital Ubah Tren Wisata Tahun Ini

Perubahan beberapa tahun terakhir menurutnya cukup signifikan, dari wisata massal ke arah personalized experience seperti eco-tourism, cultural immersion, wellness trip, hingga workation. Perubahan perilaku ini membuka peluang baru untuk pelaku jasa pariwisata.

Bila dahulu orang datang ke travel agent hanya untuk tiket dan hotel, sekarang mereka mencari kurasi pengalaman. "ASITA melihat ini sebagai kesempatan bagi anggota untuk naik kelas, dari sekadar penyedia jasa teknis menjadi mitra perjalanan yang menghadirkan added value," jelas Rusmiati kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.

Menyesuaikan perubahan tren wisata, dia meminta agar para travel agent anggota ASITA harus lebih kreatif. Misalnya, membuat paket yang lebih personal sesuai minat, memperkuat after sales service, sampai membangun komunitas traveler.

ASITA juga mendorong anggota memanfaatkan teknologi, tapi tetap menjaga sentuhan personal yang tidak bisa diberikan oleh online travel agent (OTA). Ke depan, travel agent harus berani mengembangkan paket yang sesuai dengan tren pengalaman.

Paket bisa berupa wellness & healing tourism untuk mereka yang butuh rehat, creative tourism seperti belajar batik, kuliner lokal, atau festival. Kemudian, adventure ringan seperti glamping, hiking singkat, atau snorkeling. Lalu, eduwisata untuk keluarga dan anak-anak, karena segmen ini menurut Rusmiati juga potensial. "Ini semua kami dorong agar produk anggota ASITA lebih beragam dan mengikuti tren pasar," tuturnya.

General Manager Communications & CRM Golden Rama Tours & Travel, Ricky Hilton melihat pergeseran pola pariwisata ini setelah masa pandemi. Pergeseran ini terlihat jelas dalam meningkatnya minat konsumen terhadap perjalanan yang berfokus pada pengalaman, atau yang dikenal dengan istilah experiential travel. Konsumen saat ini lebih menghargai kualitas daripada kuantitas (quantity) dalam sebuah perjalanan.

"Konsumen tidak lagi mengejar destinasi yang hanya sebatas populer. Mereka juga ingin merasakan interaksi lokal, keunikan budaya, atau berpartisipasi dalam aktivitas berbasis minat khusus seperti sporturism, kuliner, dan wellness," jelas Ricky.

Sport tourism misalnya, kini menjadi salah satu tren yang menonjol. Golden Rama mengamati bahwa kegiatan ini tidak hanya sekedar menonton pertandingan olahraga, tetapi juga mencakup partisipasi aktif, seperti bermain ski di resor Jepang atau mengikuti acara olahraga internasional.

Perubahan pola ini, menurut Ricky, tak lepas dari peran media sosial dan akses informasi digital yang kian masif. Konsumen menjadi semakin terpapar dengan keindahan dan keunikan destinasi di seluruh dunia, sehingga mereka terdorong untuk mencari pengalaman yang lebih autentik.

Menyikapi tren ini, Golden Rama Tours & Travel melakukan inovasi berkelanjutan dalam pengembangan produknya. Salah satu strategi utama adalah dengan meluncurkan produk-produk yang menawarkan aktivitas non-mainstream.

Mereka meluncurkan produk-produk yang mengunjungi destinasi yang mungkin belum terlalu populer di Indonesia. Contohnya, Golden Rama menawarkan paket perjalanan ke Tasmania di Australia, yang berbeda dari paket tur pada umumnya yang hanya mengunjungi Sydney atau Melbourne.

Selain itu, Golden Rama juga menggarap pasar pilgrim atau wisata rohani yang eksklusif, seperti paket perjalanan ke Porta Sancta yang merupakan "Pintu Suci" dalam Gereja Katolik. Destinasi ini menjadi istimewa karena Holy Door-nya hanya dibuka setiap 25 tahun sekali. "Ini sebuah pengalaman yang sangat autentik bagi wisatawan," tuturnya.

Perubahan strategi Golden Rama untuk menyajikan pengalaman yang lebih autentik dan personal ini diterapkan sejak 1-2 tahun ke belakang. Golden Rama menyadari bahwa sebagai perusahaan yang dinamis, mereka harus terus beradaptasi untuk tetap relevan dengan kebutuhan audiens.

Meskipun paket-paket non-mainstream ini seringkali memiliki harga lebih tinggi, Ricky menegaskan bahwa konsumen tidak keberatan membayar lebih karena mereka mencari value for experience. Konsumen ini, yang rata-rata adalah mature traveler dan sudah lebih dari sekali bepergian, melihat investasi perjalanan sebagai sesuatu yang sepadan dengan pengalaman autentik yang mereka dapatkan.

Secara demografi, Ricky menyebutkan bahwa mayoritas konsumen mereka adalah individu berusia 35 tahun ke atas. Namun, tidak menutup kemungkinan juga ada konsumen dari generasi Gen Z, meskipun persentasenya masih lebih kecil karena mereka cenderung memiliki alternatif lain dalam perencanaan perjalanan.

Dominasi konsumen juga terlihat dari segmen keluarga. Ricky mengungkapkan bahwa konsumen yang memilih layanan agen perjalanan seperti Golden Rama cenderung mencari kenyamanan dan keamanan, serta aktivitas yang dapat dinikmati oleh berbagai usia. "Kami bisa menyediakan fasilitas ramah anak, destinasi yang ramah keluarga, serta akses mudah ke berbagai formalitas perjalanan," imbuh Ricky.

Seiring pergeseran minat wisata berbasis pengalaman ini, Ricky menyampaikan terdapat tantangan utama yaitu menjaga ekspektasi tinggi dari klien, terutama di destinasi non-mainstream yang infrastruktur pariwisatanya belum sematang destinasi populer. Aksesibilitas, konektivitas digital, dan fasilitas dasar menjadi perhatian serius.

Menghadapi tantangan ini, Golden Rama secara proaktif memberikan edukasi kepada konsumen sebelum keberangkatan, mulai dari informasi cuaca hingga aturan-aturan lokal yang harus dihormati. Ini merupakan bagian dari upaya Golden Rama untuk mendukung sustainability tourism yang kini mulai disadari pentingnya oleh konsumen.

Ke depan, Golden Rama akan terus berinovasi dengan memperkaya portofolio produknya. Selain sport holiday dan thematic travel, mereka juga akan menawarkan signature services yang menyediakan akomodasi unik, seperti Eagle House untuk melihat bintang, atau pengalaman makan di gastronomy bus di London.

Soal harga, Ricky menjelaskan bahwa paket-paket yang ditawarkan sangat bervariasi, tergantung pada destinasi dan kebutuhan. Sebagai gambaran, paket tur Eropa bisa berkisar dari Rp15 juta hingga Rp80 juta, sementara paket Porta Sancta yang eksklusif bisa mencapai Rp48 juta. "Variasinya cukup lebar. Ada paket Korea mulai dari Rp6,8 juta, hingga puluhan juta bagi konsumen yang mencari pengalaman seperti bermain ski di Korea," tutup Ricky.

Baca juga: Bali Jadi Pusat Wisata Gastronomi, Kemenpar Kenalkan Wonderful Indonesia Gourmet
 

SEBELUMNYA

10 Prompt Gemini AI untuk Edit Foto di Tempat Wisata Populer Dunia

BERIKUTNYA

Jadwal Lengkap Rangkaian Program & Pemutaran Film Madani Fest 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga