Pengunjung mengamati fosil koleksi Eugene Dubois dalam pameran Sejarah Awal, di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Jalan Panjang Java Man Pulang dari Pengasingan

26 December 2025   |   17:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sebuah tengkorak bertengger di dalam vitrin kaca di Ruang Kertarajasa, Museum Nasional Indonesia. Lengkung tempurung kepalanya tampak tebal dan padat, dengan dahi yang landai serta tonjolan alis yang kuat dan menonjol ke depan.

Permukaannya kasar, berwarna cokelat tanah, memperlihatkan tekstur tulang yang menyimpan jejak usia jutaan tahun. Di sebelahnya, patung Homo erectus digambarkan bertubuh kekar, dada bidang, dan postur tegak, seolah siap melangkah melintasi zaman.

Baca juga: Repatriasi Fosil Dubois, Museum Nasional Pamerkan Sejarah Awal Manusia Nusantara

Tengkorak tersebut bukan sekadar artefak biasa. Benda ini merupakan fosil manusia purba Homo erectus yang belum lama ini direpatriasi dari Belanda. Fosil ini pertama kali ditemukan oleh Eugène Dubois di Trinil, Jawa Timur, pada 1891 hingga 1892.

Temuan itulah yang kelak mengubah pemahaman dunia tentang asal usul manusia. Sayangnya fosil tersebut dibawa Dubois ke Eropa untuk diteliti dan dipresentasikan di kalangan ilmiah Belanda. Sejak saat itu, fosil tersebut terpisah dari konteks geografis dan kulturalnya di Tanah Air.

Kini, setelah lebih dari satu abad tersimpan di museum Belanda, untuk pertama kalinya fosil tersebut pulang dan diperlihatkan kepada publik Indonesia. Fosil Homo erectus Dubois ditampilkan dalam pameran tetap bertajuk Sejarah Awal di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

“Jadi koleksi ini merupakan koleksi unggulan yang dibawa secara hand carry, terdiri atas bagian tengkorak, femur, dan gigi. Ke depan akan menyusul tambahan sekitar 28.131 fosil lain yang dikirim melalui kontainer besar,” kata Fadli Zon usai meresmikan pameran pada Rabu, (17/12/25).
 

Senarai replika fosil hewan purba dalam pameran Sejarah Awal, di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Senarai replika fosil hewan purba dalam pameran Sejarah Awal, di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (18/12/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)


Fadli menjelaskan bahwa repatriasi koleksi Dubois membuka peluang baru bagi Indonesia dalam dunia akademik global. Melalui kehadiran koleksi tersebut, masyarakat khususnya generasi muda kini dapat mengakses langsung warisan pengetahuan yang berasal dari tanahnya sendiri.

Menurutnya, lebih dari 50 persen temuan fosil Homo erectus dunia berasal dari Indonesia. Situs seperti Sangiran, Trinil, Ngandong, Semedo, hingga Bumiayu menjadi bukti kekayaan tersebut. Ironisnya, sebagian besar koleksi penting itu justru lama tersimpan di luar negeri.

Keterputusan inilah yang membuat generasi muda kerap jauh dari sejarahnya sendiri. Banyak yang mengenal Homo erectus atau Java Man sebatas istilah dalam buku pelajaran, tanpa pernah melihat bukti fisiknya secara langsung. Repatriasi ini diharapkan dapat menjembatani jarak antara pengetahuan ilmiah dan kesadaran publik.


Sejarah Repatriasi

Jauh sebelum koleksi Eugène Dubois dipamerkan di Museum Nasional, isu repatriasi benda bersejarah sebenarnya telah lama disuarakan. Salah satu tokoh yang paling awal mengangkat gagasan ini adalah M. Yamin, yang sejak 1951 mendorong pengembalian benda bernilai sejarah dan budaya Indonesia dari Belanda.

Upaya tersebut mulai menemukan bentuk pada 1965, ketika Indonesia dan Belanda menyepakati pengembalian sejumlah benda bersejarah ke Tanah Air. Lima tahun kemudian, Ratu Juliana secara simbolis juga menyerahkan naskah Negarakertagama kepada Presiden Soeharto. Namun, naskah karya Mpu Prapanca itu baru tiba pada 1972.

Arkian, repatriasi berlangsung secara sporadis. Pada 1975 Belanda mengembalikan 380 benda etnografi Papua, disusul ratusan benda budaya Indonesia pada 1978. Empat dekade kemudian, tongkat Kiai Cokro milik Pangeran Diponegoro dipulangkan pada 2015, menjadi penanda penting kebangkitan kembali agenda repatriasi setelah lama stagnan.

Pada 2016, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte juga menyerahkan keris Bugis emas pada Presiden Joko Widodo. Setahun kemudian, kedua negara menandatangani nota kesepahaman teknis mengenai proses pengembalian benda bersejarah. Sejak itu, repatriasi dilakukan lebih sistematis dan berbasis kesepakatan resmi.

Hasilnya terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, sekitar 1.500 benda budaya dipulangkan dari Museum Nusantara Delft. Kemudian pada 2023, Belanda menyepakati pemulangan 472 koleksi asal Indonesia. Setahun berikutnya, sebanyak 288 artefak kembali ke Tanah Air sebagai tindak lanjut dari perjanjian bilateral tersebut.

Puncaknya terjadi pada 2025, ketika sekitar 28.000 objek warisan budaya koleksi Dubois, termasuk fosil Homo erectus, direpatriasi ke Indonesia. Proses ini dilakukan melalui riset mendalam mengenai asal-usul koleksi serta perundingan intensif dengan Colonial Collections Committee Belanda, menandai babak baru upaya repatriasi.

Direktur Jenderal Naturalis Biodiversity Center Leiden, Marcel Beukeboom, mengatakan keputusan repatriasi tersebut merupakan kelanjutan dari proses yang telah dijalankan sejak September lalu melalui kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Keputusan itu diambil setelah melalui kajian komite independen bersama Tim Repatriasi Indonesia.

Menurut Marcel, koleksi Dubois memiliki arti penting tidak hanya bagi Indonesia dan Belanda, tetapi juga bagi masyarakat dunia. “Fosil ini menjadi saksi mata rantai penting dalam evolusi manusia, sekaligus merepresentasikan bagian dari sejarah Indonesia dan merupakan warisan budaya bersama,” ujarnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Film Animasi 5 Centimeters Per Second Bakal Tayang di Bioskop Indonesia Januari 2026

BERIKUTNYA

Makna Empati di Tengah Hiruk-Pikuk Perayaan Tahun Baru

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga