IDAI Tekankan ASI Tetap Prioritas bagi Bayi di Pengungsian Pascabanjir
24 December 2025 |
21:39 WIB
Pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, sebagian warga masih harus tinggal di tempat pengungsian, termasuk anak-anak. Dalam kondisi darurat tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa pemberian ASI tetap perlu diprioritaskan sebagai asupan utama bagi bayi yang terdampak.
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan bahwa ASI harus tetap menjadi pilihan utama bagi bayi yang terdampak bencana banjir. Sebab, keamanan dan asupan nutrisi yang terdapat di ASI sangat baik bagi tumbuh kembang bagi di situasi yang serba sulit ini.
Baca juga: Indonesia Rawan Gempa, Ini Barang yang Wajib Ada di Tas Siaga Bencana
Dia pun menyebut penggunaan susu formula bagi bayi di pengungsian tidak direkomendasikan. Hal ini mengingat situasi di lapangan dan prosedur kebersihan yang serba minim, sehingga kurang tepat jika harus diberikan saat di pengungsian.
"Namun, pelarangan ini sebenarnya tidak bersifat mutlak ya. Intinya adalah bagaimana di daerah bencana kita harus tetap mengutamakan pemberian ASI dan MPASI," ungkap Piprim di gedung IDAI, Jakarta Pusat, Senin, (22/12/2025).
Piprim menjelaskan bahwa di tengah kondisi pengungsian yang serba terbatas, pemberian susu formula kepada bayi sebaiknya memang tidak dilakukan. Keterbatasan sanitasi dan sulitnya memperoleh air bersih meningkatkan risiko kontaminasi, sehingga susu formula berpotensi membahayakan kesehatan bayi.
Dalam situasi darurat seperti bencana banjir, air susu ibu (ASI) dinilai sebagai pilihan paling aman. Selain praktis dan higienis, ASI membantu menjaga daya tahan tubuh bayi serta melindungi mereka dari risiko infeksi dan penyakit yang lebih tinggi di lingkungan pengungsian.
"Risiko diare bisa meningkat. Sebab, susah mencari botol yang bersih, mensterilkannya, dan sebagainya," imbuhnya.
Oleh karena itu, ASI tetap harus menjadi prioritas untuk diberikan kepada bayi yang tinggal di pengungsian. Ketika ternyata ada bayi tidak bisa mendapatkan asupan ASI, kata Piprim, maka sebenarnya ada opsi lain seperti donor ASI.
Kendati demikian, dirinya menyadari bahwa dalam kondisi darurat, situasinya sering kali tidak seideal yang dibayangkan. Dia pun menyebut jika opsi-opsi awal ternyata juga tak bisa diberikan, barulah susu formula dapat direkomendasikan sebagai pilihan terakhir.
"Dalam kondisi seperti itu, tenaga medis dapat merekomendasikan susu formula. Tantangannya adalah aspek higiene di daerah bencana, seperti keterbatasan air bersih dan kesulitan mensterilkan botol," jelasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan bahwa ASI harus tetap menjadi pilihan utama bagi bayi yang terdampak bencana banjir. Sebab, keamanan dan asupan nutrisi yang terdapat di ASI sangat baik bagi tumbuh kembang bagi di situasi yang serba sulit ini.
Baca juga: Indonesia Rawan Gempa, Ini Barang yang Wajib Ada di Tas Siaga Bencana
Dia pun menyebut penggunaan susu formula bagi bayi di pengungsian tidak direkomendasikan. Hal ini mengingat situasi di lapangan dan prosedur kebersihan yang serba minim, sehingga kurang tepat jika harus diberikan saat di pengungsian.
"Namun, pelarangan ini sebenarnya tidak bersifat mutlak ya. Intinya adalah bagaimana di daerah bencana kita harus tetap mengutamakan pemberian ASI dan MPASI," ungkap Piprim di gedung IDAI, Jakarta Pusat, Senin, (22/12/2025).
Piprim menjelaskan bahwa di tengah kondisi pengungsian yang serba terbatas, pemberian susu formula kepada bayi sebaiknya memang tidak dilakukan. Keterbatasan sanitasi dan sulitnya memperoleh air bersih meningkatkan risiko kontaminasi, sehingga susu formula berpotensi membahayakan kesehatan bayi.
Dalam situasi darurat seperti bencana banjir, air susu ibu (ASI) dinilai sebagai pilihan paling aman. Selain praktis dan higienis, ASI membantu menjaga daya tahan tubuh bayi serta melindungi mereka dari risiko infeksi dan penyakit yang lebih tinggi di lingkungan pengungsian.
"Risiko diare bisa meningkat. Sebab, susah mencari botol yang bersih, mensterilkannya, dan sebagainya," imbuhnya.
Oleh karena itu, ASI tetap harus menjadi prioritas untuk diberikan kepada bayi yang tinggal di pengungsian. Ketika ternyata ada bayi tidak bisa mendapatkan asupan ASI, kata Piprim, maka sebenarnya ada opsi lain seperti donor ASI.
Kendati demikian, dirinya menyadari bahwa dalam kondisi darurat, situasinya sering kali tidak seideal yang dibayangkan. Dia pun menyebut jika opsi-opsi awal ternyata juga tak bisa diberikan, barulah susu formula dapat direkomendasikan sebagai pilihan terakhir.
"Dalam kondisi seperti itu, tenaga medis dapat merekomendasikan susu formula. Tantangannya adalah aspek higiene di daerah bencana, seperti keterbatasan air bersih dan kesulitan mensterilkan botol," jelasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.