Alternatif Baru Cedera Lutut, Rekonstruksi dengan Ligamen Artifisial
18 December 2025 |
19:30 WIB
Cedera ligamen lutut menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering ditemui, terutama pada individu dengan aktivitas fisik tinggi seperti atlet dan penggemar olahraga di berbagai cabang olahraga, baik profesional maupun amatir di berbagai kelompok usia.
Selama ini, penanganan cedera tersebut umumnya dilakukan dengan mengambil jaringan ligamen dari bagian tubuh pasien sendiri atau menggunakan donor, yang masing-masing memiliki keterbatasan dan risiko baik jangka pendek maupun panjang.
Baca juga: Atroskopi, Bedah Minim Invansif Atasi Cedera Sendi Bahu & Lutut Lebih Cepat
Perkembangan teknologi kedokteran menghadirkan alternatif penanganan cedera ligamen lutut melalui penggunaan ligamen artifisial (artificial ligament). Prosedur perdana ini menghadirkan Prof. Tao Kun, pakar rekonstruksi ligamen dari Tenth People’s Hospital yang berafiliasi dengan Tongji University, Shanghai, bersama dr. Sapto Adji Hardjosworo, Sp.OT, Subsp. CO, Konsultan Cedera Olahraga RS Premier Bintaro.
Operasi dilakukan secara langsung (live surgery) sebagai bagian dari transfer pengetahuan bagi dokter ortopedi di Indonesia.
Dr. Sapto yang juga ahli bedah ortopedi dan trauma RS Premier Bintaro mengatakan, selama ini rekonstruksi ligamen lutut mengandalkan jaringan dari tubuh pasien sendiri, seperti dari paha atau betis. “Artinya, selalu ada bagian tubuh lain yang harus dikorbankan untuk menggantikan ligamen yang putus,” ujarnya.
Alternatif lain berupa donor ligamen dari jenazah belum banyak tersedia di Indonesia dan memiliki risiko infeksi yang tidak kecil. Ligamen artifisial hadir sebagai Solusi dengan menggunakan bahan sintetis polyethylene terephthalate (PET) yang telah dirancang agar kompatibel dengan tubuh manusia dan tidak memicu reaksi penolakan.
“Apa pun yang ditanam di dalam tubuh harus memenuhi syarat biokompatibilitas. Tubuh tidak boleh menolaknya,” ucap dr. Sapto.
Secara bentuk, ligamen artifisial menyerupai serabut benang yang dijalin membentuk pita, menyerupai struktur ligamen alami. Fungsinya adalah menggantikan peran ligamen yang putus tanpa perlu mengambil jaringan dari tubuh pasien.
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah waktu pemulihan yang lebih singkat. Jika metode konvensional membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk kembali berolahraga (return to sport), penggunaan ligamen artifisial memungkinkan pasien kembali beraktivitas dalam waktu sekitar tiga bulan.
“Tujuan operasi tetap sama, mengembalikan pasien ke level aktivitas semula, baik itu olahraga rekreasional maupun profesional,” ujar dr. Sapto.
Selain pemulihan yang lebih cepat, biaya perawatan juga dinilai lebih kompetitif karena proses rehabilitasi yang lebih singkat. Meski demikian, penggunaan ligamen artifisial tetap memiliki indikasi dan kontraindikasi. Teknologi ini tidak disarankan pada pasien dengan infeksi aktif, kondisi tulang yang rapuh, usia lanjut, atau anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Reaksi penolakan, meski jarang, dapat terdeteksi dalam beberapa hari pascaoperasi. Jika tidak terjadi reaksi tersebut, ligamen artifisial akan tetap berada di dalam tubuh secara permanen sebagai pengganti ligamen yang hilang.
RS Premier Bintaro mengadopsi teknologi ini dari China, negara yang telah lebih dulu menerapkan penggunaan ligamen artifisial secara luas. Kehadiran Prof. Tao Kun diharapkan mempercepat transfer teknologi dan membuka jalan bagi penerapan yang lebih luas di Indonesia.
Dengan tingginya angka cedera lutut akibat olahraga seperti sepak bola, basket, dan bulu tangkis, inovasi ini dinilai dapat menjadi opsi baru yang signifikan dalam dunia ortopedi nasional, sekaligus memperluas pilihan terapi bagi pasien cedera ligamen lutut di Tanah Air.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Selama ini, penanganan cedera tersebut umumnya dilakukan dengan mengambil jaringan ligamen dari bagian tubuh pasien sendiri atau menggunakan donor, yang masing-masing memiliki keterbatasan dan risiko baik jangka pendek maupun panjang.
Baca juga: Atroskopi, Bedah Minim Invansif Atasi Cedera Sendi Bahu & Lutut Lebih Cepat
Perkembangan teknologi kedokteran menghadirkan alternatif penanganan cedera ligamen lutut melalui penggunaan ligamen artifisial (artificial ligament). Prosedur perdana ini menghadirkan Prof. Tao Kun, pakar rekonstruksi ligamen dari Tenth People’s Hospital yang berafiliasi dengan Tongji University, Shanghai, bersama dr. Sapto Adji Hardjosworo, Sp.OT, Subsp. CO, Konsultan Cedera Olahraga RS Premier Bintaro.
Operasi dilakukan secara langsung (live surgery) sebagai bagian dari transfer pengetahuan bagi dokter ortopedi di Indonesia.
Dr. Sapto yang juga ahli bedah ortopedi dan trauma RS Premier Bintaro mengatakan, selama ini rekonstruksi ligamen lutut mengandalkan jaringan dari tubuh pasien sendiri, seperti dari paha atau betis. “Artinya, selalu ada bagian tubuh lain yang harus dikorbankan untuk menggantikan ligamen yang putus,” ujarnya.
Alternatif lain berupa donor ligamen dari jenazah belum banyak tersedia di Indonesia dan memiliki risiko infeksi yang tidak kecil. Ligamen artifisial hadir sebagai Solusi dengan menggunakan bahan sintetis polyethylene terephthalate (PET) yang telah dirancang agar kompatibel dengan tubuh manusia dan tidak memicu reaksi penolakan.
“Apa pun yang ditanam di dalam tubuh harus memenuhi syarat biokompatibilitas. Tubuh tidak boleh menolaknya,” ucap dr. Sapto.
Secara bentuk, ligamen artifisial menyerupai serabut benang yang dijalin membentuk pita, menyerupai struktur ligamen alami. Fungsinya adalah menggantikan peran ligamen yang putus tanpa perlu mengambil jaringan dari tubuh pasien.
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah waktu pemulihan yang lebih singkat. Jika metode konvensional membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk kembali berolahraga (return to sport), penggunaan ligamen artifisial memungkinkan pasien kembali beraktivitas dalam waktu sekitar tiga bulan.
“Tujuan operasi tetap sama, mengembalikan pasien ke level aktivitas semula, baik itu olahraga rekreasional maupun profesional,” ujar dr. Sapto.
Selain pemulihan yang lebih cepat, biaya perawatan juga dinilai lebih kompetitif karena proses rehabilitasi yang lebih singkat. Meski demikian, penggunaan ligamen artifisial tetap memiliki indikasi dan kontraindikasi. Teknologi ini tidak disarankan pada pasien dengan infeksi aktif, kondisi tulang yang rapuh, usia lanjut, atau anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Reaksi penolakan, meski jarang, dapat terdeteksi dalam beberapa hari pascaoperasi. Jika tidak terjadi reaksi tersebut, ligamen artifisial akan tetap berada di dalam tubuh secara permanen sebagai pengganti ligamen yang hilang.
RS Premier Bintaro mengadopsi teknologi ini dari China, negara yang telah lebih dulu menerapkan penggunaan ligamen artifisial secara luas. Kehadiran Prof. Tao Kun diharapkan mempercepat transfer teknologi dan membuka jalan bagi penerapan yang lebih luas di Indonesia.
Dengan tingginya angka cedera lutut akibat olahraga seperti sepak bola, basket, dan bulu tangkis, inovasi ini dinilai dapat menjadi opsi baru yang signifikan dalam dunia ortopedi nasional, sekaligus memperluas pilihan terapi bagi pasien cedera ligamen lutut di Tanah Air.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.