Waspada Pakai VPN Gratis Atau Modifikasi Jika Tak Mau Jadi Korban Pencurian Data Pribadi
06 December 2025 |
02:34 WIB
Kesadaran privasi digital yang semakin tinggi di kalangan Gen Z ternyata menjadi celah baru bagi penjahat siber. Salah satunya kebiasaan menggunakan virtual private network (VPN). Laporan terbaru Kaspersky menunjukkan Gen Z diketahui menggunakan VPN, perangkat enkripsi, peramban anonim, dan teknologi peningkatan privasi lainnya dua kali lebih sering dibandingkan kelompok usia lebih tua.
Aplikasi tersebut dinilai penting untuk melindungi data pribadi, identitas online, dan penggunaan Wi-Fi publik. Kendati demikian, faktanya banyak Gen Z memanfaatkan aplikasi VPN gratis, modifikasi, atau palsu yang justru berbahaya pada data pribadi mereka.
Baca juga: 7 Manfaat Pakai VPN, Enggak Cuma Buka Blokir Situs Web
Kaspersky melaporkan lebih dari 15 juta percobaan serangan yang menyamar sebagai aplikasi VPN sepanjang Oktober 2024 hingga September 2025. “Generasi Z mungkin sadar akan privasi, tetapi mereka juga pragmatis dan sering didorong oleh kenyamanan,”ujar Pakar Keamanan Kaspersky Evgeny Kuskov, Jumat (5/12/2025).
Kaspersky menemukan bahwa aplikasi VPN gratis hingga palsu tidak hanya gagal memberikan perlindungan, tetapi justru mengirimkan perangkat lunak berbahaya seperti adware, trojan, serta pengunduh program jahat. Tiga kategori ancaman ini tercatat mendominasi selama periode pemantauan.
Adware menjadi ancaman terbesar dengan lebih dari 284.000 deteksi karena dapat memunculkan iklan agresif dan melacak aktivitas pengguna. Sementara itu, trojan yang ditemukan lebih dari 234.000 kali menjadi ancaman paling serius karena mampu mencuri data sensitif hingga memberi peretas akses penuh ke perangkat korban.
Ancaman tipe pengunduh (downloader) berada di peringkat ketiga dengan 197.707 kasus terdeteksi. Ancaman Downloader digadang-gadang sebagai titik awal pemasangan malware tambahan pada perangkat korban.
Selain aplikasi, peneliti Kaspersky turut menemukan halaman phishing yang meniru situs resmi penyedia layanan VPN ternama. Desain antarmuka dibuat semirip mungkin dengan penyedia asli untuk memancing pengguna memasukkan kredensial akun.
Jika data berhasil dicuri, pelaku dapat menggunakannya tidak hanya untuk mengakses layanan VPN, tetapi juga akun lain apabila pengguna menerapkan kata sandi yang sama di berbagai platform.
“Penyerang mungkin dengan sengaja mempromosikan versi bajakan dari layanan VPN premium dan membuat aplikasi yang meniru nama dan desain merek privasi ternama,” tutur Kuskov.
Dia menambahkan bahwa banyak pengguna muda merasa sedang memperkuat privasi digital mereka, padahal sebenarnya tanpa sadar memberikan akses perangkat dan data pribadi kepada pelaku kejahatan siber.
Oleh karena itu, Kaspersky menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memilih aplikasi yang diklaim mampu memberikan perlindungan privasi. Kuskov menyarankan untuk mengunduh VPN hanya dari toko resmi atau pengembang terpercaya.
Hindari pula aplikasi “crack” atau yang dimodifikasi. Saat memilih VPN, periksa ulasan independen. Jangan lupa memeriksa izin sebelum menginstal. “Izin yang tidak biasa seperti akses ke kontak, mikrofon, atau geolokasi merupakan tanda peringatan,” tegas Kuskov.
Terakhir, gunakan solusi keamanan yang andal dan telah dilengkapi fungsi VPN. Solusi ini turut melindungi perangkat dari malware secara real time dengan melakukan pemblokiran langsung.
Baca juga: Anda Pengguna VPN? Hindari Kesalahan Saat Memanfaatkannya
Aplikasi tersebut dinilai penting untuk melindungi data pribadi, identitas online, dan penggunaan Wi-Fi publik. Kendati demikian, faktanya banyak Gen Z memanfaatkan aplikasi VPN gratis, modifikasi, atau palsu yang justru berbahaya pada data pribadi mereka.
Baca juga: 7 Manfaat Pakai VPN, Enggak Cuma Buka Blokir Situs Web
Kaspersky melaporkan lebih dari 15 juta percobaan serangan yang menyamar sebagai aplikasi VPN sepanjang Oktober 2024 hingga September 2025. “Generasi Z mungkin sadar akan privasi, tetapi mereka juga pragmatis dan sering didorong oleh kenyamanan,”ujar Pakar Keamanan Kaspersky Evgeny Kuskov, Jumat (5/12/2025).
Kaspersky menemukan bahwa aplikasi VPN gratis hingga palsu tidak hanya gagal memberikan perlindungan, tetapi justru mengirimkan perangkat lunak berbahaya seperti adware, trojan, serta pengunduh program jahat. Tiga kategori ancaman ini tercatat mendominasi selama periode pemantauan.
Adware menjadi ancaman terbesar dengan lebih dari 284.000 deteksi karena dapat memunculkan iklan agresif dan melacak aktivitas pengguna. Sementara itu, trojan yang ditemukan lebih dari 234.000 kali menjadi ancaman paling serius karena mampu mencuri data sensitif hingga memberi peretas akses penuh ke perangkat korban.
Ancaman tipe pengunduh (downloader) berada di peringkat ketiga dengan 197.707 kasus terdeteksi. Ancaman Downloader digadang-gadang sebagai titik awal pemasangan malware tambahan pada perangkat korban.
Selain aplikasi, peneliti Kaspersky turut menemukan halaman phishing yang meniru situs resmi penyedia layanan VPN ternama. Desain antarmuka dibuat semirip mungkin dengan penyedia asli untuk memancing pengguna memasukkan kredensial akun.
Jika data berhasil dicuri, pelaku dapat menggunakannya tidak hanya untuk mengakses layanan VPN, tetapi juga akun lain apabila pengguna menerapkan kata sandi yang sama di berbagai platform.
“Penyerang mungkin dengan sengaja mempromosikan versi bajakan dari layanan VPN premium dan membuat aplikasi yang meniru nama dan desain merek privasi ternama,” tutur Kuskov.
Dia menambahkan bahwa banyak pengguna muda merasa sedang memperkuat privasi digital mereka, padahal sebenarnya tanpa sadar memberikan akses perangkat dan data pribadi kepada pelaku kejahatan siber.
Oleh karena itu, Kaspersky menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memilih aplikasi yang diklaim mampu memberikan perlindungan privasi. Kuskov menyarankan untuk mengunduh VPN hanya dari toko resmi atau pengembang terpercaya.
Hindari pula aplikasi “crack” atau yang dimodifikasi. Saat memilih VPN, periksa ulasan independen. Jangan lupa memeriksa izin sebelum menginstal. “Izin yang tidak biasa seperti akses ke kontak, mikrofon, atau geolokasi merupakan tanda peringatan,” tegas Kuskov.
Terakhir, gunakan solusi keamanan yang andal dan telah dilengkapi fungsi VPN. Solusi ini turut melindungi perangkat dari malware secara real time dengan melakukan pemblokiran langsung.
Baca juga: Anda Pengguna VPN? Hindari Kesalahan Saat Memanfaatkannya
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.