Doktor Termuda Fikom Unpad Laely Indah Lestari Gagas Model Budaya Baru
05 December 2025 |
21:01 WIB
Universitas Padjadjaran mengukuhkan Dr. Laely Indah Lestari S.Sos., M.I.Kom sebagai Doktor Ilmu Komunikasi dengan predikat Summa Cum Laude dalam sidang promosi doktor pada Kamis (27/11). Ia meraih IPK 4,00 dan menyelesaikan studi dalam 2 tahun 2 bulan.
Prestasi ini melengkapi rekam jejak akademiknya sebagai mahasiswa jalur Fast Track S2–S3 yang juga diselesaikannya dengan IPK sempurna. Kedua jenjang tersebut ia tuntaskan dalam waktu sangat singkat, masing-masing 1 tahun 1 bulan untuk magister dan 2 tahun 2 bulan untuk doktoral.
Baca juga: Jejak Wastra dalam Pameran Jalinan Waktu di Museum Nasional, dari Batik hingga Kimono Jepang
Di luar perguruan tinggi, Laely dikenal sebagai kreator di Instagram dengan 8.300 followers dan kanal YouTube laelypassions yang telah memiliki lebih dari 2.000 subscriber. Kanal tersebut berisi refleksi budaya, perjalanan riset, serta diskusi seputar wastra Nusantara yang membuka akses publik terhadap tema-tema yang ia teliti.
Dalam sidang tersebut, Laely mempertahankan disertasi berjudul “Tanah, Tangan, dan Tutur: Etnografi Komunikasi Representasi Budaya dalam Ekosistem Pariwisata Tenun Ikat Sumba Timur.” Penelitian selama lebih dari satu tahun ini menelusuri struktur komunikasi budaya antara penenun, tokoh adat, pemerintah daerah, pelaku pariwisata, wisatawan, dan media.
Disertasi ini mengungkap bahwa tenun ikat bukan hanya komoditas pariwisata, tetapi juga instrumen diplomasi budaya dan medium representasi identitas masyarakat Sumba Timur. Laely menunjukkan bagaimana komunikasi antara penenun, tokoh adat, wisatawan, pemerintah daerah, dan media membentuk arus komunikasi sirkular yang menentukan hidup-matinya makna budaya di tengah globalisasi.
Kontribusi utama disertasi ini adalah perumusan Model Komunikasi Budaya Tanah–Tangan–Tutur, yang memetakan tiga dimensi representasi budaya: tanah sebagai nilai kosmologis, tangan sebagai tindakan budaya yang embodied, dan tutur sebagai mekanisme naratif yang menjaga kesinambungan makna.
Para penguji menilai model ini sebagai terobosan penting dalam pengembangan teori komunikasi berbasis epistemologi lokal Nusantara.
Melalui penelitian lapangan intensif selama lebih dari satu tahun di Sumba Timur, Dr. Laely mendokumentasikan praktik menenun, ritus adat, interaksi antaraktor pariwisata, hingga proses digitalisasi budaya dalam pemasaran modern. Ia menunjukkan bahwa tenun ikat bukan sekadar artefak, tetapi sistem komunikasi budaya yang hidup, ditopang oleh sejarah panjang, nilai spiritual, dan relasi sosial yang kompleks.
Laely menyampaikan harapannya agar temuannya dapat diterapkan oleh berbagai pihak untuk penguatan strategi komunikasi berbasis budaya. “Budaya kita kaya, tetapi membutuhkan kerangka komunikasi yang kuat. Tanah–Tangan–Tutur adalah upaya saya untuk menghadirkan kerangka itu,” ujarnya.
Ke depan, ia merencanakan pendirian Pusat Riset Komunikasi Budaya dan Wastra Nusantara, penyusunan serial buku wastra, serta pelatihan narasi budaya bagi komunitas penenun dan generasi muda. “Indonesia memerlukan kerangka komunikasi budaya yang lahir dari tanahnya sendiri,” kata Laely.
“Model Tanah–Tangan–Tutur adalah langkah awal untuk membangun teori komunikasi Nusantara yang berakar pada kearifan lokal namun tetap relevan dalam percakapan global.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Prestasi ini melengkapi rekam jejak akademiknya sebagai mahasiswa jalur Fast Track S2–S3 yang juga diselesaikannya dengan IPK sempurna. Kedua jenjang tersebut ia tuntaskan dalam waktu sangat singkat, masing-masing 1 tahun 1 bulan untuk magister dan 2 tahun 2 bulan untuk doktoral.
Baca juga: Jejak Wastra dalam Pameran Jalinan Waktu di Museum Nasional, dari Batik hingga Kimono Jepang
Di luar perguruan tinggi, Laely dikenal sebagai kreator di Instagram dengan 8.300 followers dan kanal YouTube laelypassions yang telah memiliki lebih dari 2.000 subscriber. Kanal tersebut berisi refleksi budaya, perjalanan riset, serta diskusi seputar wastra Nusantara yang membuka akses publik terhadap tema-tema yang ia teliti.
Dalam sidang tersebut, Laely mempertahankan disertasi berjudul “Tanah, Tangan, dan Tutur: Etnografi Komunikasi Representasi Budaya dalam Ekosistem Pariwisata Tenun Ikat Sumba Timur.” Penelitian selama lebih dari satu tahun ini menelusuri struktur komunikasi budaya antara penenun, tokoh adat, pemerintah daerah, pelaku pariwisata, wisatawan, dan media.
Disertasi ini mengungkap bahwa tenun ikat bukan hanya komoditas pariwisata, tetapi juga instrumen diplomasi budaya dan medium representasi identitas masyarakat Sumba Timur. Laely menunjukkan bagaimana komunikasi antara penenun, tokoh adat, wisatawan, pemerintah daerah, dan media membentuk arus komunikasi sirkular yang menentukan hidup-matinya makna budaya di tengah globalisasi.
Kontribusi utama disertasi ini adalah perumusan Model Komunikasi Budaya Tanah–Tangan–Tutur, yang memetakan tiga dimensi representasi budaya: tanah sebagai nilai kosmologis, tangan sebagai tindakan budaya yang embodied, dan tutur sebagai mekanisme naratif yang menjaga kesinambungan makna.
Para penguji menilai model ini sebagai terobosan penting dalam pengembangan teori komunikasi berbasis epistemologi lokal Nusantara.
Melalui penelitian lapangan intensif selama lebih dari satu tahun di Sumba Timur, Dr. Laely mendokumentasikan praktik menenun, ritus adat, interaksi antaraktor pariwisata, hingga proses digitalisasi budaya dalam pemasaran modern. Ia menunjukkan bahwa tenun ikat bukan sekadar artefak, tetapi sistem komunikasi budaya yang hidup, ditopang oleh sejarah panjang, nilai spiritual, dan relasi sosial yang kompleks.
Laely menyampaikan harapannya agar temuannya dapat diterapkan oleh berbagai pihak untuk penguatan strategi komunikasi berbasis budaya. “Budaya kita kaya, tetapi membutuhkan kerangka komunikasi yang kuat. Tanah–Tangan–Tutur adalah upaya saya untuk menghadirkan kerangka itu,” ujarnya.
Ke depan, ia merencanakan pendirian Pusat Riset Komunikasi Budaya dan Wastra Nusantara, penyusunan serial buku wastra, serta pelatihan narasi budaya bagi komunitas penenun dan generasi muda. “Indonesia memerlukan kerangka komunikasi budaya yang lahir dari tanahnya sendiri,” kata Laely.
“Model Tanah–Tangan–Tutur adalah langkah awal untuk membangun teori komunikasi Nusantara yang berakar pada kearifan lokal namun tetap relevan dalam percakapan global.”
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.