Ketimpangan Hutan Dunia: Guyana & Suriname Melonjak, Indonesia Tertinggal di Rasio Per Kapita
01 December 2025 |
19:37 WIB
Peta terbaru mengenai negara dengan luas hutan per kapita terbesar menunjukkan betapa tidak meratanya distribusi ruang hijau di seluruh dunia. Ketika rata rata global hanya berada di kisaran setengah hektar per orang, ada negara negara yang memiliki puluhan kali lipat jumlah tersebut.
Melansir dari Visual Capitalist, Guyana dan Suriname berada di posisi paling atas dengan lebih dari 20 hektar hutan per kapita. Angka ini hampir tidak terbayangkan jika dibandingkan dengan negara berpenduduk padat di kawasan Asia maupun Eropa.
Baca juga: Fakta Kondisi Hutan Indonesia, Deforestasi Ancam 3 Tumbuhan Endemik
Keunggulan Guyana dan Suriname menunjukkan bahwa rasio hutan per kapita bukan hanya sekadar angka, tetapi juga gambaran tentang akses masyarakat terhadap alam. Di kedua negara tersebut, luasnya hutan yang relatif tak tersentuh memberi peluang bagi konservasi jangka panjang serta potensi kualitas hidup yang lebih dekat dengan alam.
Selain dua negara itu, beberapa wilayah dengan populasi rendah dan luas lahan hijau masih stabil juga menunjukkan angka yang besar. Negara negara itu memanfaatkan kepadatan penduduk yang rendah sebagai keuntungan ekologis karena tekanan terhadap hutan tidak setinggi negara lain.
Namun ketika berbicara tentang negara-negara dengan rasio hutan per kapita tertinggi, muncul pertanyaan penting tentang bagaimana situasinya di kawasan dengan jumlah penduduk besar seperti Asia Tenggara.
Indonesia, misalnya, memiliki salah satu cakupan hutan tropis terbesar di dunia secara total, dengan luas hutan terbaru yang tercatat mencapai sekitar 95,5–95,97 juta hektare atau sekitar 51,1?ri total daratan Indonesia.
Tetapi ketika dihitung per kapita, angkanya tidak setinggi yang dibayangkan karena jumlah penduduk yang besar serta tantangan pengelolaan hutan yang kompleks. Dengan populasi lebih dari 279 juta jiwa, rasio hutan Indonesia berada di kisaran 0,34 hektare per kapita, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara berhutan luas dengan populasi kecil seperti Suriname atau Guyana.
Dalam dua dekade terakhir Indonesia menghadapi tekanan deforestasi yang tinggi terutama akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, hingga pembukaan lahan untuk pembangunan. Hal ini membuat rasio hutan per orang berpotensi terus menurun jika tidak ada pengelolaan yang lebih ketat.
Berdasarkan laporan State of Climate Action 2025 yang dirilis World Resources Institute (WRI), sejumlah negara mengalami kehilangan tutupan hutan yang sangat signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. Sepuluh negara dengan tingkat deforestasi terbesar itu secara kolektif menyumbang hampir dua pertiga dari total deforestasi global.
Dilansir dari DataIndonesia.id, Indonesia menempati posisi kedua deforestasi terbesar dunia pada periode 2015–2024, dengan kehilangan sekitar 10 juta hektare hutan atau setara 11?ri total deforestasi global. Di sisi lain, pemerintah mencatat luas penetapan kawasan hutan Indonesia pada 2024 mencapai 106,82 juta hektare, naik tipis 0,65?ri tahun sebelumnya. Peningkatan kawasan hutan ini secara konsisten terjadi sejak 2020, dari 88,26 juta hektare hingga mencapai puncaknya pada 2024.
Melihat lebih dekat pada daftar negara dengan deforestasi terbesar sepanjang 2015–2024, Brasil berada di posisi pertama dengan kehilangan 23 juta hektare, disusul Indonesia (10 juta hektare) dan Republik Demokratik Kongo (5,9 juta hektare).
Data ini menunjukkan bahwa meski ada peningkatan dalam penetapan kawasan hutan, tekanan terhadap hutan Indonesia tetap tinggi dan membutuhkan pengelolaan yang lebih ketat untuk menekan laju kehilangan tutupan hutan.
Meski Indonesia masih memiliki bentang alam berhutan yang luas, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap ruang hijau tidak merata. Banyak wilayah yang dulunya menjadi daerah berhutan kini berubah fungsi. Ketika laju deforestasi meningkat, bukan hanya hutan yang berkurang, tetapi keanekaragaman hayati ikut terancam bersama kualitas udara dan keseimbangan ekologis.
Jika negara seperti Suriname atau Guyana menikmati lebih dari dua puluh hektar hutan untuk setiap satu penduduk, Indonesia berada jauh di bawah angka itu. Ketimpangan ini memperlihatkan betapa pentingnya kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas lingkungan agar penurunan luas hutan tidak terus terjadi.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk memperbaiki rasio hutan per kapita melalui restorasi hutan dan pengelolaan berkelanjutan. Program rehabilitasi lahan kritis, upaya reforestasi di Kalimantan dan Sumatra, serta kebijakan pembatasan izin pembukaan hutan menjadi langkah awal yang cukup penting.
Namun efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada penegakan di lapangan. Ketika eksploitasi tidak terkendali, rasio hutan per kapita akan semakin mengecil dan generasi mendatang akan mewarisi ruang hidup yang jauh lebih terbatas daripada hari ini.
Melihat perbandingan global ini, Indonesia berada pada titik krusial. Negara negara dengan hutan besar per kapita memberi gambaran tentang manfaat yang bisa diperoleh jika ruang hijau terjaga. Sebaliknya, Indonesia menunjukkan realitas negara tropis yang berjuang mempertahankan hutannya di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan jumlah penduduk.
Jika keberlanjutan tidak menjadi prioritas, maka kesempatan untuk menikmati lingkungan yang sehat dan hijau akan semakin menyempit bagi masyarakat di masa depan.
Berikut 10 negara dengan hutan per kapita terbesar di dunia:
Melansir dari Visual Capitalist, Guyana dan Suriname berada di posisi paling atas dengan lebih dari 20 hektar hutan per kapita. Angka ini hampir tidak terbayangkan jika dibandingkan dengan negara berpenduduk padat di kawasan Asia maupun Eropa.
Baca juga: Fakta Kondisi Hutan Indonesia, Deforestasi Ancam 3 Tumbuhan Endemik
Keunggulan Guyana dan Suriname menunjukkan bahwa rasio hutan per kapita bukan hanya sekadar angka, tetapi juga gambaran tentang akses masyarakat terhadap alam. Di kedua negara tersebut, luasnya hutan yang relatif tak tersentuh memberi peluang bagi konservasi jangka panjang serta potensi kualitas hidup yang lebih dekat dengan alam.
Selain dua negara itu, beberapa wilayah dengan populasi rendah dan luas lahan hijau masih stabil juga menunjukkan angka yang besar. Negara negara itu memanfaatkan kepadatan penduduk yang rendah sebagai keuntungan ekologis karena tekanan terhadap hutan tidak setinggi negara lain.
Namun ketika berbicara tentang negara-negara dengan rasio hutan per kapita tertinggi, muncul pertanyaan penting tentang bagaimana situasinya di kawasan dengan jumlah penduduk besar seperti Asia Tenggara.
Indonesia, misalnya, memiliki salah satu cakupan hutan tropis terbesar di dunia secara total, dengan luas hutan terbaru yang tercatat mencapai sekitar 95,5–95,97 juta hektare atau sekitar 51,1?ri total daratan Indonesia.
Tetapi ketika dihitung per kapita, angkanya tidak setinggi yang dibayangkan karena jumlah penduduk yang besar serta tantangan pengelolaan hutan yang kompleks. Dengan populasi lebih dari 279 juta jiwa, rasio hutan Indonesia berada di kisaran 0,34 hektare per kapita, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara berhutan luas dengan populasi kecil seperti Suriname atau Guyana.
Deforestasi Masif
Dalam dua dekade terakhir Indonesia menghadapi tekanan deforestasi yang tinggi terutama akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, hingga pembukaan lahan untuk pembangunan. Hal ini membuat rasio hutan per orang berpotensi terus menurun jika tidak ada pengelolaan yang lebih ketat.Berdasarkan laporan State of Climate Action 2025 yang dirilis World Resources Institute (WRI), sejumlah negara mengalami kehilangan tutupan hutan yang sangat signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. Sepuluh negara dengan tingkat deforestasi terbesar itu secara kolektif menyumbang hampir dua pertiga dari total deforestasi global.
Dilansir dari DataIndonesia.id, Indonesia menempati posisi kedua deforestasi terbesar dunia pada periode 2015–2024, dengan kehilangan sekitar 10 juta hektare hutan atau setara 11?ri total deforestasi global. Di sisi lain, pemerintah mencatat luas penetapan kawasan hutan Indonesia pada 2024 mencapai 106,82 juta hektare, naik tipis 0,65?ri tahun sebelumnya. Peningkatan kawasan hutan ini secara konsisten terjadi sejak 2020, dari 88,26 juta hektare hingga mencapai puncaknya pada 2024.
Melihat lebih dekat pada daftar negara dengan deforestasi terbesar sepanjang 2015–2024, Brasil berada di posisi pertama dengan kehilangan 23 juta hektare, disusul Indonesia (10 juta hektare) dan Republik Demokratik Kongo (5,9 juta hektare).
Data ini menunjukkan bahwa meski ada peningkatan dalam penetapan kawasan hutan, tekanan terhadap hutan Indonesia tetap tinggi dan membutuhkan pengelolaan yang lebih ketat untuk menekan laju kehilangan tutupan hutan.
Meski Indonesia masih memiliki bentang alam berhutan yang luas, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap ruang hijau tidak merata. Banyak wilayah yang dulunya menjadi daerah berhutan kini berubah fungsi. Ketika laju deforestasi meningkat, bukan hanya hutan yang berkurang, tetapi keanekaragaman hayati ikut terancam bersama kualitas udara dan keseimbangan ekologis.
Jika negara seperti Suriname atau Guyana menikmati lebih dari dua puluh hektar hutan untuk setiap satu penduduk, Indonesia berada jauh di bawah angka itu. Ketimpangan ini memperlihatkan betapa pentingnya kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas lingkungan agar penurunan luas hutan tidak terus terjadi.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk memperbaiki rasio hutan per kapita melalui restorasi hutan dan pengelolaan berkelanjutan. Program rehabilitasi lahan kritis, upaya reforestasi di Kalimantan dan Sumatra, serta kebijakan pembatasan izin pembukaan hutan menjadi langkah awal yang cukup penting.
Namun efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada penegakan di lapangan. Ketika eksploitasi tidak terkendali, rasio hutan per kapita akan semakin mengecil dan generasi mendatang akan mewarisi ruang hidup yang jauh lebih terbatas daripada hari ini.
Melihat perbandingan global ini, Indonesia berada pada titik krusial. Negara negara dengan hutan besar per kapita memberi gambaran tentang manfaat yang bisa diperoleh jika ruang hijau terjaga. Sebaliknya, Indonesia menunjukkan realitas negara tropis yang berjuang mempertahankan hutannya di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan jumlah penduduk.
Jika keberlanjutan tidak menjadi prioritas, maka kesempatan untuk menikmati lingkungan yang sehat dan hijau akan semakin menyempit bagi masyarakat di masa depan.
Berikut 10 negara dengan hutan per kapita terbesar di dunia:
- Guyana: 23
- Suriname: 22,3
- Gabon: 10,2
- Kanada: 8,9
- Republik Afrika Tengah: 8,2
- Federasi Rusia: 5,7
- Botswana: 5,7
- Australia: 4,8
- Bolivia: 4,4
- Finlandia: 4,0
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.