Ronald Moreno pendiri Wastra Modern (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Ronald Moreno dan Perjalanan Wastra Modern yang Menembus Pasar Global Hadir di SMEXPO 2025

28 November 2025   |   21:19 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Ditengah Ramainya Pertamina SMEXPO 2025 di Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan, koleksi busana berwastra modern dari Ronald Moreno tampak mencuri perhatian. Ia membuka cerita dengan mengatakan, “Filosofi dari awalnya saya buat brand Ronald Moreno itu custom made by order,” sambil menjelaskan bahwa sejak awal ia ingin menghasilkan karya yang tetap menjunjung nilai wastra Indonesia.

Ia menegaskan bahwa kecintaan pada wastra adalah dasar yang membuatnya bertahan hingga sekarang. Ronald mengungkapkan bahwa proses kreatifnya bermula dari teknik drapery. “Awalnya masih berbentuk ikat ikatan dan lipat lipatan, belum jahitan,” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Selasa (25/11/2025).

Namun ia menyadari bahwa teknik tersebut tidak berkelanjutan karena kain harus digunting setelah dipakai. “Saya berpikir kenapa ini tidak dibikin serius dan dijadikan bisnis,” katanya, menyebut keputusan itu sebagai awal dari perjalanan panjang brandnya.

Baca Juga: Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025

Seiring waktu, Ronald mulai merumuskan karakter desainnya. “Saya tidak mau membuat desain yang sama dengan orang lain,” ujarnya ketika menggambarkan ciri khas karyanya. Ia ingin wastra bisa digunakan semua generasi, bukan hanya tampil sebagai busana yang dianggap formal atau tua. “Millennial, Gen Z, semuanya bisa pakai wastra saya,” katanya sambil menunjukkan beberapa contoh padu padan yang modern.

Ia bercerita bahwa bisnisnya tumbuh dari sistem pre order. “Kalau ada orang custom, mereka kasih DP dan saya bikin,” jelasnya. Ronald mengatakan bahwa modal awalnya hanya sekitar lima ratus ribu rupiah. “Dari angka itu lama lama dikenal orang, makin besar, dan akhirnya saya punya konveksi,” tuturnya. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ini benar benar berawal dari konsistensi dan tekad.

Mengenai identitas brand, Ronald memilih menggunakan namanya sendiri. “Kenapa saya tidak memakai nama unik, karena saya berkacamata dengan brand luar seperti Louis Vuitton,” katanya. Ia ingin namanya menjadi sebuah legacy. “Saya berharap nama Ronald Moreno bisa memberikan satisfaction bagi pemakainya,” ungkapnya, menunjukkan betapa personalnya keputusan tersebut.

Pada bagian produk, Ronald menjelaskan bahwa seluruh busananya bersifat unisex. “Bisa cewek, bisa cowok,” katanya. Setelah pandemi, ia mengubah konsep menjadi deluxe ready to wear agar busananya lebih fungsional. “Bisa dipakai jangka panjang supaya tidak menimbulkan sampah,” ucapnya. Ia juga menambahkan bahwa seluruh produknya memakai furing dan sistem stitch. “Kita tidak menggunakan obras, jadi sudah standar nasional internasional,” tegasnya.

Ronald juga menyoroti gaya desain yang timeless. “Kita membaca pangsa sekarang, trennya apa,” ujarnya sambil menunjukkan vest bergaya Korea yang ia padukan dengan wastra. Ia mengatakan bahwa anak muda ternyata sangat tertarik. “Ternyata ibu ibu juga malah senang,” katanya sambil tertawa, menjelaskan mengapa targetnya kini dominan usia tiga puluh sampai lima puluh.

Mengenai harga, Ronald menegaskan bahwa kualitas adalah alasannya. “Mereka bilang mahal, tapi enggak kok, murah dengan kualitas jahit double,” jelasnya. Ia menyebut harga vest berkisar empat ratus lima puluh ribu sampai delapan ratus lima puluh ribu rupiah. “Kalau blazer bisa dari satu koma satu juta sampai tak terbatas,” ujarnya, tergantung bahan yang digunakan.

Dalam hal desain, Ronald selalu mengikuti perkembangan tren. “Saya bikin mood board, combine dengan ide yang saya punya,” katanya. Ia memantau referensi dari Instagram, Pinterest, hingga internet. “Kadang duduk saja kita bisa berimajinasi,” ucapnya mengenai proses kreatif yang tidak pernah berhenti.

Perjalanan bisnis sejak 2007 tidak selalu mulus. “Setelah covid, teman teman saya banyak berguguran,” katanya. Namun ia tetap bertahan dengan prinsip bahwa badai akan berlalu. “Tidak ada usaha yang mengingkari hasil,” ujarnya tegas. Tantangan terbesar baginya justru plagiarisme dari pihak yang meniru desainnya. “Kalau mau yang berkualitas pasti carinya original,” katanya.

Untuk menghadapi tiruan, Ronald tetap fokus menciptakan tren baru. “Teknik jahit itu yang tidak bisa ditiru,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pasar bisa menilai perbedaan. “Kalau beli baju coba dibalik ya, kalau jahitannya berantakan ya wassalam,” katanya memberi gambaran sederhana tentang kualitas.

Kini Ronald memiliki sekitar tiga puluh tiga karyawan dan semuanya perempuan. Di sinilah aspek emansipasi perempuan terasa kuat dalam bisnisnya. “Semua yang bekerja dengan saya itu adalah kaum perempuan,” ujarnya tegas. Ia ingin perempuan memiliki kesempatan untuk mandiri. “Itu salah satu kampanye kita, bagaimana cara memberdayakan perempuan,” katanya.

Ia bahkan membuka program jahit gratis untuk perempuan di sekitarnya. “Kami modalin mereka skill menjahit, mana yang bagus kami hire,” tuturnya. Ronald menegaskan bahwa yang ia berikan bukan sekadar pekerjaan sementara. “Jika suatu saat mereka tidak bergabung lagi dengan saya, mereka tetap punya skill untuk keluarga,” ujarnya. Baginya, fashion bukan hanya bisnis, tetapi sarana memberikan kesempatan lebih luas kepada perempuan agar percaya diri dalam berkarya.

Dalam pemasaran, Ronald mengandalkan media sosial. “Setiap apa yang saya pakai selalu orang bertanya,” katanya. Ia juga rutin mengikuti fashion show dan bazar. “Butik saya ada, website juga ada,” jelasnya. Dari bazar, ia sering mendapat pelanggan jangka panjang yang ia sebut Royalities Customer. “Mereka akan menunggu trend baru dari saya,” ucapnya.

Produk Ronald sudah menembus pasar internasional. “Saya sudah masuk ke Darwin, Netherlands, Italia, Turki, dan Amerika,” katanya. Baginya, ini pencapaian yang layak dibanggakan. “Ini patut disombongkan karena real,” ujarnya sambil tertawa.

Pada akhir wawancara, Ronald membagikan pesan untuk anak muda. “Guru yang paling mahal adalah pengalaman,” katanya. Ia menegaskan bahwa fokus adalah hal utama.

“Saya dengan uang lima ratus ribu saja bisa membangun usaha,” ujarnya memberi motivasi. Ia menambahkan bahwa rezeki akan mengikuti kualitas. “Kalau kamu punya kualitas pasti uangnya akan mencari kamu,” katanya menutup pembicaraan. Ronald Moreno merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

Baca juga: LA RéALITE, Wastra Nusantara Sentuhan Modern untuk Fesyen Anak Hadir di SMEXPO 2025

SEBELUMNYA

Centra Tenun Tajung Bawa Warisan Wastra Nusantara di SMEXPO 2025

BERIKUTNYA

Kain Indonesia by Shifara, Brand yang Bertumbuh Bersama Misi Pelestarian Budaya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga