Owner LA RéALITE Amalia Firza Mahmud (Sumber foto: Hypeabis.id/Bianca Wanda Zakia)

LA RéALITE, Wastra Nusantara Sentuhan Modern untuk Fesyen Anak Hadir di SMEXPO 2025

28 November 2025   |   14:03 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Berlandaskan kecintaan pada dunia anak dan keinginan melestarikan wastra Nusantara, Amalia Firza Mahmud membangun brand fesyen anak LA RéALITE. Ditemui di ajang Pertamina SMEXPO 2025, di Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan, yang berlangsung 25-30 November 2025, ia menceritakan perjalanan bisnis yang lahir dari masa pandemi.

“Nama LA RéALITE itu sebenarnya berasal dari lare alit, artinya anak kecil dalam bahasa Jawa,” ujarnya sambil tersenyum. Amalia menjelaskan bahwa pemilihan nama tersebut bukan sekadar estetika, tapi dia ingin menghadirkan perpaduan identitas lokal yang kuat namun tetap tampil global.

“Secara looks mungkin terlihat seperti bahasa asing, tapi maknanya sangat lokal. Harapannya brand ini bisa multinasional namun tetap membawa muatan daerah,” katanya. Konsep itu sekaligus menjadi fondasi awal yang membuat LA RéALITE berbeda dari brand fesyen anak lainnya.

Baca juga: Bleu by Astrid Tampil Memikat di SMEXPO 2025 dengan Karya Rajutnya

Perjalanan usaha ini dimulai pada 2021 ketika pandemi membuat segala aktivitas beralih ke ranah digital. “Waktu itu semuanya serba online, mulai dari belanja bahan, mencari penjahit, sampai memasarkan produk,” ujar Amalia.

Dia menekankan bahwa keterbatasan situasi justru membuka peluang baru. “Karena kami ibu ibu dan concern dengan fesyen anak, kami melihat belum ada brand anak yang mengeksplorasi wastra,” tuturnya. Dari situlah gagasan besar LA RéALITE terbentuk, yaitu mengenalkan wastra kepada anak sejak usia dini.

“Kami ingin batik dan kain Nusantara itu lestari, dan itu bisa dimulai dari usia kecil supaya mereka familiar dan nyaman memakainya,” jelasnya. Menurut Amalia, keterikatan emosional bisa tumbuh sejak masa kanak-kanak jika mereka terbiasa memakai motif tradisional yang dikemas dengan gaya modern.

Dalam memilih bahan, LA RéALITE mengutamakan kekayaan kain Indonesia dari berbagai daerah. “Untuk batik cap biasanya dari Jawa Barat, lurik dan tenun dari Jawa Tengah, lalu ada juga kain sasirangan dari Kalimantan,” kata Amalia.

Keberagaman bahan tersebut menjadi identitas kuat brand ini sekaligus memperkaya variasi produk yang ditawarkan. Model dan desainnya mengikuti tren fesyen anak terkini tanpa meninggalkan unsur tradisional. “Kami memadukan tren yang lagi disukai anak anak dengan motif wastra. Misalnya overall atau jumpsuit yang sekarang banyak dipakai,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa inspirasi desainnya tidak terbatas pada pakaian formal saja. “Kami ingin wastra masuk ke pakaian sehari hari, bukan hanya untuk kondangan atau acara sekolah,” katanya.

Produk LA RéALITE dibanderol dengan harga mulai dari Rp200.000 untuk item basic hingga sekitar Rp300.000 untuk set tertentu. “Tantangannya karena fesyen anak itu size-nya banyak dari 0 sampai 12 tahun, jadi model awal kami cukup tinggi cost-nya,” ujar Amalia.

Dia menjelaskan bahwa variasi ukuran membuat proses produksi perlu lebih teliti dan terukur. Selain pakaian, LA RéALITE juga memanfaatkan kain perca untuk aksesori tambahan. “Kami buat topi, kantong, sampai patchwork dari sisa kain. Warnanya warna warni karena memang dari perca kami,” jelasnya sambil menunjukkan beberapa contoh.

Menurut Amalia, pemanfaatan sisa bahan ini sekaligus menjadi upaya mengurangi limbah produksi. LA RéALITE sudah bekerja sama dengan Pertamina Foundation sejak 2021. “Waktu itu kami ikut program pembelajaran dulu karena masih masa pandemi, jadi semua zoom,” ungkapnya.

Setelah situasi membaik, kesempatan berpartisipasi dalam pameran mulai terbuka. “Tahun lalu kami ikut SMEXPO Jogja dulu, lalu difasilitasi ke SMEXPO Nasional di Jakarta,” tuturnya. Tahun ini, brand tersebut kembali diundang untuk tampil di SMEXPO Bintaro.

Menurut Amalia, program Pertamina memberikan dampak besar pada perkembangan bisnisnya. “Sangat signifikan karena programnya berkelanjutan. Tidak hanya pelatihan tapi juga difasilitasi sampai ke ekspor,” ujarnya.

Pola pendampingan bertahap membuat UMKM seperti dirinya mampu memahami branding, pemasaran, dan manajemen usaha dengan lebih baik. Dari sisi penjualan, LA RéALITE memperoleh sekitar 10 juta rupiah per bulan. “Kurang lebih di angka segitu, tapi bisa naik turun,” kata Amalia.

Tantangan terbesar yang dirasakannya adalah menjaga konsistensi di tengah persaingan digital. “Sekarang marketplace potongannya luar biasa, jadi harus pintar pintar bertahan,” ucapnya.

Saat ini, LA RéALITE menjual produknya melalui marketplace dan beberapa store offline. “Kami ada di Denpasar, Jakarta, Tangerang, termasuk di Pendopo Living World,” jelasnya.

Baca juga: Batik Mierto (Poenja) Tampilkan Wastra Premium Bernuansa Kekinian di SMEXPO 2025

Amalia menyebut pemasaran digital tetap menjadi faktor paling berpengaruh. “Karena dari awal kami online jadi memang segitu besar kontribusinya,” tambahnya. Dia juga pernah mencoba pasar Malaysia meski belum berlanjut. “Semoga nanti ada kesempatan lagi,” katanya.

Untuk 5 tahun mendatang, Amalia berharap LA RéALITE dapat memperluas jangkauan pasar dan mengeksplorasi lebih banyak jenis wastra. “Kompetitor biasanya fokus pada satu wastra, tapi kami ingin berbagai pilihan supaya anak anak makin banyak opsi,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan pesan untuk UMKM lain. “Yang penting punya strong why karena bertahan itu yang paling sulit,” katanya. LA RéALITE merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.

SEBELUMNYA

Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025

BERIKUTNYA

F8 Series Jadi Ponsel Flagship Perdana Poco, Cek Spesifikasi dan Harganya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga