Kain Indonesia by Shifara, Brand yang Bertumbuh Bersama Misi Pelestarian Budaya
28 November 2025 |
22:17 WIB
Di tengah maraknya kesadaran untuk kembali mencintai produk budaya, Kain Indonesia by Shifara hadir sebagai salah satu brand yang menjadikan wastra Nusantara sebagai pondasi utama karyanya. Pada suatu momen, pendirinya, Sinta Paramitha, memperkenalkan diri dengan sederhana, “Nama saya Sinta, saya dari Kain Indonesia by Shifara, usia saya 44 tahun,” ujarnya membuka cerita pada Pertamina SMEXPO 2025 di Mall Bintaro Jaya Xchange II, Tangerang Selatan.
Sejak awal, ia menekankan bahwa brand ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap kain tradisional Indonesia. Sinta menjelaskan bahwa Kain Indonesia by Shifara dibangun untuk mengeksplorasi kekayaan wastra dari berbagai daerah. “Kami mengeksplorasi wastra Indonesia dari Sabang sampai Merauke, tidak hanya batik tapi juga tenun, jumputan, endek, dan banyak lagi,” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Selasa (25/11/2025).
Baca juga: Tas Anyaman Lombok yang Mendunia: Kisah Jalaluddin Membangun Brand UMKM Rindik Art Shop
Menurutnya, kekayaan tersebut kini menghadapi banyak ancaman, termasuk penurunan jumlah pengrajin. “Banyak motif batik di print lalu dijual murah dan ada negara yang mencoba mengklaim kain Indonesia,” ujarnya dengan nada prihatin.
Ia menegaskan bahwa ancaman itu menjadi alasan kuat bagi dirinya untuk memulai brand ini pada 2021. “Kami membangun Kain Indonesia by Shifara karena kepedulian terhadap budaya Indonesia,” ucapnya. Misi pelestarian itu selalu menjadi arah dari setiap langkah yang ia ambil, baik dalam produksi maupun pengembangan usaha.
Sinta kemudian menjelaskan bentuk produk yang brandnya hasilkan. “Kami buat baju ready to wear yang modern dari kain kain Indonesia,” katanya. Namun keunikan Kain Indonesia by Shifara tidak berhenti di situ. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya sangat memperhatikan pengelolaan limbah.
“Limbah dari baju dewasa kami buat menjadi baju anak anak, lalu sisa dari baju anak kami buat boots, dan sisanya lagi menjadi aksesoris,” ujarnya. Ia menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari usahanya untuk mengurangi limbah tekstil.
Dalam hal harga, Sinta mengatakan bahwa produknya cukup terjangkau. “Paling murah itu seratus enam puluh lima ribu, rata rata sekitar dua ratus lima puluh ribu,” ucapnya. Mengenai omset, ia menyebut bahwa mereka memulai dari nol seperti banyak UMKM lain. “Seiring berjalannya waktu omset terus meningkat,” katanya. Ia menambahkan bahwa partisipasi dalam event besar sangat membantu. “SMEXPO 2025 ini sangat meningkatkan brand awareness Kain Indonesia by Shifara,” ujarnya.
Sinta juga memaparkan kondisi modal awal saat memulai usaha. “Modal awal sekitar dua puluh jutaan,” jelasnya. Dana itu digunakan untuk membeli kain, mesin jahit, hingga menggaji penjahit dan pembuat pola. Kini, jumlah karyawan inti ada lima orang. “Kalau dengan freelancer bisa sampai dua puluh,” tambahnya. Ia menyebut bahwa sebagian besar penjahit baju anak adalah perempuan di lingkungan sekitar. “Kami juga bekerja sama dengan disabilitas, penjahitnya tunadaksa,” katanya bangga.
Dalam strategi pemasaran, Kain Indonesia by Shifara lebih banyak bergerak di ranah offline. “Saat ini kami lebih fokus di offline karena event banyak,” ucap Sinta. Mereka belum memiliki offline store permanen, tetapi kerap hadir di beragam lokasi. “Biasanya kami stay di Mall Lippo Nusantara,” ujarnya. Namun ia tetap menyadari pentingnya platform digital. “Online itu sangat potensial dan membantu omset,” katanya.
Ketika ditanya mengenai keterlibatannya dalam program Pertamina, Sinta menjawab bahwa prosesnya cukup panjang. “Kami dari UMK Academy lalu masuk ke Pertamina Agregator,” jelasnya. Ia merasa pendampingan tersebut memberikan manfaat besar. “Kami mendapat coach coach yang memberikan pelatihan bisnis, harga jual, digital marketing, SDM, sampai ekspor,” ujarnya. Selain teori, ia juga merasakan dampak praktis. “Kami diajak mengikuti banyak pameran, itu sangat menguntungkan,” katanya.
Dalam hal ekspor, Sinta menjelaskan bahwa produknya belum ekspor secara formal. “Sekarang lebih banyak hand carry,” ucapnya. Ia menyebut bahwa beberapa pelanggan membawa produk mereka ke Australia dan Amerika. “Tenun cocok untuk negara yang berangin,” katanya. Sinta kemudian memaparkan keunikan brandnya. “Inovasi kami harus mengikuti tren,” ujarnya. Ia menekankan bahwa desain modern, cutting rapi, serta ukuran lengkap adalah keunggulan Kain Indonesia by Shifara.
“Ukuran kami lengkap dari dewasa kecil sampai big size dan ada ukuran bayi,” katanya. Ia menambahkan bahwa label ukuran di produknya mengikuti standar internasional. “Di label ada ukuran EU dan UK,” jelasnya.
Ketika membahas tantangan, Sinta mengatakan bahwa yang paling besar adalah menemukan pengrajin yang mampu memproduksi dalam jumlah besar. “Kalau ada pesanan seragam dalam kuantitas besar, kami harus bisa memenuhi,” ujarnya. Ia menyebut bahwa solusinya adalah memperluas jaringan. “Kami terus mencari supplier dan pengrajin baru,” katanya.
Ke depan, Kain Indonesia by Shifara memiliki banyak rencana ambisius. “Kami ingin ada lebih banyak hadir di mal mal,” ujar Sinta. Untuk dunia digital, ia ingin memperkuat live regular dan meningkatkan omset online. “Kami juga ingin masuk ke marketplace luar seperti Etsy,” ujarnya.
Menutup percakapan, Sinta memberikan pesan untuk anak muda yang ingin memulai bisnis. “Sebelum bisnis, kita harus menemukan diri kita dulu,” katanya. Ia menekankan pentingnya mengenali potensi diri. “Kalau masih bingung, ya dicoba saja,” ujarnya.
Namun ia juga mengingatkan bahwa proses mencoba membutuhkan tenaga dan waktu. “Yang penting jangan menyerah dan jangan takut mencoba,” kata Sinta dengan senyum hangat yang mewakili seluruh semangat Kain Indonesia by Shifara dalam melestarikan wastra Indonesia.
Kain Indonesia by Shifara merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Baca juga: Lewat Kejora Galeri, Kerajinan & Batik Lapas Perempuan Jambi Tampil Gemilang di SMEXPO 2025
Sejak awal, ia menekankan bahwa brand ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap kain tradisional Indonesia. Sinta menjelaskan bahwa Kain Indonesia by Shifara dibangun untuk mengeksplorasi kekayaan wastra dari berbagai daerah. “Kami mengeksplorasi wastra Indonesia dari Sabang sampai Merauke, tidak hanya batik tapi juga tenun, jumputan, endek, dan banyak lagi,” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Selasa (25/11/2025).
Baca juga: Tas Anyaman Lombok yang Mendunia: Kisah Jalaluddin Membangun Brand UMKM Rindik Art Shop
Menurutnya, kekayaan tersebut kini menghadapi banyak ancaman, termasuk penurunan jumlah pengrajin. “Banyak motif batik di print lalu dijual murah dan ada negara yang mencoba mengklaim kain Indonesia,” ujarnya dengan nada prihatin.
Ia menegaskan bahwa ancaman itu menjadi alasan kuat bagi dirinya untuk memulai brand ini pada 2021. “Kami membangun Kain Indonesia by Shifara karena kepedulian terhadap budaya Indonesia,” ucapnya. Misi pelestarian itu selalu menjadi arah dari setiap langkah yang ia ambil, baik dalam produksi maupun pengembangan usaha.
Sinta kemudian menjelaskan bentuk produk yang brandnya hasilkan. “Kami buat baju ready to wear yang modern dari kain kain Indonesia,” katanya. Namun keunikan Kain Indonesia by Shifara tidak berhenti di situ. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya sangat memperhatikan pengelolaan limbah.
“Limbah dari baju dewasa kami buat menjadi baju anak anak, lalu sisa dari baju anak kami buat boots, dan sisanya lagi menjadi aksesoris,” ujarnya. Ia menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari usahanya untuk mengurangi limbah tekstil.
Dalam hal harga, Sinta mengatakan bahwa produknya cukup terjangkau. “Paling murah itu seratus enam puluh lima ribu, rata rata sekitar dua ratus lima puluh ribu,” ucapnya. Mengenai omset, ia menyebut bahwa mereka memulai dari nol seperti banyak UMKM lain. “Seiring berjalannya waktu omset terus meningkat,” katanya. Ia menambahkan bahwa partisipasi dalam event besar sangat membantu. “SMEXPO 2025 ini sangat meningkatkan brand awareness Kain Indonesia by Shifara,” ujarnya.
Sinta juga memaparkan kondisi modal awal saat memulai usaha. “Modal awal sekitar dua puluh jutaan,” jelasnya. Dana itu digunakan untuk membeli kain, mesin jahit, hingga menggaji penjahit dan pembuat pola. Kini, jumlah karyawan inti ada lima orang. “Kalau dengan freelancer bisa sampai dua puluh,” tambahnya. Ia menyebut bahwa sebagian besar penjahit baju anak adalah perempuan di lingkungan sekitar. “Kami juga bekerja sama dengan disabilitas, penjahitnya tunadaksa,” katanya bangga.
Dalam strategi pemasaran, Kain Indonesia by Shifara lebih banyak bergerak di ranah offline. “Saat ini kami lebih fokus di offline karena event banyak,” ucap Sinta. Mereka belum memiliki offline store permanen, tetapi kerap hadir di beragam lokasi. “Biasanya kami stay di Mall Lippo Nusantara,” ujarnya. Namun ia tetap menyadari pentingnya platform digital. “Online itu sangat potensial dan membantu omset,” katanya.
Ketika ditanya mengenai keterlibatannya dalam program Pertamina, Sinta menjawab bahwa prosesnya cukup panjang. “Kami dari UMK Academy lalu masuk ke Pertamina Agregator,” jelasnya. Ia merasa pendampingan tersebut memberikan manfaat besar. “Kami mendapat coach coach yang memberikan pelatihan bisnis, harga jual, digital marketing, SDM, sampai ekspor,” ujarnya. Selain teori, ia juga merasakan dampak praktis. “Kami diajak mengikuti banyak pameran, itu sangat menguntungkan,” katanya.
Dalam hal ekspor, Sinta menjelaskan bahwa produknya belum ekspor secara formal. “Sekarang lebih banyak hand carry,” ucapnya. Ia menyebut bahwa beberapa pelanggan membawa produk mereka ke Australia dan Amerika. “Tenun cocok untuk negara yang berangin,” katanya. Sinta kemudian memaparkan keunikan brandnya. “Inovasi kami harus mengikuti tren,” ujarnya. Ia menekankan bahwa desain modern, cutting rapi, serta ukuran lengkap adalah keunggulan Kain Indonesia by Shifara.
“Ukuran kami lengkap dari dewasa kecil sampai big size dan ada ukuran bayi,” katanya. Ia menambahkan bahwa label ukuran di produknya mengikuti standar internasional. “Di label ada ukuran EU dan UK,” jelasnya.
Ketika membahas tantangan, Sinta mengatakan bahwa yang paling besar adalah menemukan pengrajin yang mampu memproduksi dalam jumlah besar. “Kalau ada pesanan seragam dalam kuantitas besar, kami harus bisa memenuhi,” ujarnya. Ia menyebut bahwa solusinya adalah memperluas jaringan. “Kami terus mencari supplier dan pengrajin baru,” katanya.
Ke depan, Kain Indonesia by Shifara memiliki banyak rencana ambisius. “Kami ingin ada lebih banyak hadir di mal mal,” ujar Sinta. Untuk dunia digital, ia ingin memperkuat live regular dan meningkatkan omset online. “Kami juga ingin masuk ke marketplace luar seperti Etsy,” ujarnya.
Menutup percakapan, Sinta memberikan pesan untuk anak muda yang ingin memulai bisnis. “Sebelum bisnis, kita harus menemukan diri kita dulu,” katanya. Ia menekankan pentingnya mengenali potensi diri. “Kalau masih bingung, ya dicoba saja,” ujarnya.
Namun ia juga mengingatkan bahwa proses mencoba membutuhkan tenaga dan waktu. “Yang penting jangan menyerah dan jangan takut mencoba,” kata Sinta dengan senyum hangat yang mewakili seluruh semangat Kain Indonesia by Shifara dalam melestarikan wastra Indonesia.
Kain Indonesia by Shifara merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Baca juga: Lewat Kejora Galeri, Kerajinan & Batik Lapas Perempuan Jambi Tampil Gemilang di SMEXPO 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.