Lewat Kejora Galeri, Kerajinan & Batik Lapas Perempuan Jambi Tampil Gemilang di SMEXPO 2025
28 November 2025 |
20:58 WIB
Kejora Galeri tampil mencuri perhatian di Pertamina Small and Medium Enterprises Exhibition (SMEXPO) 2025 sebagai UMKM yang menghadirkan karya batik istimewa hasil tangan warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi. Melalui pembinaan dan pendampingan intensif, Kejora Galeri tidak hanya menghasilkan produk batik, aksesori, dan tas berkualitas, tetapi juga menghadirkan semangat harapan, kemandirian, serta kesempatan baru bagi para warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Kejora Galeri mulai dibentuk pada tahun 2018, setahun setelah Lapas Perempuan Jambi berdiri. Menurut Ria Rahmawati, selaku Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik, Kejora Galeri lahir dari pembinaan keterampilan di dalam lapas.
Baca juga: LA RéALITE, Wastra Nusantara Sentuhan Modern untuk Fesyen Anak Hadir di SMEXPO 2025
“Warga binaan kami diberikan pelatihan membatik, membuat aksesori, hingga menjahit sebagai bekal keterampilan saat kembali ke masyarakat,” ujarnya. Pertamina mulai memberikan perhatian sejak 2018 dan menjadikan Kejora Galeri sebagai mitra binaan. Pertamina melihat bahwa warga binaan adalah kelompok masyarakat yang sering terabaikan, padahal mereka juga memiliki potensi besar jika diberikan kesempatan. Dari sinilah pembinaan kewirausahaan mulai berkembang secara aktif.
Awalnya, warga binaan sama sekali belum memiliki keterampilan membatik. Pertamina membantu memberikan pelatihan, instruktur ahli, serta dukungan bahan dan peralatan. Meskipun sempat terhenti saat pandemi COVID-19 pada tahun 2020, warga binaan tetap melanjutkan proses kreatif di dalam lapas.
Dari sini lahir berbagai motif orisinal karya mereka. Hingga saat ini, sudah ada tujuh motif batik hasil kreasi warga binaan yang telah resmi didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual (KI). Produk utama mereka adalah batik tulis dan batik cap, sementara produk turunan meliputi aksesori, pouch, tas, hingga pakaian batik yang dijahit oleh warga binaan yang memang memiliki keterampilan menjahit. Pembinaan dilakukan berdasarkan minat dan bakat masing-masing warga binaan, mulai dari jahit, kerajinan tangan, hingga desain motif batik.
Kejora Galeri memiliki galeri offline yang berada langsung di dalam lapas, tempat produk dipamerkan kepada pengunjung. Selain itu, pemasaran juga telah merambah ke media sosial dan e-commerce seperti Instagram dan Shopee. Pencapaian besar pernah diraih pada tahun 2022, ketika Lapas Perempuan Jambi dikunjungi langsung oleh Ibu Iriana, istri dari Presiden Jokowi. Sejak saat itu, nama Kejora Galeri semakin dikenal.
Pada 2024, omzet mereka mencapai Rp28 juta. Pembagian hasil penjualan dilakukan secara adil, termasuk premi atau upah bagi warga binaan, dana pembinaan, serta PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Tujuan besar Kejora Galeri adalah agar warga binaan memiliki modal dan keterampilan saat kembali ke masyarakat, sehingga mereka memiliki peluang kerja dan kehidupan baru yang lebih baik.
Filosofi nama Kejora sendiri memiliki makna mendalam. Kejora merupakan singkatan dari Kerajinan Orang Penjara, sekaligus merujuk pada bintang Kejora. Artinya, warga binaan diajak untuk tetap memiliki mimpi setinggi bintang meskipun berada di balik tembok lapas. Harapan mereka tidak berhenti di balik jeruji.
Ke depan, Kejora Galeri menargetkan bisa memperluas pemasaran hingga nasional dan bahkan menembus pasar internasional. “Kami ingin karya warga binaan bisa dikenal luas, dan membuktikan bahwa dari dalam lapas pun lahir kreativitas dan harapan,” kata Ria Rahmawati.
Kejora Galeri merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Baca juga: Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025
Kejora Galeri mulai dibentuk pada tahun 2018, setahun setelah Lapas Perempuan Jambi berdiri. Menurut Ria Rahmawati, selaku Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik, Kejora Galeri lahir dari pembinaan keterampilan di dalam lapas.
Baca juga: LA RéALITE, Wastra Nusantara Sentuhan Modern untuk Fesyen Anak Hadir di SMEXPO 2025
“Warga binaan kami diberikan pelatihan membatik, membuat aksesori, hingga menjahit sebagai bekal keterampilan saat kembali ke masyarakat,” ujarnya. Pertamina mulai memberikan perhatian sejak 2018 dan menjadikan Kejora Galeri sebagai mitra binaan. Pertamina melihat bahwa warga binaan adalah kelompok masyarakat yang sering terabaikan, padahal mereka juga memiliki potensi besar jika diberikan kesempatan. Dari sinilah pembinaan kewirausahaan mulai berkembang secara aktif.
Awalnya, warga binaan sama sekali belum memiliki keterampilan membatik. Pertamina membantu memberikan pelatihan, instruktur ahli, serta dukungan bahan dan peralatan. Meskipun sempat terhenti saat pandemi COVID-19 pada tahun 2020, warga binaan tetap melanjutkan proses kreatif di dalam lapas.
Dari sini lahir berbagai motif orisinal karya mereka. Hingga saat ini, sudah ada tujuh motif batik hasil kreasi warga binaan yang telah resmi didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual (KI). Produk utama mereka adalah batik tulis dan batik cap, sementara produk turunan meliputi aksesori, pouch, tas, hingga pakaian batik yang dijahit oleh warga binaan yang memang memiliki keterampilan menjahit. Pembinaan dilakukan berdasarkan minat dan bakat masing-masing warga binaan, mulai dari jahit, kerajinan tangan, hingga desain motif batik.
Kejora Galeri memiliki galeri offline yang berada langsung di dalam lapas, tempat produk dipamerkan kepada pengunjung. Selain itu, pemasaran juga telah merambah ke media sosial dan e-commerce seperti Instagram dan Shopee. Pencapaian besar pernah diraih pada tahun 2022, ketika Lapas Perempuan Jambi dikunjungi langsung oleh Ibu Iriana, istri dari Presiden Jokowi. Sejak saat itu, nama Kejora Galeri semakin dikenal.
Pada 2024, omzet mereka mencapai Rp28 juta. Pembagian hasil penjualan dilakukan secara adil, termasuk premi atau upah bagi warga binaan, dana pembinaan, serta PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Tujuan besar Kejora Galeri adalah agar warga binaan memiliki modal dan keterampilan saat kembali ke masyarakat, sehingga mereka memiliki peluang kerja dan kehidupan baru yang lebih baik.
Filosofi nama Kejora sendiri memiliki makna mendalam. Kejora merupakan singkatan dari Kerajinan Orang Penjara, sekaligus merujuk pada bintang Kejora. Artinya, warga binaan diajak untuk tetap memiliki mimpi setinggi bintang meskipun berada di balik tembok lapas. Harapan mereka tidak berhenti di balik jeruji.
Ke depan, Kejora Galeri menargetkan bisa memperluas pemasaran hingga nasional dan bahkan menembus pasar internasional. “Kami ingin karya warga binaan bisa dikenal luas, dan membuktikan bahwa dari dalam lapas pun lahir kreativitas dan harapan,” kata Ria Rahmawati.
Kejora Galeri merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.
Baca juga: Adabina Scarves: Mukena dan Kerudung Premium Berdesain Eksklusif Henni Danasuoro Hadir di SMEXPO 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.