Ilustrasi kecanduan game. (Sumber foto : Freepik)

Memahami Internet Gaming Disorder (IGD), Ketika Hobi Menjadi Gangguan Serius

21 November 2025   |   14:30 WIB
Image
Nursoko Andhika Setiawan Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Dalam era digital saat ini, bermain game telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang, terutama generasi muda. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang sosial dan bahkan peluang karier bagi sebagian pemain.

Namun, ketika kebiasaan bermain game mulai mengganggu aktivitas harian, hubungan sosial, hingga kesehatan mental, kondisi tersebut dapat menjadi tanda Gangguan Permainan Internet atau Internet Gaming Disorder (IGD). WHO telah mengakui IGD sebagai salah satu kondisi kesehatan mental yang membutuhkan perhatian dan penanganan serius.

Melansir Healthline, DSM-5-TR digunakan secara luas di Amerika Serikat sebagai pedoman resmi dalam mendiagnosis gangguan kesehatan mental. Dengan masuknya IGD ke dalam manual ini, artinya dunia medis mulai menganggap kecanduan game bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang membutuhkan penanganan profesional.

Baca juga: Studi: Kecanduan Game Online Dapat Mengubah Jaringan Otak, Ganggu Kontrol Kognitif dan Emosi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan IGD sebagai pola perilaku bermain game secara berlebihan yang ditandai dengan hilangnya kontrol diri, meningkatnya prioritas terhadap game dibandingkan aktivitas lain, serta terus bermain meskipun muncul dampak negatif.

Artinya, game menjadi hal yang utama dalam hidup seseorang hingga mengesampingkan kegiatan penting lainnya seperti sekolah, pekerjaan, makan, tidur, hingga interaksi sosial.

Untuk dapat didiagnosis mengalami IGD, seseorang harus merasakan gangguan atau tekanan yang signifikan di berbagai aspek kehidupan. Beberapa gejala umum yang sering muncul antara lain:
  • Merasa gelisah, sedih, cemas, atau marah ketika tidak bisa bermain game.
  • Membutuhkan waktu bermain yang lebih lama untuk merasa puas.
  • Kesulitan mengurangi kebiasaan bermain game meskipun sudah mencoba.
  • Kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai selain bermain game.
  • Berbohong kepada teman atau keluarga tentang lamanya waktu bermain.
  • Menggunakan game sebagai pelarian dari suasana hati yang buruk.
  • Mengabaikan pekerjaan, sekolah, atau hubungan sosial akibat bermain game.

Jika gejala-gejala tersebut muncul secara terus-menerus, maka perlu dilakukan evaluasi oleh profesional kesehatan mental. DSM-5-TR menekankan bahwa IGD bisa berdampak negatif pada kualitas hidup seseorang, terutama dari sisi hubungan sosial, produktivitas, hingga kesehatan fisik dan mental.

Penelitian juga menunjukkan bahwa IGD dapat memengaruhi otak secara fisik, mirip dengan gangguan kecanduan lainnya seperti kecanduan alkohol atau narkoba. Aktivitas bermain game berlebihan dapat memicu sistem penghargaan di otak, sehingga pemain merasa perlu terus bermain untuk mendapatkan rasa senang yang sama.

Penanganan IGD biasanya dilakukan melalui kombinasi beberapa metode, tergantung tingkat keparahan kasus:
  1. Terapi psikologis, seperti terapi kognitif-perilaku (CBT), untuk membantu mengatur pola pikir dan perilaku.
  2. Pengobatan medis, jika IGD disertai gangguan kesehatan mental lain seperti depresi atau kecemasan.
  3. Modifikasi gaya hidup, seperti pengaturan jadwal bermain, peningkatan aktivitas fisik, dan pembatasan akses terhadap perangkat digital.
  4. Dukungan keluarga dan lingkungan, karena pemulihan akan lebih efektif jika ada pemahaman dari orang-orang terdekat.

IGD adalah fenomena baru yang muncul sejalan dengan perkembangan teknologi. Meski bermain game memiliki banyak manfaat dan bisa menjadi hiburan sehat, penting untuk memahami batasnya. Ketika hobi berubah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dikendalikan, saat itulah kita perlu berhenti sejenak dan melihat dampaknya pada kehidupan.

Pada akhirnya, kesadaran diri dan dukungan lingkungan menjadi kunci untuk mencegah dan menangani IGD sejak dini. Game seharusnya menjadi hiburan, bukan alasan untuk kehilangan kendali atas hidup.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Menuju 98th Academy Awards: Film-Film Terkuat dalam Prediksi Nominasi Oscar 2026

BERIKUTNYA

Australian Alumni Awards 2025 Apresiasi Jejak Inspiratif Diaspora Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga