Bagcharm Macrame (Sumber Gambar: Instagram @beduwaproject)

Beduwa Project, Bisnis Bagcharm Macrame yang Lahir dari Ide Sederhana

21 November 2025   |   11:30 WIB
Image
Aira Shakuntala Wardhana Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Di tengah persaingan bisnis kreatif yang semakin ketat, sepasang anak muda asal Yogyakarta berhasil mencuri perhatian lewat produk aksesori yang unik dan penuh karakter: bagcharm macrame. Usaha yang diberi nama Beduwa Project ini dirintis oleh Mahyu Halis Pratama (24) bersama pasangannya, Rainma Afifah.

Mahyu menceritakan bahwa keinginannya membangun usaha berawal dari pengalaman bekerja di industri F&B di Jogja. “Saat itu saya bekerja dengan gaji UMR, dan saya ingin mencari pemasukan tambahan. Selain itu, saya melihat peluang besar di bisnis kreatif, terutama bagcharm macrame,” ujarnya.

Baca juga: Mochi.Cozee: Kisah Pasangan Muda Mengubah Camilan Manis Menjadi Bisnis Sukses

Langkah pertama mereka dimulai dari sesuatu yang sederhana—berjualan di CFD Alun-Alun Wates, Kulon Progo. “Awalnya kami mencoba peruntungan di CFD skala kecil. Di sisi lain, saya mulai membangun branding lewat TikTok dengan rutin mengunggah video,” tambah Mahyu.

Dalam proses menciptakan produk, Mahyu dan Rainma banyak mengambil inspirasi dari TikTok dan Pinterest. Namun mereka menjaga agar setiap karya tetap memiliki nilai khas. “Kami menggunakan metode ATM Amati, Tiru, Modifikasi supaya produk tetap punya identitas Beduwa, bukan sekadar menjiplak,” jelasnya.

Kualitas menjadi prioritas utama mereka, terutama karena sebagian besar penjualan dilakukan secara online. “Kami harus menjaga kualitas, membuat pesanan sesuai permintaan, dan memastikan pengiriman aman. Tantangannya kadang ada barang tertukar atau hilang saat dikirim,” kata Mahyu.
 

Seiring berkembangnya usaha, pasar Beduwa Project semakin luas. “Awalnya target kami remaja usia 14–30 tahun. Tapi ternyata sekarang banyak laki-laki juga tertarik, terutama setelah kami membuat bagcharm boneka,” ungkapnya.

Strategi promosi mereka bertumpu pada TikTok. “Kami mengupload video yang kreatif dan menarik, dan kini mulai aktif melakukan live TikTok,” katanya. Produk mereka seperti bagcharm berbentuk bunga anggrek dan lili dari kawat bulu bahkan sempat viral dan menjadi tren, meski akhirnya banyak juga toko lain yang meniru. Salah satu video mereka bahkan menembus 1,6 juta views.

Namun, tidak semua berjalan mudah. Kondisi ekonomi yang tidak stabil berdampak pada penurunan pesanan. Ditambah lagi, Beduwa Project harus bersaing dengan toko-toko yang meniru ide dan produk mereka.

“Tapi pengalaman baik dan buruk dari pelanggan membuat kami berkembang. Penilaian buruk mengajarkan kami memperbaiki kualitas dan pengecekan. Penilaian baik memberi semangat untuk terus berinovasi,” jelas Mahyu.

Ke depan, Beduwa Project memiliki mimpi besar. “Harapannya kami bisa membuka toko offline dan membawa Beduwa menjadi usaha yang lebih dikenal banyak orang,” tutupnya penuh optimisme.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Trailer Perdana The Hunger Games: Sunrise on the Reaping Ungkap Asal-Usul Haymitch Abernathy

BERIKUTNYA

Pasangan Ikonik! Hyun Bin dan Son Ye Jin Raih Best Actor–Actress di Blue Dragon Awards

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga