Bangkitkan Tradisi Mendongeng di Era Digital Lewat Festival “Suara Nusantara”
18 November 2025 |
16:06 WIB
Di tengah derasnya arus teknologi dan gawai, mendongeng perlahan mulai kehilangan tempatnya di ruang-ruang keluarga. Anak-anak kini lebih akrab dengan layar daripada cerita sebelum tidur, padahal Indonesia adalah negeri yang kaya dengan legenda, dongeng, dan kisah rakyat yang sarat nilai moral.
Menyadari pentingnya menghidupkan kembali tradisi bercerita, Navaswara menggelar Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara” 2025, yang tidak hanya menghadirkan kompetisi mendongeng tetapi juga mengajak generasi muda kembali mencintai cerita leluhur.
Baca juga: Yuk Ikut Lomba Mendongeng Museum Kebaharian Jakarta x Maritim Muda Nusantara
Dongeng bukan sekadar hiburan. Dalam tradisi Indonesia, cerita rakyat telah menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai moral, keberanian, empati, dan kecintaan pada tanah air. Melalui kisah heroik, legenda lokal, atau cerita jenaka, anak-anak belajar memahami kebaikan, konsekuensi, serta makna hidup secara sederhana namun membekas.
Namun, modernisasi membuat tradisi ini meredup. Anak-anak kini lebih sering tumbuh tanpa paparan cerita rakyat karena kurangnya waktu orang tua, berkurangnya ruang budaya, hingga dominasi konten digital asing.
Ketua Panitia Suara Nusantara, Cahaya Manthovani menegaskan pentingnya mengembalikan tradisi mendongeng ke dalam kehidupan keluarga Indonesia.
“Suara Nusantara hadir untuk menghidupkan kembali kekayaan cerita rakyat. Lewat acara mendongeng, anak-anak diajak menyelami kisah bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta pada warisan budaya,” ujarnya.
Cahaya menambahkan bahwa tujuan festival bukan hanya memperkenalkan cerita, tetapi membangkitkan ikatan emosional generasi muda dengan tanah air.
“Harapannya, mereka tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakan kedekatan dengan Tanah Air, serta membawa nilai kebaikan itu dalam perjalanan hidupnya.”
Diselenggarakan pada 15–16 November 2025 di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Festival Storytelling “Suara Nusantara” 2025 menjadi panggung besar bagi penggiat dongeng muda. Dari 223 peserta yang mendaftar terdiri dari siswa dan guru di DKI Jakarta, hanya 131 peserta yang lolos kurasi untuk tampil di acara puncak.
Festival ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga ruang belajar lewat workshop “Semua Bisa Mendongeng” bersama Kak Onie dari Ayo Dongeng Indonesia (AyoDi). Peserta diajak memahami teknik-teknik storytelling yang menghidupkan karakter, suasana, dan pesan moral.
Acara juga dimeriahkan oleh sederet tokoh penting, termasuk Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Inisiator YIPB Reda Manthovani, serta Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad, dan dukungan dari Kemenparekraf.
Pramono Anung bahkan menawarkan kolaborasi untuk membukukan cerita rakyat dari Sabang sampai Merauke bersama anak-anak Jakarta. “DNA bangsa Indonesia adalah storytelling. Ruang-ruang membaca dan bercerita harus diperbanyak.”
Puncak acara menghadirkan penampilan spesial Prof. Reda Manthovani (JAM-Intel) yang mendongengkan kisah legendaris Betawi, Si Pitung, sebagai bentuk teladan bahwa mendongeng bukan sekadar aktivitas anak, tetapi warisan budaya yang harus dijaga bersama.
Ketua Pembina Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, Maya Miranda Ambarsari, menegaskan bahwa mendongeng adalah ruang penting untuk membentuk generasi berkarakter. “Literasi budaya adalah fondasi generasi yang percaya diri dan berkarakter. Melihat antusiasme peserta, kami optimistis bahwa warisan leluhur ini akan terus hidup dan relevan," ujarnya.
Tingginya minat peserta membuat Navaswara berencana memperluas penyelenggaraan ke berbagai daerah lain di Indonesia, terdekat adalah di wilayah Banten.
Menyadari pentingnya menghidupkan kembali tradisi bercerita, Navaswara menggelar Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara” 2025, yang tidak hanya menghadirkan kompetisi mendongeng tetapi juga mengajak generasi muda kembali mencintai cerita leluhur.
Baca juga: Yuk Ikut Lomba Mendongeng Museum Kebaharian Jakarta x Maritim Muda Nusantara
Dongeng bukan sekadar hiburan. Dalam tradisi Indonesia, cerita rakyat telah menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai moral, keberanian, empati, dan kecintaan pada tanah air. Melalui kisah heroik, legenda lokal, atau cerita jenaka, anak-anak belajar memahami kebaikan, konsekuensi, serta makna hidup secara sederhana namun membekas.
Namun, modernisasi membuat tradisi ini meredup. Anak-anak kini lebih sering tumbuh tanpa paparan cerita rakyat karena kurangnya waktu orang tua, berkurangnya ruang budaya, hingga dominasi konten digital asing.
Ketua Panitia Suara Nusantara, Cahaya Manthovani menegaskan pentingnya mengembalikan tradisi mendongeng ke dalam kehidupan keluarga Indonesia.

Para juara Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara” 2025
“Suara Nusantara hadir untuk menghidupkan kembali kekayaan cerita rakyat. Lewat acara mendongeng, anak-anak diajak menyelami kisah bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta pada warisan budaya,” ujarnya.
Cahaya menambahkan bahwa tujuan festival bukan hanya memperkenalkan cerita, tetapi membangkitkan ikatan emosional generasi muda dengan tanah air.
“Harapannya, mereka tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakan kedekatan dengan Tanah Air, serta membawa nilai kebaikan itu dalam perjalanan hidupnya.”
Diselenggarakan pada 15–16 November 2025 di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Festival Storytelling “Suara Nusantara” 2025 menjadi panggung besar bagi penggiat dongeng muda. Dari 223 peserta yang mendaftar terdiri dari siswa dan guru di DKI Jakarta, hanya 131 peserta yang lolos kurasi untuk tampil di acara puncak.
Festival ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga ruang belajar lewat workshop “Semua Bisa Mendongeng” bersama Kak Onie dari Ayo Dongeng Indonesia (AyoDi). Peserta diajak memahami teknik-teknik storytelling yang menghidupkan karakter, suasana, dan pesan moral.
Acara juga dimeriahkan oleh sederet tokoh penting, termasuk Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Inisiator YIPB Reda Manthovani, serta Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad, dan dukungan dari Kemenparekraf.
Pramono Anung bahkan menawarkan kolaborasi untuk membukukan cerita rakyat dari Sabang sampai Merauke bersama anak-anak Jakarta. “DNA bangsa Indonesia adalah storytelling. Ruang-ruang membaca dan bercerita harus diperbanyak.”
Puncak acara menghadirkan penampilan spesial Prof. Reda Manthovani (JAM-Intel) yang mendongengkan kisah legendaris Betawi, Si Pitung, sebagai bentuk teladan bahwa mendongeng bukan sekadar aktivitas anak, tetapi warisan budaya yang harus dijaga bersama.
Ketua Pembina Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, Maya Miranda Ambarsari, menegaskan bahwa mendongeng adalah ruang penting untuk membentuk generasi berkarakter. “Literasi budaya adalah fondasi generasi yang percaya diri dan berkarakter. Melihat antusiasme peserta, kami optimistis bahwa warisan leluhur ini akan terus hidup dan relevan," ujarnya.
Tingginya minat peserta membuat Navaswara berencana memperluas penyelenggaraan ke berbagai daerah lain di Indonesia, terdekat adalah di wilayah Banten.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.