Veronica Utama, Country Director Google Indonesia (sumber : Google Indonesia)

3 Tren yang Akan Membentuk Cara Kita Menonton YouTube di Masa Depan

05 November 2025   |   19:29 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Selama 20 tahun terakhir, YouTube telah bertransformasi dari sekadar tempat berbagi video menjadi epicenter of culture atau pusat budaya digital yang melahirkan berbagai tren, gerakan sosial, hingga suara-suara baru yang selama ini tidak terdengar.

Veronica Utami, Country Director Google Indonesia mengatakan bahwa kehadiran para kreator yang kian kreatif inilah yang membuat YouTube menjadi pusat budaya dunia. Dia pun membandingkan sejak pertama kali YouTube hadir di Indonesia pada 2012 lalu, tidak banyak konten kreator yang menghasilkan 1 juta subscriber. Salah satu konten kreator pertama yang meraih 1 juta subscriber di YouTube adalah Raditya Dika pada Februari 2014.

Baca juga: Mengenal 5 Wajah Baru Pemberitaan di Era Digital Lewat Fenomena Newsfluencer

Namun kini, lanskap media sudah sangat berubah, YouTube pun telah membentuk ekosistem kreator terbesar di Tanah Air. Data terbaru dari YouTube menyebutkan bahwa jumlah channel YouTube yang memiliki lebih dari 1 juta subscriber mencapai lebih dari 3.000 channel.

Menariknya, penonton YouTube saat ini bukan hanya semakin meningkat dari sisi jumlah tetapi memiliki keterlibatan yang mendalam dan lebih fokus sehingga memunculkan kepercayaan yang lebih otentik kepada para kreator.

Watch time di YouTube Indonesia naik 20% dibanding tahun lalu, dua kali lipat lebih cepat dari 2024. Artinya, pengguna kini tak sekadar menonton sekilas, tapi benar-benar terlibat dan fokus pada konten yang mereka tonton,” tuturnya.

Tentunya pertumbuhan yang luar biasa ini didorong oleh satu faktor yang sangat penting, yaitu para kreator. Kehadiran para kreator ini pun melahirkan tren utama yang membentuk masa depan konten digital di YouTube.


1. Budaya Lokal yang Mendunia (Local Culture Going Global)

Veronica mengatakan bahwa YouTube menjadi jembatan bagi talenta lokal untuk dikenal dunia. Dari musisi muda hingga kreator mandiri, banyak nama besar lahir dari layar kecil di kamar sendiri.

Sebut saja NIKI dan Rich Brian, dua musisi Indonesia yang menembus panggung global berkat video-video awal mereka di YouTube. Tahun ini, giliran girl grup No Na besutan 88Rising yang mencuri perhatian. “Menariknya, 30?ri total watch time mereka berasal dari luar Indonesia,” ujar Veronica.

Tren ini menegaskan bahwa konten berbasis budaya lokal justru memiliki daya tarik global. Dengan karakter, bahasa, dan gaya khasnya, kreator Indonesia kini tak hanya mewarnai jagat hiburan dalam negeri, tapi juga memengaruhi arah budaya digital dunia.
 

2. Era Baru Hiburan yang Lebih Fluid dan Komunitatif

Bentuk hiburan di YouTube terus berevolusi, tak lagi sekadar vlog atau musik, tapi juga kolaborasi antara kreativitas dan komunitas. Contohnya saja Byon Combat, liga tinju yang berawal dari ide seorang kreator bernama Yoshua Marcellos, yang lebih dikenal sebagai Cellos.

“Dari video konten hiburan, kini Byon Combat berkembang menjadi liga olahraga digital dengan nilai jutaan dolar,” ungkapnya.

Tren ini menunjukkan bahwa hiburan di era digital bersifat fluid yang bisa berpindah dari layar ke kehidupan nyata, dari tontonan menjadi ekosistem bisnis, dan dari hiburan menjadi komunitas yang hidup.


3. Meningkatnya Konten Berdampak Positif dan Autentik

Kreator kini tak hanya menghibur, tetapi juga memberi makna. Banyak di antara mereka menggunakan platform ini untuk membangun empati, edukasi, dan perubahan sosial.

Salah satunya Muhammad Arifin, kreator di balik channel Disabilitas Punya Cara, yang membagikan tips perbaikan rumah dengan cara sederhana dan menginspirasi. Dia menunjukkan bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk berkarya dan berdampak.

Survei dari Kantar menyebutkan bahwa 92% penonton di Indonesia menganggap kreator YouTube sebagai sosok yang bisa dipercaya. Kepercayaan ini membuat konten berdampak sosial menjadi semakin relevan, sekaligus membuka peluang bagi brand dan kreator untuk berkolaborasi secara autentik.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Jangan Lewatkan Supermoon Terbesar 2025, Begini Cara Mengabadikannya Pakai Smartphone

BERIKUTNYA

Beasiswa Ki Hajar Dewantara untuk Sekolah Gratis di ISJ, Cek Syarat dan Kuotanya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga