Didi Budiardjo Hidupkan Transisi Era Film Bisu ke dalam Mode Lewat If Only
03 November 2025 |
18:30 WIB
Perancang busana ternama Tanah Air, Didi Budiardjo kembali memboyong koleksi terbarunya bertajuk If Only ke Ballroom Hotel The Langham, Jakarta Pusat, Senin (3/11/25). Senarai koleksi ini sebelumnya sempat dipamerkan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2026 di Pondok Indah Mall, Jakarta, pada 27 Oktober–2 November 2025.
Koleksi If Only berangkat dari era 1930-an, masa Depresi Besar (The Great Depression) yang juga menjadi periode transisi dalam dunia film — dari film bisu (silent movie) ke film bersuara (audible). Didi melihat perubahan medium itu sebagai metafora bagi dunia mode, bahwa setiap zaman menuntut adaptasi terhadap medium baru.
Tak hanya menyoroti sejarah, Didi juga menghadirkan pengalaman baru lewat format penyajian yang berbeda. Dia memperkenalkan konsep Re-see, bentuk presentasi pasca-peragaan busana yang umum dilakukan oleh rumah mode besar dunia seperti Dior, Louis Vuitton, dan Chanel.
Baca juga: Menengok Koleksi Desainer Finalis LPM di Jakarta Fashion Week 2026
Berbeda dengan pameran mode konvensional, instalasi Re-see memungkinkan pengunjung untuk menyentuh dan merasakan tekstur bahan secara langsung. “Ini bukan exhibition, tapi installation,” ujar Didi. “Pengunjung boleh menyentuh kainnya, supaya tahu seperti apa detail dan bahannya.”
Bagi Didi, kedekatan fisik antara pengunjung dan karya menjadi bagian penting dalam proses memahami busana sebagai karya seni. Dia ingin publik tidak hanya melihat gaun dari kejauhan, melainkan benar-benar mengalami detailnya, dari potongan, material, hingga filosofi di baliknya.
Dalam instalasi ini, sebanyak 21 rancangan ditampilkan dengan pendekatan visual yang kaya referensi. Inspirasi utama datang dari film-film tahun 1930-an seperti Love Affair (1939), The Double Door (1934), dan The Lost Horizon (1937). Tiap busana membawa kisah dan atmosfer berbeda yang merefleksikan era transisi tersebut.
Salah satu karya yang mencuri perhatian terinspirasi dari The Lost Horizon (1937), menampilkan bentuk menyerupai kuil di China dengan detail embroidery, beading, dan bunga epoksi. “Itu bukan mobil, tapi temple,” kata Didi sambil menunjuk pada rancangan berlapis material tulle embroidery dengan hiasan bunga yang dibuat manual.
Koleksi ini juga memadukan unsur flora yang sarat makna simbolik. Tanaman asparagus fern hadir sebagai aksen dalam beberapa karya, mewakili simbol harapan dan ketahanan. Bunga camellia dan gardenia pun menjadi elemen penting, keduanya populer pada era 1920–1930-an dan sering muncul dalam bahasa bunga yang universal.
Palet warna pastel lembut mendominasi keseluruhan koleksi. Nuansa itu terinspirasi dari film hitam putih yang kemudian diwarnai ulang (colorized), menghadirkan kesan nostalgia yang romantis. “Kalau di Love Affair yang di-colorize, warnanya seperti ini,” tutur Didi menjelaskan.
Tak hanya sinema, Didi juga merujuk pada arsitektur modern awal abad ke-20. Beberapa potongan busana menampilkan elemen geometris yang terinspirasi karya arsitek legendaris Frank Lloyd Wright dan gaya Art Deco yang tengah berjaya pada dekade 1930-an.
Bagi Didi, semua inspirasi itu berpadu untuk menyampaikan satu pesan, yakni pentingnya keberanian untuk terus bereksperimen. Dia menegaskan bahwa setiap koleksi tersebut adalah gagasan baru, bukan pengulangan dari ide lama. “Saya tidak ingin menyampaikan gagasan yang usang,” ujarnya tegas.
Selain membawa semangat inovasi, If Only juga menandai langkah baru dalam penyajian karya mode di Indonesia. Format Re-see yang dia terapkan diklaim menjadi yang pertama dilakukan oleh desainer Tanah Air. Meski begitu, Didi tetap rendah hati, “Kalau ada yang mengklaim lebih dulu, saya tidak masalah,” imbuhnya.
Melalui If Only, Didi Budiardjo menunjukkan bahwa mode tak hanya soal keindahan visual, tetapi juga ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Lewat senarai karyanya, Didi menghadirkan pengalaman yang menyentuh, baik secara harfiah dan emosional, sembari mengajak publik untuk melihat mode sebagai bahasa yang terus berevolusi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Koleksi If Only berangkat dari era 1930-an, masa Depresi Besar (The Great Depression) yang juga menjadi periode transisi dalam dunia film — dari film bisu (silent movie) ke film bersuara (audible). Didi melihat perubahan medium itu sebagai metafora bagi dunia mode, bahwa setiap zaman menuntut adaptasi terhadap medium baru.
Tak hanya menyoroti sejarah, Didi juga menghadirkan pengalaman baru lewat format penyajian yang berbeda. Dia memperkenalkan konsep Re-see, bentuk presentasi pasca-peragaan busana yang umum dilakukan oleh rumah mode besar dunia seperti Dior, Louis Vuitton, dan Chanel.
Baca juga: Menengok Koleksi Desainer Finalis LPM di Jakarta Fashion Week 2026
Berbeda dengan pameran mode konvensional, instalasi Re-see memungkinkan pengunjung untuk menyentuh dan merasakan tekstur bahan secara langsung. “Ini bukan exhibition, tapi installation,” ujar Didi. “Pengunjung boleh menyentuh kainnya, supaya tahu seperti apa detail dan bahannya.”
Bagi Didi, kedekatan fisik antara pengunjung dan karya menjadi bagian penting dalam proses memahami busana sebagai karya seni. Dia ingin publik tidak hanya melihat gaun dari kejauhan, melainkan benar-benar mengalami detailnya, dari potongan, material, hingga filosofi di baliknya.
Dalam instalasi ini, sebanyak 21 rancangan ditampilkan dengan pendekatan visual yang kaya referensi. Inspirasi utama datang dari film-film tahun 1930-an seperti Love Affair (1939), The Double Door (1934), dan The Lost Horizon (1937). Tiap busana membawa kisah dan atmosfer berbeda yang merefleksikan era transisi tersebut.

Pengunjung memotret senarai koleksi Didi Budiardjo, bertajuk If Only di Ballroom Hotel The Langham, Jakarta Pusat, Senin (3/11/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Salah satu karya yang mencuri perhatian terinspirasi dari The Lost Horizon (1937), menampilkan bentuk menyerupai kuil di China dengan detail embroidery, beading, dan bunga epoksi. “Itu bukan mobil, tapi temple,” kata Didi sambil menunjuk pada rancangan berlapis material tulle embroidery dengan hiasan bunga yang dibuat manual.
Koleksi ini juga memadukan unsur flora yang sarat makna simbolik. Tanaman asparagus fern hadir sebagai aksen dalam beberapa karya, mewakili simbol harapan dan ketahanan. Bunga camellia dan gardenia pun menjadi elemen penting, keduanya populer pada era 1920–1930-an dan sering muncul dalam bahasa bunga yang universal.
Palet warna pastel lembut mendominasi keseluruhan koleksi. Nuansa itu terinspirasi dari film hitam putih yang kemudian diwarnai ulang (colorized), menghadirkan kesan nostalgia yang romantis. “Kalau di Love Affair yang di-colorize, warnanya seperti ini,” tutur Didi menjelaskan.
Tak hanya sinema, Didi juga merujuk pada arsitektur modern awal abad ke-20. Beberapa potongan busana menampilkan elemen geometris yang terinspirasi karya arsitek legendaris Frank Lloyd Wright dan gaya Art Deco yang tengah berjaya pada dekade 1930-an.
Bagi Didi, semua inspirasi itu berpadu untuk menyampaikan satu pesan, yakni pentingnya keberanian untuk terus bereksperimen. Dia menegaskan bahwa setiap koleksi tersebut adalah gagasan baru, bukan pengulangan dari ide lama. “Saya tidak ingin menyampaikan gagasan yang usang,” ujarnya tegas.
Selain membawa semangat inovasi, If Only juga menandai langkah baru dalam penyajian karya mode di Indonesia. Format Re-see yang dia terapkan diklaim menjadi yang pertama dilakukan oleh desainer Tanah Air. Meski begitu, Didi tetap rendah hati, “Kalau ada yang mengklaim lebih dulu, saya tidak masalah,” imbuhnya.
Melalui If Only, Didi Budiardjo menunjukkan bahwa mode tak hanya soal keindahan visual, tetapi juga ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Lewat senarai karyanya, Didi menghadirkan pengalaman yang menyentuh, baik secara harfiah dan emosional, sembari mengajak publik untuk melihat mode sebagai bahasa yang terus berevolusi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.