Cerita Busana Viral di Balik Film Sore Terungkap di IdeaFest 2025
02 November 2025 |
17:14 WIB
Di balik setiap karya sinema yang membekas, sering kali ada detail kecil yang diam-diam mencuri perhatian, termasuk pada film Sore: Istri dari Masa Depan. Adalah gaya busana yang berulang kali dipakai sang karakter utama, Sore (Sheila Dara), belakangan viral menjadi ikon fesyen dan memberi keuntungan bagi si mpunya jenama.
Pada film tersebut, Sore tampil dengan gaun sederhana berwarna biru gelap dengan motif bintang yang lembut. Namun siapa sangka, gaun itu bukan sekadar properti film.
Baca juga: Wacana Mindfulness Ala Nusantara Jadi Sorotan di IdeaFest 2025
Creative Director SukkhaCitta Anastasia Setiobudi mengatakan SukkhaCitta merupakan sebuah label slow fashion yang percaya bahwa keindahan bermula dari bumi. Seperti yang diaplikasikan dalam gaun yang dipakai Sore. Gaun tersebut lahir dari tangan para petani, yang bahan utamanya tumbuh di tanah Indonesia dan pewarna alam yang diramu dengan sabar.
“Kenapa farm to closet? Karena memang benar kami memulainya dari tanah,” ujar Ana membicarakan kolaborasi jenama ya dengan film Sore saat hadir dalam diskusi panel di IdeaFest 2025, JCC Senayan, Jakarta, Minggu (2/11/2025).
SukkhaCitta katanya bekerja sama dengan petani dan artisans di berbagai daerah Indonesia untuk menanam kapas serta menghasilkan pewarna alami sendiri. Filosofinya sederhana, setiap helai kain adalah hasil gotong royong antara manusia dan alam.
Berbeda dengan label fesyen yang berawal dari catwalk lalu ke toko, kemudian dipakai. SukkhaCitta justru memulai dari ladang. Setiap produk mereka menempuh perjalanan panjang dari serat kapas yang dipintal, kain yang ditenun, hingga busana yang dirancang dengan nilai keberlanjutan dan empati terhadap lingkungan.
“Jadi kita enggak hanya mungkin beli kainnya dari toko, habis itu kemudian dikonsepkan, dan kemudian dijadikan baju, tapi ya kita memberdayakan juga petani-petani di Indonesia,” tutur Ana.
Awal kolaborasi SukkhaCitta dengan film Sore: Istri dari Masa Depan tidak lepas dari peran sang sutradara Yandy Laurens. Sempat bekerja sama sebelumnya, Yandy dan tim kembali mengajak Sukkacitta terlibat dalam film ini.
Yandy katanya minta tolong dibuatkan gaun untuk karakter Sheila Dara di film ini yang notabene seorang perancang busana. Menariknya, gaun yang akhirnya dipilih mengalami beberapa perubahan dari versi awalnya.
“Dress-nya dasarnya sama, gelap, terus warna bintangnya emas. Terus Mas Yandy request garisnya dihilangkan. Request-nya ditone down sedikit,” cerita Ana.
Kolaborasi ini terbilang membawa dampak besar bagi brand SukkhaCitta. Ana mengakui, sejak film Sore dirilis, kesadaran publik terhadap brand mereka meningkat pesat.
Sebagai slow fashion brand, SukkhaCitta tidak mengantisipasi kondisi ini. Ana menyebut memang pihaknya menyiapkan dress yang serupa dipakai karakter Sore untuk diperjualbelikan, namun siapa sangka, permintaannya cukup besar.
CEO of Cerita Films Paramita Suryana menerangkan busana bukan sekadar pelengkap visual, melainkan bagian dari narasi karakter. Produser film Sore itu menceritakan bahwa dress SukkhaCitta membantu membentuk postur tegap, sesuai dengan karakter Sore yang kuat, tangguh, dan penuh luka.
“The idea of strong and firm itu kita terjemahkan juga. Kita ketemu desain dress SukkaChita ternyata bisa tuh membuat Sheila punya postur kayak gitu,” jelasnya.
Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama antara brand dan film. Bagi Mita, pertemuan SukkhaCitta dan Sore terjadi karena keduanya memiliki visi misi yang sama, melindungi atau menjaga hal-hal yang dicintai.
“Sore kan bagaimana kita mencoba melindungi atau menjaga hal yang kita cintai, hal yang indah gitu ya. Kalau SukkhaCitta mungkin dengan visinya bagaimana melindungi bumi. Ada soul fashion di sana,” ungkap Mita.
Pada film tersebut, Sore tampil dengan gaun sederhana berwarna biru gelap dengan motif bintang yang lembut. Namun siapa sangka, gaun itu bukan sekadar properti film.
Baca juga: Wacana Mindfulness Ala Nusantara Jadi Sorotan di IdeaFest 2025
Creative Director SukkhaCitta Anastasia Setiobudi mengatakan SukkhaCitta merupakan sebuah label slow fashion yang percaya bahwa keindahan bermula dari bumi. Seperti yang diaplikasikan dalam gaun yang dipakai Sore. Gaun tersebut lahir dari tangan para petani, yang bahan utamanya tumbuh di tanah Indonesia dan pewarna alam yang diramu dengan sabar.
“Kenapa farm to closet? Karena memang benar kami memulainya dari tanah,” ujar Ana membicarakan kolaborasi jenama ya dengan film Sore saat hadir dalam diskusi panel di IdeaFest 2025, JCC Senayan, Jakarta, Minggu (2/11/2025).
SukkhaCitta katanya bekerja sama dengan petani dan artisans di berbagai daerah Indonesia untuk menanam kapas serta menghasilkan pewarna alami sendiri. Filosofinya sederhana, setiap helai kain adalah hasil gotong royong antara manusia dan alam.
Berbeda dengan label fesyen yang berawal dari catwalk lalu ke toko, kemudian dipakai. SukkhaCitta justru memulai dari ladang. Setiap produk mereka menempuh perjalanan panjang dari serat kapas yang dipintal, kain yang ditenun, hingga busana yang dirancang dengan nilai keberlanjutan dan empati terhadap lingkungan.
“Jadi kita enggak hanya mungkin beli kainnya dari toko, habis itu kemudian dikonsepkan, dan kemudian dijadikan baju, tapi ya kita memberdayakan juga petani-petani di Indonesia,” tutur Ana.
Awal kolaborasi SukkhaCitta dengan film Sore: Istri dari Masa Depan tidak lepas dari peran sang sutradara Yandy Laurens. Sempat bekerja sama sebelumnya, Yandy dan tim kembali mengajak Sukkacitta terlibat dalam film ini.
Yandy katanya minta tolong dibuatkan gaun untuk karakter Sheila Dara di film ini yang notabene seorang perancang busana. Menariknya, gaun yang akhirnya dipilih mengalami beberapa perubahan dari versi awalnya.
“Dress-nya dasarnya sama, gelap, terus warna bintangnya emas. Terus Mas Yandy request garisnya dihilangkan. Request-nya ditone down sedikit,” cerita Ana.
Kolaborasi ini terbilang membawa dampak besar bagi brand SukkhaCitta. Ana mengakui, sejak film Sore dirilis, kesadaran publik terhadap brand mereka meningkat pesat.
Sebagai slow fashion brand, SukkhaCitta tidak mengantisipasi kondisi ini. Ana menyebut memang pihaknya menyiapkan dress yang serupa dipakai karakter Sore untuk diperjualbelikan, namun siapa sangka, permintaannya cukup besar.

.
“The idea of strong and firm itu kita terjemahkan juga. Kita ketemu desain dress SukkaChita ternyata bisa tuh membuat Sheila punya postur kayak gitu,” jelasnya.
Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama antara brand dan film. Bagi Mita, pertemuan SukkhaCitta dan Sore terjadi karena keduanya memiliki visi misi yang sama, melindungi atau menjaga hal-hal yang dicintai.
“Sore kan bagaimana kita mencoba melindungi atau menjaga hal yang kita cintai, hal yang indah gitu ya. Kalau SukkhaCitta mungkin dengan visinya bagaimana melindungi bumi. Ada soul fashion di sana,” ungkap Mita.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.