Kata Gusti Bhre Soal Tantangan Mengubah Warisan Budaya Jadi IP di IdeaFest 2025
01 November 2025 |
16:36 WIB
Mendefinisikan ulang warisan budaya menjadi intellectual property (IP) yang relevan dan berkelanjutan, bukanlah perkara mudah. Upaya menjaga keaslian budaya sambil menyesuaikannya dengan tuntutan zaman menjadi tantangan besar bagi banyak pelaku budaya.
Melalui paparannya, Pengageng Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X atau Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo membagikan pandangannya tentang bagaimana nilai-nilai budaya dapat diolah menjadi IP tanpa kehilangan autentisitasnya.
Baginya menjaga keaslian bukan berarti mempertahankan bentuk lama secara kaku, melainkan memastikan esensi dan nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Baca juga: Gusti Bhre Ajak Masyarakat Kelola Warisan Budaya Jadi Aset Ekonomi di IdeaFest 2025
“Yang paling penting bagi kami adalah esensinya, yaitu nilai yang terkandung di dalam budaya tersebut,” ujar Gusti Bhre dalam sesi diskusi From Legacy to IP: Redefining Heritage in the Modern Cultural Economy di IdeaFest 2025, Sabtu (1/11/2025).
Dia mencontohkan bagaimana bentuk protokol budaya dalam sejarah Mangkunegaran pernah disederhanakan tanpa menghilangkan esensinya. Misalnya, dalam komunikasi antara seorang jumenang atau pemimpin dan abdi dalem, ada tradisi nyembah atau menunduk hormat yang dilakukan berkali-kali dalam satu percakapan.
“Di masa leluhur saya Mangkunegara VI, protokol menyembah dalam percakapan disederhanakan, cukup di awal dan akhir, tidak perlu setiap kali berbicara. Bentuknya berubah, tapi esensinya yaitu rasa hormat tetap sama,” ujarnya.
Hal serupa terjadi dalam aspek lain, seperti posisi duduk abdi dalem yang dahulu selalu lesehan, lalu bergeser menjadi menggunakan kursi pendek tanpa mengurangi rasa hormat yang mendasarinya.
Bagi Gusti Bhre, keaslian budaya bukanlah perkara mempertahankan bentuk fisik atau simbolik, tetapi memastikan nilai-nilai dasar seperti kesopanan, penghormatan, dan harmoni tetap ada.
Selain itu, pada konteks seni budaya seperti tari, dia menilai inovasi seperti penggunaan video mapping tidak menyalahi pakem selama nilai dan maknanya masih terjaga. Teknologi, baginya, justru dapat menjadi medium baru untuk memperluas jangkauan budaya dan memperkaya pengalaman penonton.
"Intinya bukanlah mengubah semuanya secara total, melainkan menjaga esensi dan nilai-nilai tak berwujud (intangible value) yang menjadi ruh dari budaya itu sendiri," ujarnya.
Sebagai pemimpin muda yang mewarisi tanggung jawab besar atas keberlanjutan Pura Mangkunegaran, Gusti Bhre berkomitmen untuk menempatkan budaya sebagai sesuatu yang hidup, bukan sekadar simbol sejarah. Dia menilai, agar tetap relevan sebuah institusi budaya harus memiliki fungsi yang jelas dan berdampak.
“Sebagai pengampu budaya, tujuan utama saya adalah bagaimana agar Mangkunegaran bisa terus berlanjut, memiliki fungsi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Mangkunegaran aktif menjalin kolaborasi lintas sektor, mulai dari komunitas, swasta, media, hingga perguruan tinggi. Keterlibatan banyak pihak menjadi kunci agar budaya tidak hanya dirawat oleh segelintir orang, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.
Salah satu bentuk kolaborasi yang berkesan adalah kerja sama dengan Sarinah. Pada bulan Suro (pertengahan Juni) lalu, digelar pameran dan pertunjukan selama sebulan penuh yang ditutup dengan pagelaran tari dan wayang.
Antusiasme publik begitu tinggi. Namun dari pengalaman itu, Gusti Bhre melihat perlunya pembaruan dalam cara menampilkan kesenian tradisional. Ketika wayang tampil dalam bentuk tradisional penuh dengan bahasa Jawa dan durasi panjang, energi penonton mulai menurun setelah setengah jam.
Hal tersebut, lanjutnya, menjadi refleksi bahwa bentuk kesenian perlu beradaptasi dengan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai dasarnya. Dia menilai, inovasi seperti wayang dengan video mapping atau animasi adalah langkah positif untuk menjaga minat generasi muda terhadap tradisi.
"Wayang, musik, atau tari pada dasarnya adalah media penyampai pesan yang sama seperti film atau lagu. Bentuknya bisa berevolusi, asalkan nilai-nilainya tetap dijaga," katanya.
Lebih lanjut, Gusti Bhre juga menyadari bahwa kegiatan budaya tidak selalu berorientasi pada keuntungan finansial. Dia membedakan antara kegiatan sakral, hiburan, dan komersial di mana sebagian memang diarahkan untuk bisa memutar roda ekonomi. Namun tetap sejalan dengan visi untuk menjaga nilai dan fungsi budaya.
"Kalau ditanya soal cuan, saya jujur saja memang kegiatan budaya tidak mudah menghasilkan keuntungan besar. Tapi bukan berarti tidak bisa," katanya.
Dia juga menyoroti bagaimana di luar negeri, banyak kota kecil yang mampu menghidupkan kembali budayanya melalui pengelolaan narasi dan dukungan ekonomi yang kuat. Dari sana, dia melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia jika pengelolaan warisan budaya dilakukan secara kolaboratif.
“Saya berpikir, seandainya kekayaan budaya Nusantara bisa diolah dan dikelola bersama, dampaknya akan luar biasa,” tutur Gusti Bhre.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Melalui paparannya, Pengageng Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X atau Gusti Pangeran Haryo (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo membagikan pandangannya tentang bagaimana nilai-nilai budaya dapat diolah menjadi IP tanpa kehilangan autentisitasnya.
Baginya menjaga keaslian bukan berarti mempertahankan bentuk lama secara kaku, melainkan memastikan esensi dan nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Baca juga: Gusti Bhre Ajak Masyarakat Kelola Warisan Budaya Jadi Aset Ekonomi di IdeaFest 2025
“Yang paling penting bagi kami adalah esensinya, yaitu nilai yang terkandung di dalam budaya tersebut,” ujar Gusti Bhre dalam sesi diskusi From Legacy to IP: Redefining Heritage in the Modern Cultural Economy di IdeaFest 2025, Sabtu (1/11/2025).
Dia mencontohkan bagaimana bentuk protokol budaya dalam sejarah Mangkunegaran pernah disederhanakan tanpa menghilangkan esensinya. Misalnya, dalam komunikasi antara seorang jumenang atau pemimpin dan abdi dalem, ada tradisi nyembah atau menunduk hormat yang dilakukan berkali-kali dalam satu percakapan.
“Di masa leluhur saya Mangkunegara VI, protokol menyembah dalam percakapan disederhanakan, cukup di awal dan akhir, tidak perlu setiap kali berbicara. Bentuknya berubah, tapi esensinya yaitu rasa hormat tetap sama,” ujarnya.
Hal serupa terjadi dalam aspek lain, seperti posisi duduk abdi dalem yang dahulu selalu lesehan, lalu bergeser menjadi menggunakan kursi pendek tanpa mengurangi rasa hormat yang mendasarinya.
Bagi Gusti Bhre, keaslian budaya bukanlah perkara mempertahankan bentuk fisik atau simbolik, tetapi memastikan nilai-nilai dasar seperti kesopanan, penghormatan, dan harmoni tetap ada.
Selain itu, pada konteks seni budaya seperti tari, dia menilai inovasi seperti penggunaan video mapping tidak menyalahi pakem selama nilai dan maknanya masih terjaga. Teknologi, baginya, justru dapat menjadi medium baru untuk memperluas jangkauan budaya dan memperkaya pengalaman penonton.
"Intinya bukanlah mengubah semuanya secara total, melainkan menjaga esensi dan nilai-nilai tak berwujud (intangible value) yang menjadi ruh dari budaya itu sendiri," ujarnya.
Sebagai pemimpin muda yang mewarisi tanggung jawab besar atas keberlanjutan Pura Mangkunegaran, Gusti Bhre berkomitmen untuk menempatkan budaya sebagai sesuatu yang hidup, bukan sekadar simbol sejarah. Dia menilai, agar tetap relevan sebuah institusi budaya harus memiliki fungsi yang jelas dan berdampak.
“Sebagai pengampu budaya, tujuan utama saya adalah bagaimana agar Mangkunegaran bisa terus berlanjut, memiliki fungsi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Mangkunegaran aktif menjalin kolaborasi lintas sektor, mulai dari komunitas, swasta, media, hingga perguruan tinggi. Keterlibatan banyak pihak menjadi kunci agar budaya tidak hanya dirawat oleh segelintir orang, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.
Salah satu bentuk kolaborasi yang berkesan adalah kerja sama dengan Sarinah. Pada bulan Suro (pertengahan Juni) lalu, digelar pameran dan pertunjukan selama sebulan penuh yang ditutup dengan pagelaran tari dan wayang.
Antusiasme publik begitu tinggi. Namun dari pengalaman itu, Gusti Bhre melihat perlunya pembaruan dalam cara menampilkan kesenian tradisional. Ketika wayang tampil dalam bentuk tradisional penuh dengan bahasa Jawa dan durasi panjang, energi penonton mulai menurun setelah setengah jam.
Hal tersebut, lanjutnya, menjadi refleksi bahwa bentuk kesenian perlu beradaptasi dengan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai dasarnya. Dia menilai, inovasi seperti wayang dengan video mapping atau animasi adalah langkah positif untuk menjaga minat generasi muda terhadap tradisi.
"Wayang, musik, atau tari pada dasarnya adalah media penyampai pesan yang sama seperti film atau lagu. Bentuknya bisa berevolusi, asalkan nilai-nilainya tetap dijaga," katanya.
Lebih lanjut, Gusti Bhre juga menyadari bahwa kegiatan budaya tidak selalu berorientasi pada keuntungan finansial. Dia membedakan antara kegiatan sakral, hiburan, dan komersial di mana sebagian memang diarahkan untuk bisa memutar roda ekonomi. Namun tetap sejalan dengan visi untuk menjaga nilai dan fungsi budaya.
"Kalau ditanya soal cuan, saya jujur saja memang kegiatan budaya tidak mudah menghasilkan keuntungan besar. Tapi bukan berarti tidak bisa," katanya.
Dia juga menyoroti bagaimana di luar negeri, banyak kota kecil yang mampu menghidupkan kembali budayanya melalui pengelolaan narasi dan dukungan ekonomi yang kuat. Dari sana, dia melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia jika pengelolaan warisan budaya dilakukan secara kolaboratif.
“Saya berpikir, seandainya kekayaan budaya Nusantara bisa diolah dan dikelola bersama, dampaknya akan luar biasa,” tutur Gusti Bhre.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.