(Sumber foto: Bureau of the Royal Household)

Fakta Menarik Ratu Sirikit, Sosok di Balik Takhta Raja Bhumibol Adulyadej

30 October 2025   |   20:30 WIB
Image
Aira Shakuntala Wardhana Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Masyarakat Thailand tengah berduka. Ratu Sirikit Kitiyakara, sosok yang selama lebih dari enam dekade menjadi simbol keanggunan dan ketulusan bagi rakyatnya, meninggal dunia dengan tenang pada usia 93 tahun. Bagi masyarakat negeri Gajah Putih, dia bukan sekadar permaisuri Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), melainkan figur ibu bangsa yang menjembatani istana dengan rakyat di pelosok desa.

Baca juga: Belajar dari Thailand, Saatnya Indonesia Serius Kelola Wisata Sejarah

Warisan pengabdiannya melampaui batas politik dan zaman, dari pelestarian sutra tradisional, pemberdayaan perempuan, hingga semangat cinta tanpa pamrih yang mengakar kuat dalam kehidupan sosial Thailand modern.


1. Wafat di Usia 93 Tahun

Ratu Sirikit meninggal dunia dengan damai pada 24 Oktober 2025 di Rumah Sakit Chulalongkorn, Bangkok, setelah beberapa tahun menjalani perawatan intensif. Menurut keterangan resmi Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand, dia telah dirawat sejak 2019 karena sejumlah komplikasi kesehatan, termasuk infeksi darah yang dideritanya pada Oktober ini.

Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama satu tahun dan pengibaran bendera setengah tiang selama 30 hari di seluruh negeri.


2. Permaisuri dengan Masa Jabatan Terlama di Dunia

Ratu Sirikit mendampingi Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) selama 66 tahun, menjadikannya ratu permaisuri dengan masa jabatan terlama di dunia pada saat kematiannya. Sejak menikah pada 1950 hingga wafatnya sang raja pada 2016, dia senantiasa menemani Bhumibol dalam setiap kunjungan kerja dan kegiatan sosial. Setelah Raja Bhumibol wafat, gelarnya berubah menjadi Ratu Ibu (Queen Mother), menegaskan posisinya sebagai sosok pengayom bagi kerajaan dan rakyat.


3. Lahir dari Keluarga Bangsawan Dinasti Chakri

Dia lahir di Bangkok pada 12 Agustus 1932, dari pasangan Pangeran Nakkhatra Mangala Kitiyakara dan Mom Luang Bua Kitiyakara. Keluarganya masih berasal dari garis keturunan Dinasti Chakri, yang telah memerintah Thailand sejak abad ke-18. Tahun kelahirannya bertepatan dengan peralihan Thailand dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional, periode yang menandai lahirnya tatanan politik modern di negara itu.


4. Cinta yang Bersemi di Paris

Pertemuan antara Sirikit dan Raja Bhumibol berawal di Paris ketika ayahnya bertugas sebagai Duta Besar Thailand untuk Prancis. Ketika Bhumibol mengalami kecelakaan mobil di Prancis, Sirikit mendampinginya selama masa pemulihan di Swiss.

Kedekatan itu berkembang menjadi cinta yang akhirnya berlabuh pada pernikahan mereka pada 28 April 1950, seminggu sebelum penobatan Raja Bhumibol sebagai Raja Rama IX.
Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai empat anak: Putri Ubolratana, Raja Maha Vajiralongkorn, Putri Maha Chakri Sirindhorn, dan Putri Chulabhorn.

Pada 1956, ketika Bhumibol menjalani ordinasinya sebagai biksu, dia ditunjuk sebagai Pemangku Takhta (Queen Regent), sebuah kehormatan langka bagi seorang perempuan dalam sejarah monarki Thailand.


5. Ibu Bangsa dan Penjaga Tradisi

Ratu Sirikit dikenal sebagai sosok yang berkomitmen tinggi terhadap rakyat pedesaan. Dia mendirikan Foundation for the Promotion of Supplementary Occupations (SUPPORT Foundation) untuk memberdayakan perempuan dan melestarikan kerajinan tradisional seperti tenun sutra, bordir, dan anyaman bambu.

Melalui inisiatif itu, ratusan komunitas pengrajin di seluruh Thailand mampu meningkatkan taraf hidup tanpa meninggalkan warisan budaya. Kontribusinya dalam menghidupkan industri sutra lokal juga mendapat pengakuan internasional. Sejak 1976, hari ulang tahunnya ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional Thailand, simbol penghormatan rakyat kepada figur keibuan yang melekat pada dirinya.


6. Warisan Cinta dan Pengabdian

Dalam berbagai kesempatan, Ratu Sirikit menyampaikan pandangan mendalam tentang makna melayani.
Salah satu ucapannya yang terkenal adalah: “Untuk memberi, bukan untuk mengambil; untuk mencintai, itulah alasan mengapa suami dan saya dapat bekerja, tahun demi tahun, hari demi hari.” Kutipan itu masih sering disebut sebagai warisan moral kerajaan yang menekankan ketulusan dan pengabdian tanpa pamrih.

SEBELUMNYA

5 Tempat Wisata yang Sebaiknya Dihindari Saat Musim Penghujan

BERIKUTNYA

Sering Disalahartikan, Ini Perbedaan Oat dan Gandum untuk Mulai Hidup Sehat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga