Dampak Kebanyakan Scrolling Media Sosial Bagi Kesehatan Mental, Begini kata Dokter
27 October 2025 |
15:03 WIB
Bagi banyak orang, scrolling media sosial kini telah menjadi semacam hobi baru untuk mengisi waktu senggang. Aktivitas ini juga sering dianggap sebagai cara instan bagi banyak orang untuk sejenak melepaskan penat dan mencari hiburan singkat di tengah padatnya rutinitas.
Menurut laporan We Are Social, rata-rata, orang Indonesia menghabiskan sekitar 188 menit atau lebih dari tiga jam setiap harinya untuk berselancar di berbagai platform media sosial. Kendati demikian, meski scrolling sekilas tampak seperti bentuk healing yang mudah dan instan, benarkah kegiatan ini punya dampak baik yang dicari?
Dokter RS Kramat 128, Muhammad Fatcurrahman Azami, menjelaskan bahwa secara alami otak manusia memang mencari kesenangan ketika merasa stres atau jenuh dengan rutinitas. Tidak mengherankan jika banyak orang kemudian mencari pelarian lewat media sosial.
Sebab, media sosial memang kerap kali menawarkan sensasi hiburan yang tampak tak berujung, dari sekadar video lucu hingga konten inspiratif yang memancing dopamin.
Baca juga: Kenali Bahaya Doomscrolling Untuk Kesehatan Mental dan Cara Menghentikannya
Namun, media sosial juga menyimpan sisi lain yang perlu diwaspadai. Ketika scrolling menjadi kebiasaan tanpa batas, aktivitas yang awalnya menenangkan bisa sebaliknya. dokter Fatcurrahman mengatakan menikmati media sosial sah-sah saja, asalkan dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan.
"Selama dilakukan positif dan tidak berlebihan tidak apa-apa sebenarnya. Cuman, faktanya hari ini kebanyakan scrolling itu berlebihan. Bahkan, itu bisa membuat brain rot ya ya belakangan lagi banyak disorot juga," ungkapnya.
"Brain rot" adalah istilah informal untuk penurunan fungsi kognitif akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang dangkal dan berulang, seperti video pendek atau scrolling media sosial. Alih-alih mengurangi rasa stres, banyak penelitian menyebutkan scrolling media sosial justru lebih banyak menimbulkan dampak negatif.
Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah menurunnya fokus dan kemampuan atensi. Otak yang terus dibanjiri rangsangan cepat akhirnya kehilangan kemampuan untuk bertahan lama pada satu hal. Akibatnya, konsentrasi mudah buyar bahkan saat melakukan pekerjaan sederhana yang membutuhkan perhatian penuh.
Kebiasaan ini juga melatih otak untuk hanya merespons hal-hal yang singkat dan menarik secara instan. Saat berhadapan dengan kegiatan yang membutuhkan waktu dan kesabaran, seperti membaca buku, belajar, atau bekerja, seseorang bisa saja menjadi tak kuat dan jadi cepat bosan.
Sebab, scrolling berlebihan membuat otak terbiasa pada pola hiburan yang terus berubah dan tidak memberi ruang untuk berpikir mendalam. Selain itu, kebiasaan scrolling berlebihan bisa memicu peningkatan dopamin yang tidak sehat, dan dapat memicu kecanduan. Fenomena ini dikenal sebagai "jebakan dopamin" atau "lingkaran dopamin".
Ketidakpastian mengenai konten apa yang akan muncul selanjutnya membuat seseorang terus scrolling. Otak dilatih untuk mengantisipasi sensasi menyenangkan berikutnya. Jika tidak ada, jari seolah akan otomatis untuk scrolling demi bertemu sensasi tersebut.
"Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat seseorang terus mencari sensasi serupa, hingga tanpa sadar menjadi kecanduan untuk terus scrolling demi mendapatkan “rasa senang” berikutnya," imbuhnya.
Karena itu, menjadikan scrolling sebagai cara utama untuk mengatasi stres bukanlah pilihan yang sehat. Banyak orang justru terjebak di dalamnya dan mengalami dampak negatif terhadap keseimbangan emosi serta kemampuan berpikirnya. Alih-alih membantu, kebiasaan ini malah bisa membuat pikiran semakin lelah dan sulit benar-benar beristirahat.
Oleh karena itu, menjadikan scrolling sebagai cara utama untuk mengatasi stres bukanlah pilihan yang sehat. Alih-alih membantu, kebiasaan ini malah bisa membuat pikiran semakin lelah dan sulit benar-benar beristirahat.
Baca juga: Mengenal Gejala Digital Fatigue Akibat Terlalu Lama Menatap Layar Gadget
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut laporan We Are Social, rata-rata, orang Indonesia menghabiskan sekitar 188 menit atau lebih dari tiga jam setiap harinya untuk berselancar di berbagai platform media sosial. Kendati demikian, meski scrolling sekilas tampak seperti bentuk healing yang mudah dan instan, benarkah kegiatan ini punya dampak baik yang dicari?
Dokter RS Kramat 128, Muhammad Fatcurrahman Azami, menjelaskan bahwa secara alami otak manusia memang mencari kesenangan ketika merasa stres atau jenuh dengan rutinitas. Tidak mengherankan jika banyak orang kemudian mencari pelarian lewat media sosial.
Sebab, media sosial memang kerap kali menawarkan sensasi hiburan yang tampak tak berujung, dari sekadar video lucu hingga konten inspiratif yang memancing dopamin.
Baca juga: Kenali Bahaya Doomscrolling Untuk Kesehatan Mental dan Cara Menghentikannya
Namun, media sosial juga menyimpan sisi lain yang perlu diwaspadai. Ketika scrolling menjadi kebiasaan tanpa batas, aktivitas yang awalnya menenangkan bisa sebaliknya. dokter Fatcurrahman mengatakan menikmati media sosial sah-sah saja, asalkan dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan.
"Selama dilakukan positif dan tidak berlebihan tidak apa-apa sebenarnya. Cuman, faktanya hari ini kebanyakan scrolling itu berlebihan. Bahkan, itu bisa membuat brain rot ya ya belakangan lagi banyak disorot juga," ungkapnya.
"Brain rot" adalah istilah informal untuk penurunan fungsi kognitif akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang dangkal dan berulang, seperti video pendek atau scrolling media sosial. Alih-alih mengurangi rasa stres, banyak penelitian menyebutkan scrolling media sosial justru lebih banyak menimbulkan dampak negatif.
Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah menurunnya fokus dan kemampuan atensi. Otak yang terus dibanjiri rangsangan cepat akhirnya kehilangan kemampuan untuk bertahan lama pada satu hal. Akibatnya, konsentrasi mudah buyar bahkan saat melakukan pekerjaan sederhana yang membutuhkan perhatian penuh.
Kebiasaan ini juga melatih otak untuk hanya merespons hal-hal yang singkat dan menarik secara instan. Saat berhadapan dengan kegiatan yang membutuhkan waktu dan kesabaran, seperti membaca buku, belajar, atau bekerja, seseorang bisa saja menjadi tak kuat dan jadi cepat bosan.
Sebab, scrolling berlebihan membuat otak terbiasa pada pola hiburan yang terus berubah dan tidak memberi ruang untuk berpikir mendalam. Selain itu, kebiasaan scrolling berlebihan bisa memicu peningkatan dopamin yang tidak sehat, dan dapat memicu kecanduan. Fenomena ini dikenal sebagai "jebakan dopamin" atau "lingkaran dopamin".
Ketidakpastian mengenai konten apa yang akan muncul selanjutnya membuat seseorang terus scrolling. Otak dilatih untuk mengantisipasi sensasi menyenangkan berikutnya. Jika tidak ada, jari seolah akan otomatis untuk scrolling demi bertemu sensasi tersebut.
"Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat seseorang terus mencari sensasi serupa, hingga tanpa sadar menjadi kecanduan untuk terus scrolling demi mendapatkan “rasa senang” berikutnya," imbuhnya.
Karena itu, menjadikan scrolling sebagai cara utama untuk mengatasi stres bukanlah pilihan yang sehat. Banyak orang justru terjebak di dalamnya dan mengalami dampak negatif terhadap keseimbangan emosi serta kemampuan berpikirnya. Alih-alih membantu, kebiasaan ini malah bisa membuat pikiran semakin lelah dan sulit benar-benar beristirahat.
Oleh karena itu, menjadikan scrolling sebagai cara utama untuk mengatasi stres bukanlah pilihan yang sehat. Alih-alih membantu, kebiasaan ini malah bisa membuat pikiran semakin lelah dan sulit benar-benar beristirahat.
Baca juga: Mengenal Gejala Digital Fatigue Akibat Terlalu Lama Menatap Layar Gadget
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.