Sutradara Upie Guava dalam agenda Konferensi Pers myBCA Indonesia Comic Con x Indonesia Anime Con 2025. (Sumber gambar: Dok. ICC x INACON)

Cerita Upie Guava Tentang Pelangi di Mars, Eksperimen Gila Film Fiksi Ilmiah Lokal

22 October 2025   |   16:32 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Film Pelangi di Mars karya sutradara Upie Guava akan menjadi salah satu proyek yang tampil di Indonesia Comic Con x Indonesia Anime Con 2025. Karya bernuansa galaksi ini menandai upaya besar perfilman Indonesia dalam menjelajahi genre fiksi ilmiah, dengan visual yang menjanjikan dan semangat eksplorasi yang kuat.

Upie mengungkapkan bahwa film ini lahir dari proses panjang selama lima tahun, sebuah perjalanan yang dipenuhi tantangan, mulai dari keterbatasan dana, eksperimen teknologi, hingga pencarian formula paling realistis untuk mewujudkan kisah antariksa versi Indonesia. Ia dan timnya terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan pasar, berupaya menunjukkan bahwa mimpi besar juga bisa diwujudkan dari tanah air.

Baca juga: Teknologi Canggih di Balik Pembuatan Film Sci-Fi Pelangi di Mars Karya Upie Guava

Ide awal Pelangi di Mars sendiri berakar dari kenangan masa kecil Upie yang dipenuhi imajinasi menjadi penjelajah dan ilmuwan luar angkasa. Menurutnya, cita-cita seperti itu kini semakin jarang diwariskan kepada generasi muda, dan lewat film ini, ia ingin menyalakan kembali rasa ingin tahu, keberanian bermimpi, dan semangat eksplorasi yang pernah begitu hidup di benak anak-anak Indonesia.

“Saya dulu kecil pengen jadi astronot, pengen jadi petualang, pengen menjelajah luar akasa, pengen jadi saintis,” ujarnya. Namun, Upie merasa mimpi-mimpi itu makin samar di kalangan anak masa kini.

Dari keresahan itu lahirlah Pelangi di Mars, sebuah kisah tentang anak bernama Pelangi yang melakukan ekspedisi ke Planet Mars pada tahun 2100 untuk mencari mineral mitos yang diyakini dapat memurnikan kembali bumi yang telah dipenuhi polusi. Dalam perjalanannya, Pelangi harus menghadapi persaingan dengan robot-robot dari berbagai negara lain yang juga mengejar tujuan serupa.

Upie mengungkapkan bahwa proses menuju film ini tidak mudah. Proyek tersebut dimulai tanpa modal besar, tanpa dukungan institusi, dan tanpa koneksi luas di industri film. Namun, semangat untuk menciptakan karya bertema penjelajahan luar angkasa perlahan mempertemukannya dengan orang-orang yang mau berkolaborasi.

Tantangan terbesar muncul pada aspek produksi. Sebab, film bergenre fiksi ilmiah menuntut biaya tinggi serta penggunaan teknologi tingkat lanjut.

“Kami membuat studio berbasis virtual production, XR studio, dengan teknologi yang sama yang dipakai oleh seri The Mandalorian,” jelas Upie.

Selama masa pandemi, tim Pelangi di Mars justru memanfaatkan waktu untuk membangun pondasi teknologinya terlebih dahulu. Mereka membuat fasilitas sendiri yang disebut Upie sebagai pabrik berupa studio berbasis virtual production. Dari studio inilah film ini mulai menemukan bentuknya dan membuka jalan baru untuk produksi film fiksi ilmiah lokal dengan efisiensi yang lebih tinggi.

Kini, dengan kerja keras yang telah ditempuh, Pelangi di Mars siap diperkenalkan kepada publik di ajang Indonesia Comic Con x Indonesia Anime Con 2025. Upie menyebut momen tersebut sebagai pencapaian pribadi yang sangat berarti.

“Hari ini membanggakan buat saya, bisa menjadi bagian dari Indonesia Comic Con. Dari dulu saya pengen banget kalau bikin sesuatu, saya mau ada di Indonesia Comic Con,” tuturnya.

Melalui film ini, Upie berharap generasi muda Indonesia dapat kembali menyalakan imajinasi mereka untuk menjadi penjelajah, pencipta, dan pembangun masa depan yang lebih luas dan tidak terbatas profesi dari layar digital saja.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Colman Domingo Jadi Cowardly Lion di Film Sekuel Wicked: For Good

BERIKUTNYA

Transaksi Digital Indonesia Tembus US$90 Miliar, Komdigi Atur Strategi Kolaborasi & Investasi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga