Legenda Aceh Menuju Layar Dunia, Kementerian Ekraf Dukung Proyek Animasi Malahayati
21 October 2025 |
14:30 WIB
Kisah Laksamana Keumalahayati, perempuan tangguh asal Aceh yang disebut sebagai laksamana perempuan pertama di dunia akan segera dihidupkan kembali dalam bentuk film animasi. Proyek bertajuk Malahayati ini dipersiapkan untuk menembus pasar internasional melalui kolaborasi Brown Bag Films (sebelumnya bernama BASE), Temotion (PT Tempo Kreasi Animasi), serta Kedutaan Besar Turki.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya yang menilai animasi sebagai sektor strategis dalam 5 tahun ke depan. “Animasi merupakan salah satu subsektor prioritas yang diamanatkan Presiden Prabowo untuk dikembangkan dalam 5 tahun ke depan. Melalui klaster program seperti Sinergi Ekraf, kami bisa dorong kolaborasi film animasi Malahayati dengan Dubes Turki untuk memperluas eksposur dan membuka peluang investasi global," kata Teuku.
Selain itu, Teuku menyebut, Kementerian Ekraf juga bisa mengkolaborasikan proyek ini dengan asosiasi voice over untuk mengkurasi pengisi suara agar kualitas film bisa makin optimal.
Baca Juga: Jadi Simbol Kemaritiman, Marcella Zalianty Ingin Kenalkan Sosok Laksamana Malahayati Lewat Medium Seni
Menurut Teuku Riefky, kekayaan budaya dan sejarah Indonesia bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dimulai dari daerah. Dia menekankan peran kementeriannya dalam membantu proses komersialisasi kekayaan intelektual yang lahir dari kearifan lokal.
“Setiap daerah di Indonesia menyimpan kisah sejarah dan pahlawan yang luar biasa, termasuk Aceh dengan beragam legenda dan tokoh perjuangannya. Peran kami adalah memfasilitasi agar kekayaan cerita ini dapat dikembangkan dan dikomersialisasi melalui karya kreatif seperti film, komik, atau gim?" imbuhnya.
Dalam pandangannya, film animasi Malahayati membuktikan bahwa ketika storytelling yang kuat dikemas menjadi karya kreatif yang berkualitas, sejarah bisa dihidupkan kembali dan bisa menjadi kekayaan intelektual bernilai ekonomi tinggi.
Sebagai yang memproduksi animasi, Studio Brown Bag Films telah menapaki perjalanan panjang sejak berdiri pada 2015. Setelah rebranding pada 2019 dan menjadi bagian dari Scholastic Inc. pada 2024, studio ini kini mempekerjakan lebih dari 320 profesional yang sebagian besar adalah talenta lokal asal Bali.
Melalui film Malahayati, studio tersebut ingin memperkenalkan keberanian, kepemimpinan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia. Berbagai unsur budaya seperti Tari Saman dan Pencak Silat akan turut dihadirkan yang sejalan dengan upaya mempererat hubungan sejarah antara Indonesia dan Turki.
Komitmen jangka panjang Brown Bag Films juga diwujudkan lewat proyek Integrated Indonesian Animation, sebuah inisiatif ambisius untuk memproduksi sepuluh film layar lebar dalam sepuluh tahun.
“Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia lewat 10 film yang masing-masing merepresentasikan karakter dan kisah dari berbagai provinsi. Misalnya, Malahayati dari Aceh yang mengangkat semangat kepahlawanan, lalu dari Bali ada karakter ‘Wayan’ yang menggambarkan keseimbangan alam dan kearifan lokal," kata Executive and Business Strategy Manager Brown Bag Films Sigit Eko Prabowo.
Selain itu, Sigit mengatakan? Brown Bag Films juga akan mengangkat karakter-karakter dari hewan endemik Nusantara sebagai bagian dari pengembangan IP Indonesia yang berdaya saing global.
Dari sisi daerah, dukungan kuat datang juga dari Pemerintah Aceh. Staf Ahli Gubernur Aceh Almuniza Kamal melihat film ini sebagai momentum penting untuk memperkenalkan kembali kisah heroik asal Tanah Rencong kepada generasi baru.
“Kami sangat mendukung pengembangan film animasi Malahayati karena membawa nama dan semangat Aceh ke tingkat nasional maupun global. Ke depan, kami berharap dapat berkolaborasi dalam kegiatan peluncurannya serta menjajaki kerja sama yang mempererat hubungan antara Indonesia dan Turki, mengingat Aceh dan Turki memiliki ikatan sejarah yang kuat,” tutur Almuniza.
Kombinasi kekuatan narasi sejarah, teknologi animasi modern, dan jejaring kolaborasi internasional diharapkan bisa menjadi langkah besar bagi industri animasi Indonesia dalam menjajaki panggung global.
Baca Juga: Juri FFI Pastikan Animasi Bisa Masuk Kategori Film Cerita Panjang Terbaik
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya yang menilai animasi sebagai sektor strategis dalam 5 tahun ke depan. “Animasi merupakan salah satu subsektor prioritas yang diamanatkan Presiden Prabowo untuk dikembangkan dalam 5 tahun ke depan. Melalui klaster program seperti Sinergi Ekraf, kami bisa dorong kolaborasi film animasi Malahayati dengan Dubes Turki untuk memperluas eksposur dan membuka peluang investasi global," kata Teuku.
Selain itu, Teuku menyebut, Kementerian Ekraf juga bisa mengkolaborasikan proyek ini dengan asosiasi voice over untuk mengkurasi pengisi suara agar kualitas film bisa makin optimal.
Baca Juga: Jadi Simbol Kemaritiman, Marcella Zalianty Ingin Kenalkan Sosok Laksamana Malahayati Lewat Medium Seni
Menurut Teuku Riefky, kekayaan budaya dan sejarah Indonesia bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dimulai dari daerah. Dia menekankan peran kementeriannya dalam membantu proses komersialisasi kekayaan intelektual yang lahir dari kearifan lokal.
“Setiap daerah di Indonesia menyimpan kisah sejarah dan pahlawan yang luar biasa, termasuk Aceh dengan beragam legenda dan tokoh perjuangannya. Peran kami adalah memfasilitasi agar kekayaan cerita ini dapat dikembangkan dan dikomersialisasi melalui karya kreatif seperti film, komik, atau gim?" imbuhnya.
Dalam pandangannya, film animasi Malahayati membuktikan bahwa ketika storytelling yang kuat dikemas menjadi karya kreatif yang berkualitas, sejarah bisa dihidupkan kembali dan bisa menjadi kekayaan intelektual bernilai ekonomi tinggi.
Sebagai yang memproduksi animasi, Studio Brown Bag Films telah menapaki perjalanan panjang sejak berdiri pada 2015. Setelah rebranding pada 2019 dan menjadi bagian dari Scholastic Inc. pada 2024, studio ini kini mempekerjakan lebih dari 320 profesional yang sebagian besar adalah talenta lokal asal Bali.
Melalui film Malahayati, studio tersebut ingin memperkenalkan keberanian, kepemimpinan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia. Berbagai unsur budaya seperti Tari Saman dan Pencak Silat akan turut dihadirkan yang sejalan dengan upaya mempererat hubungan sejarah antara Indonesia dan Turki.
Komitmen jangka panjang Brown Bag Films juga diwujudkan lewat proyek Integrated Indonesian Animation, sebuah inisiatif ambisius untuk memproduksi sepuluh film layar lebar dalam sepuluh tahun.
“Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia lewat 10 film yang masing-masing merepresentasikan karakter dan kisah dari berbagai provinsi. Misalnya, Malahayati dari Aceh yang mengangkat semangat kepahlawanan, lalu dari Bali ada karakter ‘Wayan’ yang menggambarkan keseimbangan alam dan kearifan lokal," kata Executive and Business Strategy Manager Brown Bag Films Sigit Eko Prabowo.
Selain itu, Sigit mengatakan? Brown Bag Films juga akan mengangkat karakter-karakter dari hewan endemik Nusantara sebagai bagian dari pengembangan IP Indonesia yang berdaya saing global.
Dari sisi daerah, dukungan kuat datang juga dari Pemerintah Aceh. Staf Ahli Gubernur Aceh Almuniza Kamal melihat film ini sebagai momentum penting untuk memperkenalkan kembali kisah heroik asal Tanah Rencong kepada generasi baru.
“Kami sangat mendukung pengembangan film animasi Malahayati karena membawa nama dan semangat Aceh ke tingkat nasional maupun global. Ke depan, kami berharap dapat berkolaborasi dalam kegiatan peluncurannya serta menjajaki kerja sama yang mempererat hubungan antara Indonesia dan Turki, mengingat Aceh dan Turki memiliki ikatan sejarah yang kuat,” tutur Almuniza.
Kombinasi kekuatan narasi sejarah, teknologi animasi modern, dan jejaring kolaborasi internasional diharapkan bisa menjadi langkah besar bagi industri animasi Indonesia dalam menjajaki panggung global.
Baca Juga: Juri FFI Pastikan Animasi Bisa Masuk Kategori Film Cerita Panjang Terbaik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.