That’s A Lexus Moment ajak orang tua untuk hadir secara emosional saat bersama anak (sumber : Lexus)

Melihat, Mendengar, dan Mencintai: Tiga Kunci Pengasuhan yang Bermakna

18 October 2025   |   07:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah kesibukan masyarakat modern yang serba cepat, banyak orang tua berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun, tak jarang orang tua melupakan satu hal penting, yakni kehadiran secara emosional di hadapan anak-anak mereka.

Psikolog Anak dan Praktisi Therapeutic Play, Dr. Anastasia Satriyo mengatakan, anak-anak dapat tumbuh kuat bukan hanya karena dipenuhi kebutuhannya, tetapi karena mereka merasa dilihat, dihargai, dan dicintai, bahkan dalam momen yang tampak sederhana sekalipun.

Baca juga: Mengasuh Anak pada Era Digital Butuh Cara Berbeda, Begini Kata Psikolog

“Justru di sinilah kekuatan pengasuhan reflektif bekerja. Kita mengubah rutinitas menjadi ruang emosional yang aman untuk membangun hubungan dan jati diri anak,” ujarnya.

Dalam pendekatan therapeutic play, Dr. Anastasia melihat bahwa simbol-simbol kecil seperti kartu peran atau camilan kesukaan anak bisa menjadi jembatan komunikasi yang kuat antara orang tua dan anak.

“Orang tua harus menghadirkan kehadiran yang utuh dalam interaksi sederhana sehari-hari bersama anak sehingga anak dapat menerima afirmasi verbal, merasakan kehangatan emosional, serta mengenali peran positif mereka dalam lingkungan keluarga,” tuturnya.

Anastasia mencontohkan ketika anak mampu berkata, “Hari ini aku jadi penolong!” dan orang tua merespons dengan tulus, “Ibu melihatmu, Nak. Terima kasih sudah jadi bagian penting keluarga ini,” maka kepercayaan diri dan rasa aman anak pun tumbuh bersamaan.

Rachmawati Sutarto, Marketing Director URC Indonesia, mengatakan bahwa momen sederhana seperti saat ngemil bersama dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menumbuhkan rutinitas yang membantu anak mengenali dan merayakan peran positif mereka dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui That’s A Lexus Moment kami ingin mengajak orang tua untuk mengubah waktu ngemil menjadi ritual emosional yang bermakna,” tuturnya.

Ia menjelaskan, langkah ini bisa dimulai dengan membiasakan diri untuk menyadari dan mengakui peran positif anak setiap hari, baik saat mereka menjadi penolong yang penuh empati, penjelajah dengan rasa ingin tahu tinggi, maupun teman yang hangat bagi orang lain.

Rachmawati menambahkan, proses tersebut kemudian berkembang menjadi fase bonding emosional, di mana waktu ngemil berubah menjadi ruang aman bagi orang tua dan anak untuk saling bercerita, mendengar, serta membangun pemahaman yang lebih dalam satu sama lain.

Tahap terakhir adalah saat orang tua diajak merayakan peran positif anak dengan apresiasi tulus. Momen sederhana ini tidak hanya menumbuhkan rasa bangga, tetapi juga membantu anak membangun kepercayaan diri, empati, dan pemahaman tentang makna diri.

“Dengan cara ini, waktu ngemil yang sederhana pun bisa menjadi kenangan emosional yang bertahan lama, membentuk anak yang merasa dilihat, dihargai, dan dicintai sebagai fondasi penting bagi tumbuh kembangnya,” ujar Rachmawati.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

5 Cara Menjaga Keseimbangan Fisik dan Finansial di Tengah Hidup Urban

BERIKUTNYA

Inovasi 3 Siswa Jakarta Ubah Limbah Makanan Jadi Pakan Unggas Ramah Lingkungan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga