Sutradara Anggi Frisca. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)

Inspirasi & Pesan Pemberdayaan Anggi Frisca lewat Film Tegar

13 October 2025   |   15:20 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Tak banyak film anak Indonesia yang bisa tembus ke kancah global serta mendapat berbagai penghargaan di festival film internasional. Namun, prestasi itu diraih oleh Tegar, film anak penyandang disabilitas garapan sutradara Anggi Frisca.

Meski telah dirilis sejak tahun 2022, film Tegar masih banjir apresiasi dari berbagai dunia. Film besutan rumah produksi Aksa Bumi Langit ini telah tampil dan menginspirasi dunia di lebih dari 20 festival internasional di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, Jepang, Italia, hingga China.

Baca juga: Mengurai Tantangan & Skenario Distribusi Film di Indonesia

Tak hanya tampil, film Tegar juga telah meraih lebih dari 15 penghargaan internasional termasuk Best Film, Best Actor, dan Best Director. Pada akhir tahun 2025, film ini juga akan tampil di festival film anak di Beijing, China dan Turki.

Seperti judulnya, film Tegar berkisah tentang seorang anak penyandang disabilitas berusia 10 tahun bernama Tegar (diperankan oleh M. Aldifi Tegarajasa), yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Ayah Tegar pergi meninggalkannya, sedangkan sang ibu, Wida (Sha Ine Febriyanti), sibuk bekerja.

Satu-satunya orang yang menyayangi Tegar sepenuh hati hanyalah kakek Tegar (Deddy Mizwar), termasuk mendukung agar Tegar bisa bersekolah. Namun, sang kakek yang mendukung keinginan Tegar telah meninggal dunia. Di sisi lain, sang ibu justru malah mengubur impian Tegar untuk bersekolah dan berteman.
 

Film Tegar. (Sumber gambar: Aksa Bumi Langit)

Film Tegar. (Sumber gambar: Aksa Bumi Langit)
 

Lantaran sibuk dengan pekerjaannya, Wida menitipkan Tegar kepada seorang pengasuh bernama Isy (Juanita Chatarina). Namun, suatu hari Isy terpaksa kembali ke kampung halamannya untuk merawat ibunya yang sakit.

Tegar yang ditinggalkan sang ibu harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup di rumah. Akhirnya, Tegar memutuskan untuk meninggalkan rumah dan memulai perjalanan untuk mewujudkan impiannya yang sederhana, yaitu bersekolah dan berteman.

Anggi Frisca mengatakan film Tegar sebenarnya merupakan proyek yang sangat personal baginya. Inspirasinya berawal dari perenungannya bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami berada di posisi terendah dan merasa tidak berharga, hingga menganggap bahwa mereka tidak bisa melakukan apapun lagi untuk memperjuangkan hidup.

Menurut Anggi, ketidakbisaan itu hanya lah persoalan mindset seseorang. Dengan kata lain, sebenarnya selama percaya, seseorang bisa melakukan apapun meskipun di tengah keterbatasan sekalipun. Itulah yang menjadi pesan inti dari film Tegar.

Akhirnya, ide itu diwujudkan Anggi dengan menghadirkan karakter seorang penyandang disabilitas yang secara visual mungkin akan sangat mudah dianggap oleh orang-orang tidak berdaya. Namun, lewat karakter tersebut justru dia ingin mengajak para penonton untuk berefleksi dan menemukan lagi semangat dalam hidup.

Dalam prosesnya, akhirnya Anggi bertemu dengan seorang anak penyandang disabilitas bernama M. Aldifi Tegarajasa. Setelah melakukan pendekatan bahkan sempat melakukan observasi langsung keseharian Tegar, akhirnya dia mulai menggarap skenario film Tegar.

"Banyak hal yang akhirnya aku sendiri juga harus ngeberesin pikiranku, karena mungkin orang kaya kita ngeliat anak yang enggak punya tangan sama enggak punya kaki pasti dia enggak bisa ngapa-ngapain. Tapi ternyata enggak. Justru mereka bisa punya kelebihan dari yang kita enggak bisa lakukan," kata Anggi saat diwawancarai Hypeabis.id di Jakarta, Minggu (12/10/2025).

Lewat film Tegar, Anggi ingin mengajak penonton untuk bisa percaya pada kemampuan diri sendiri dan sebaliknya jangan malah mengecilkan kapasitas diri sendiri  maupun orang lain. Menurutnya, semua itu harus dipercaya dan diamini oleh setiap individu.

"Tujuannya adalah bagaimana menghadirkan film-film yang menginspirasi, film-film yang secara hero itu muncul bukan karena dia superhero. Tapi hero itu ya human [manusia]. Jadi sebetulnya itu konsep besarnya," ucap sineas berusia 41 tahun itu.

Menurut Anggi, kelompok disabilitas harus diberi ruang yang bisa membuat mereka akhirnya percaya dan bisa untuk keluar dari ruang keterbatasan itu sendiri. Hal itu juga yang terjadi pada karakter Tegar. Dengan segala keterbatasannya, sang aktor justru bisa meraih sejumlah prestasi di berbagai festival internasional sebagai Best Actor.

Apalagi, menurutnya, banyak anak penyandang disabilitas yang memang menggunakan seni sebagai metode terapi mereka. Sehingga, dengan ruang-ruang seni dan kreativitas yang semakin terbuka, mereka tentunya memiliki peluang yang besar untuk berkarya dan prestasi.

"Ketika kita melihat anak disabilitas, pasti mikirnya enggak bisa ngapa-ngapain atau yang muncul pertama adalah kasian, sehingga program-program yang muncul di anak-anak berkebutuhan khusus itu cenderung charity. Padahal seharusnya empowerment mereka, nah tujuan dari film ini juga empowering Tegar," katanya.

"Karena Tegar kan bukan aktor, tapi ketika kita empowering dia, dia bisa jadi sesuatu. Dia bisa jadi aktor yang juga pada akhirnya dia dapet piala dimana-mana. Dia menang di Rusia, di China, meskipun belum ada apresiasi buat dia disini [Indonesia]," imbuh Anggi.

Baca juga: Madani International Film Fest 2025 Rampung Digelar, Antusiasme Publik Masih Tinggi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Kenali 7 Jenis Gangguan Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya

BERIKUTNYA

BABYMONSTER Comeback dengan Mini Album We Go Up, Tampil Enerjik Meski Tanpa Rami

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga