Ternyata Begini Makna & Filosofi Desain Piala MotoGP Mandalika 2025
08 October 2025 |
13:15 WIB
Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 atau MotoGP Mandalika 2025 telah usai. Namun, kompetisi balap tahunan itu masih menyajikan cerita menarik yang menjadi perbincangan. Selain insiden yang menimpa Marc Marquez, perhatian publik juga tertuju pada desain piala kejuaraan yang unik dan sarat makna.
Priandhi Satria, Direktur Utama MGPA, mengatakan bahwa piala yang dibuat untuk pemenang ajang MotoGP Mandalika 2025 bukan sekadar simbol juara. Namun, karya seni yang menyatukan tradisi, budaya, dan semangat modernitas Indonesia.
“Di balik kemegahan trofi itu terdapat kisah panjang tentang Sweda, rumah kerajinan perak asal Yogyakarta, yang menjadi pembuat resmi piala untuk para juara dunia di Mandalika,” katanya dalam pesan kepada Hypeabis.id,dikutip pada Rabu, 8 Oktober 2025.
Baca juga: MotoGP Mandalika 2025 Pecahkan Rekor Penonton Tertinggi Sejak Digelar di Indonesia
Dia menuturkan, Sweda merupakan rumah seni kriya yang berbasis di Yogyakarta dan dikenal karena kemampuannya memadukan kerajinan tradisional perak dengan sentuhan desain modern.
Kata “Sweda” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “jari-jari tangan”, yang menggambarkan filosofi bahwa setiap karya dibuat dengan sentuhan tangan dan jiwa. Para pengrajin Sweda tetap mempertahankan metode kerja tradisional, menggunakan alat-alat sederhana untuk proses memotong, mengukir, menyolder, mengamplas, dan memoles setiap detail karya.
Dia mengatakan, Piala Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 dirancang dengan filosofi merayakan budaya Nusantara sekaligus menghormati keunggulan para pembalap dunia. Desainnya mencerminkan harmoni antara tradisi lokal Lombok dengan energi modern ajang MotoGP.
Konsep utama piala, ujarnya, berakar kepada motif dan pola khas Suku Sasak, yakni masyarakat asli Pulau Lombok yang terkenal dengan kekayaan nilai seni dan simbol kehidupan.
Dalam desainnya terdapat motif “T Pattern” yang menggabungkan pola tradisional Suku Sasak dengan bentuk lintasan Sirkuit Mandalika. Kemudian, ada juga motif “Subahnale”, yakni corak khas Lombok yang sarat makna spiritual, menggambarkan kekuatan, dan keindahan tangan manusia dalam mencipta.
Di bagian dasar trofi, lanjutnya, terdapat batu alam Lombok sebagai representasi kekayaan alam pulau ini. sementara itu, bentuk melingkar atau circular form yang ada dalam piala melambangkan siklus kehidupan, kesinambungan, dan perjalanan manusia menuju kemenangan.
Adapun, bentuk gendang Beleg juga menjadi salah satu inspirasi dalam desain piala. Gendang Beleg adalah alat musik tradisional Lombok, dan keberadaannya menjadi simbol semangat dan kebanggaan masyarakat lokal.
“Trofi ini dengan demikian menjadi perwujudan dari perayaan budaya dan prestasi, sekaligus jembatan antara identitas Indonesia dan semangat kompetisi global MotoGP,” ujarnya.
Secara teknis, piala dibuat dari aluminium dan resin berkualitas tinggi, yang kemudian dilapisi dengan detail hasil ukiran tangan khas Sweda. Kombinasi dua material ini merepresentasikan perpaduan antara kekuatan dan fleksibilitas, dua elemen yang juga menjadi kunci kesuksesan para pembalap MotoGP.
Permukaan piala juga menampilkan refleksi motif Mandalika Circuit, menggambarkan kecepatan dan dinamika. Sementara detail ukiran tradisional memberikan sentuhan lembut dan artistik, menjadi pengingat bahwa teknologi dan budaya dapat bersatu dalam harmoni.
Dia menambahkan, Indonesia kembali menegaskan diri bukan hanya sebagai tuan rumah MotoGP yang spektakuler melalui desain piala ini. Namun, juga sebagai bangsa yang kaya seni, budaya, dan identitas.
“Yang mampu menyampaikan pesan universal, yakni bahwa kemenangan sejati adalah hasil dari kerja keras, warisan, dan kebanggaan akan akar budaya sendiri,” ujarnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Priandhi Satria, Direktur Utama MGPA, mengatakan bahwa piala yang dibuat untuk pemenang ajang MotoGP Mandalika 2025 bukan sekadar simbol juara. Namun, karya seni yang menyatukan tradisi, budaya, dan semangat modernitas Indonesia.
“Di balik kemegahan trofi itu terdapat kisah panjang tentang Sweda, rumah kerajinan perak asal Yogyakarta, yang menjadi pembuat resmi piala untuk para juara dunia di Mandalika,” katanya dalam pesan kepada Hypeabis.id,dikutip pada Rabu, 8 Oktober 2025.
Baca juga: MotoGP Mandalika 2025 Pecahkan Rekor Penonton Tertinggi Sejak Digelar di Indonesia
Dia menuturkan, Sweda merupakan rumah seni kriya yang berbasis di Yogyakarta dan dikenal karena kemampuannya memadukan kerajinan tradisional perak dengan sentuhan desain modern.
Kata “Sweda” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “jari-jari tangan”, yang menggambarkan filosofi bahwa setiap karya dibuat dengan sentuhan tangan dan jiwa. Para pengrajin Sweda tetap mempertahankan metode kerja tradisional, menggunakan alat-alat sederhana untuk proses memotong, mengukir, menyolder, mengamplas, dan memoles setiap detail karya.
Dia mengatakan, Piala Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 dirancang dengan filosofi merayakan budaya Nusantara sekaligus menghormati keunggulan para pembalap dunia. Desainnya mencerminkan harmoni antara tradisi lokal Lombok dengan energi modern ajang MotoGP.
Konsep utama piala, ujarnya, berakar kepada motif dan pola khas Suku Sasak, yakni masyarakat asli Pulau Lombok yang terkenal dengan kekayaan nilai seni dan simbol kehidupan.
Dalam desainnya terdapat motif “T Pattern” yang menggabungkan pola tradisional Suku Sasak dengan bentuk lintasan Sirkuit Mandalika. Kemudian, ada juga motif “Subahnale”, yakni corak khas Lombok yang sarat makna spiritual, menggambarkan kekuatan, dan keindahan tangan manusia dalam mencipta.
Di bagian dasar trofi, lanjutnya, terdapat batu alam Lombok sebagai representasi kekayaan alam pulau ini. sementara itu, bentuk melingkar atau circular form yang ada dalam piala melambangkan siklus kehidupan, kesinambungan, dan perjalanan manusia menuju kemenangan.
Adapun, bentuk gendang Beleg juga menjadi salah satu inspirasi dalam desain piala. Gendang Beleg adalah alat musik tradisional Lombok, dan keberadaannya menjadi simbol semangat dan kebanggaan masyarakat lokal.
“Trofi ini dengan demikian menjadi perwujudan dari perayaan budaya dan prestasi, sekaligus jembatan antara identitas Indonesia dan semangat kompetisi global MotoGP,” ujarnya.
Secara teknis, piala dibuat dari aluminium dan resin berkualitas tinggi, yang kemudian dilapisi dengan detail hasil ukiran tangan khas Sweda. Kombinasi dua material ini merepresentasikan perpaduan antara kekuatan dan fleksibilitas, dua elemen yang juga menjadi kunci kesuksesan para pembalap MotoGP.
Permukaan piala juga menampilkan refleksi motif Mandalika Circuit, menggambarkan kecepatan dan dinamika. Sementara detail ukiran tradisional memberikan sentuhan lembut dan artistik, menjadi pengingat bahwa teknologi dan budaya dapat bersatu dalam harmoni.
Dia menambahkan, Indonesia kembali menegaskan diri bukan hanya sebagai tuan rumah MotoGP yang spektakuler melalui desain piala ini. Namun, juga sebagai bangsa yang kaya seni, budaya, dan identitas.
“Yang mampu menyampaikan pesan universal, yakni bahwa kemenangan sejati adalah hasil dari kerja keras, warisan, dan kebanggaan akan akar budaya sendiri,” ujarnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.