Seni Cetak Grafis Jadi Sorotan di Art Jakarta 2025
05 October 2025 |
21:00 WIB
Seni cetak grafis punya sejarah panjang di Indonesia, tetapi perkembangannya saat ini masih menemui tantangan. Meskipun telah menjadi medium ekspresi artistik sejak awal kemerdekaan, keberadaan seni ini kerap kurang mendapat sorotan dibanding lukisan atau seni instalasi.
Arsitek Zumar Muzammil menyoroti hal ini dari sisi ruang presentasi karya yang tersedia bagi seni cetak grafis. Menurutnya, karya-karya cetak grafis masih belum mendapatkan tempat yang ideal di berbagai galeri maupun ruang pamer. Hal ini membuat gaung kekaryaannya pun tidak tersorot dengan baik.
Baca juga: Menilik Arus Baru Generasi Seni Rupa Muda Indonesia di Art Jakarta 2025
“Panggung seni grafis itu masih tipis banget. Kalau diperhatikan, galeri setahun berapa kali sih manggungin cetak grafis,” ucapnya dalam diskusi Membaca Seni Cetak Grafis Sekarang di Art Jakarta 2025, Minggu (5/10/2025).
Zumar mengatakan permasalahan panggung memang jadi hal kompleks. Sebab, membangun panggung ini juga tidak hanya soal jumlah pameran, tetapi juga soal bagaimana publik berinteraksi dengan karya. Dengan penyebaran informasi yang lebih luas, melalui publikasi digital atau pameran yang kreatif, seni cetak grafis memiliki peluang untuk menjangkau audiens lebih luas dan membentuk wacana publik mengenai pentingnya medium ini.
Terlebih, seni cetak grafis juga telah mengalami perkembangan bentuk yang begitu dinamis. Banyak karya print yang tak hanya dipresentasikan dengan dipajang, tetapi juga berevolusi menjadi instalasi atau bahkan performance art. Hal ini, menurutnya, menunjukkan fleksibilitas medium ini dalam menjawab konteks kontemporer.
Sementara itu, seniman Krack! Printmaking's Research, Yohanes de Britto, juga menekankan pentingnya publikasi dalam praktik seni cetak grafis. Sebab, penyebaran informasi merupakan kunci agar karya grafis bisa dikenal lebih luas dan mendapat apresiasi yang layak.
“Produksi memang selalu berkaitan dengan publikasi. Karena sekarang era informasi serba cepat, saya rasa ini adalah waktu yang tepat untuk menyebarkan wacana perihal seni cetak grafis lebih bergaung," imbuhnya.
Yohanes menambahkan bahwa era digital membuka peluang baru bagi seni cetak grafis untuk tampil menonjol. Karya-karya print yang sebelumnya hanya dikenal di kalangan terbatas kini bisa diakses publik melalui platform daring, media sosial, atau publikasi digital. Transformasi ini memungkinkan interaksi antara seniman dan audiens menjadi lebih cepat dan dinamis.
Selain itu, digitalisasi dan publikasi aktif juga memberi kesempatan bagi karya grafis untuk berkembang ke ranah yang lebih luas. Dengan distribusi yang lebih intensif, wacana seni cetak grafis bisa terus hidup, mendorong inovasi, dan menguatkan posisi medium ini dalam ekosistem seni kontemporer Indonesia.
Segendang sepenarian, Artistic Director Art Jakarta Enin Supriyanto jug menegaskan bahwa seni grafis di Indonesia belum mati dan terus berkembang sejak 1946. Di menyebutkan beberapa pelopor penting seperti Suromo, Abdul Salam, Mochtar Apin, dan Baharudin yang telah memberi dasar menarik. Enin sendiri juga turut terlibat meriset dan menulis buku Setengah Abad Seni Grafis Indonesia pada medio 2000-an.
Enin menyebut seni grafis awalnya digunakan untuk reproduksi informasi, tetapi dalam perkembangannya terus bertransformasi. Medium ini bahkan belakangan lebih dikenal sebagau ekspresi artistik yang kaya ragam.
Menurutnya, ini adalah waktu yang tepat untuk mengangkat kembali seni cetak grafis. Mau tak mau, katanya, cara tersebut memang harus ditempuh dengan membuat gelaran yang besar sebagai wadah ekspresi para seniman di dalamnya. Oleh karena itu, tahun depan pihaknya pun bakal menggelar Art Jakarta Paper.
Enin mengatakan Art Jakarta ingin mendorong berbagai medium seni punya panggung yang layak. Pada 2022 lalu, ide serupa juga muncul dan mewujud dengan Art Jakarta Gardens yang menyoroti perkembangan patung dan instalasi luar ruang. Rupanya, inisiasi itu terus langgeng hingga kini dan membuat apresiasi publik pada karya luar ruang tumbuh.
Formula serupa pun kini tengah digodok untuk menaikkan seni cetak grafis lewat Art Jakarta Paper. Enin pun membocorkan bahwa dalam gelaran tersebut, artprint akan jadi salah satu karya yang mendominasi karena geliatnya dalam beberapa tahun terakhir memang begitu semarak.
Namun, jangan membayangkan pameran hanya dipenuhi kertas. Enin juga menekankan bahwa praktik printmaking kini tidak terbatas pada karya dua dimensi saja. Banyak seniman yang mengembangkan karya cetak menjadi instalasi, bahkan performance art. Hal ini menunjukkan dinamika dan fleksibilitas medium ini, sekaligus peluang untuk menarik perhatian publik yang lebih luas.
Dengan platform-platform baru dan perhatian yang lebih sistematis, menututnya, seni cetak grafis di Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh lebih signifikan. Dirinya berharap Art Jakarta Paper akan menjadi panggung yang layak untuk kesenian ini, yang pada akhirnya dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Baca juga: Galeri Nasional Indonesia Adakan Bicara Rupa Bertema Mengungkap Seni Grafis Jakarta Era 60-an dan 70-an
Arsitek Zumar Muzammil menyoroti hal ini dari sisi ruang presentasi karya yang tersedia bagi seni cetak grafis. Menurutnya, karya-karya cetak grafis masih belum mendapatkan tempat yang ideal di berbagai galeri maupun ruang pamer. Hal ini membuat gaung kekaryaannya pun tidak tersorot dengan baik.
Baca juga: Menilik Arus Baru Generasi Seni Rupa Muda Indonesia di Art Jakarta 2025
“Panggung seni grafis itu masih tipis banget. Kalau diperhatikan, galeri setahun berapa kali sih manggungin cetak grafis,” ucapnya dalam diskusi Membaca Seni Cetak Grafis Sekarang di Art Jakarta 2025, Minggu (5/10/2025).
Zumar mengatakan permasalahan panggung memang jadi hal kompleks. Sebab, membangun panggung ini juga tidak hanya soal jumlah pameran, tetapi juga soal bagaimana publik berinteraksi dengan karya. Dengan penyebaran informasi yang lebih luas, melalui publikasi digital atau pameran yang kreatif, seni cetak grafis memiliki peluang untuk menjangkau audiens lebih luas dan membentuk wacana publik mengenai pentingnya medium ini.
Terlebih, seni cetak grafis juga telah mengalami perkembangan bentuk yang begitu dinamis. Banyak karya print yang tak hanya dipresentasikan dengan dipajang, tetapi juga berevolusi menjadi instalasi atau bahkan performance art. Hal ini, menurutnya, menunjukkan fleksibilitas medium ini dalam menjawab konteks kontemporer.
Sementara itu, seniman Krack! Printmaking's Research, Yohanes de Britto, juga menekankan pentingnya publikasi dalam praktik seni cetak grafis. Sebab, penyebaran informasi merupakan kunci agar karya grafis bisa dikenal lebih luas dan mendapat apresiasi yang layak.
“Produksi memang selalu berkaitan dengan publikasi. Karena sekarang era informasi serba cepat, saya rasa ini adalah waktu yang tepat untuk menyebarkan wacana perihal seni cetak grafis lebih bergaung," imbuhnya.
Yohanes menambahkan bahwa era digital membuka peluang baru bagi seni cetak grafis untuk tampil menonjol. Karya-karya print yang sebelumnya hanya dikenal di kalangan terbatas kini bisa diakses publik melalui platform daring, media sosial, atau publikasi digital. Transformasi ini memungkinkan interaksi antara seniman dan audiens menjadi lebih cepat dan dinamis.
Selain itu, digitalisasi dan publikasi aktif juga memberi kesempatan bagi karya grafis untuk berkembang ke ranah yang lebih luas. Dengan distribusi yang lebih intensif, wacana seni cetak grafis bisa terus hidup, mendorong inovasi, dan menguatkan posisi medium ini dalam ekosistem seni kontemporer Indonesia.
Segendang sepenarian, Artistic Director Art Jakarta Enin Supriyanto jug menegaskan bahwa seni grafis di Indonesia belum mati dan terus berkembang sejak 1946. Di menyebutkan beberapa pelopor penting seperti Suromo, Abdul Salam, Mochtar Apin, dan Baharudin yang telah memberi dasar menarik. Enin sendiri juga turut terlibat meriset dan menulis buku Setengah Abad Seni Grafis Indonesia pada medio 2000-an.
Enin menyebut seni grafis awalnya digunakan untuk reproduksi informasi, tetapi dalam perkembangannya terus bertransformasi. Medium ini bahkan belakangan lebih dikenal sebagau ekspresi artistik yang kaya ragam.
Menurutnya, ini adalah waktu yang tepat untuk mengangkat kembali seni cetak grafis. Mau tak mau, katanya, cara tersebut memang harus ditempuh dengan membuat gelaran yang besar sebagai wadah ekspresi para seniman di dalamnya. Oleh karena itu, tahun depan pihaknya pun bakal menggelar Art Jakarta Paper.
Enin mengatakan Art Jakarta ingin mendorong berbagai medium seni punya panggung yang layak. Pada 2022 lalu, ide serupa juga muncul dan mewujud dengan Art Jakarta Gardens yang menyoroti perkembangan patung dan instalasi luar ruang. Rupanya, inisiasi itu terus langgeng hingga kini dan membuat apresiasi publik pada karya luar ruang tumbuh.
Formula serupa pun kini tengah digodok untuk menaikkan seni cetak grafis lewat Art Jakarta Paper. Enin pun membocorkan bahwa dalam gelaran tersebut, artprint akan jadi salah satu karya yang mendominasi karena geliatnya dalam beberapa tahun terakhir memang begitu semarak.
Namun, jangan membayangkan pameran hanya dipenuhi kertas. Enin juga menekankan bahwa praktik printmaking kini tidak terbatas pada karya dua dimensi saja. Banyak seniman yang mengembangkan karya cetak menjadi instalasi, bahkan performance art. Hal ini menunjukkan dinamika dan fleksibilitas medium ini, sekaligus peluang untuk menarik perhatian publik yang lebih luas.
Dengan platform-platform baru dan perhatian yang lebih sistematis, menututnya, seni cetak grafis di Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh lebih signifikan. Dirinya berharap Art Jakarta Paper akan menjadi panggung yang layak untuk kesenian ini, yang pada akhirnya dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Baca juga: Galeri Nasional Indonesia Adakan Bicara Rupa Bertema Mengungkap Seni Grafis Jakarta Era 60-an dan 70-an
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.