Peserta berfoto aaat acara jalan bareng Genhype melihat pameran Art Jakarta di Jakarta, Sabtu (4/10/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani )

Di Tengah Ekonomi Lesu, Art Jakarta 2025 Tetap Hidup dan Ramai Transaksi

05 October 2025   |   20:22 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Art Jakarta 2025 menutup gelarannya dengan dinamika transaksi seni yang menarik di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Meskipun pengunjung tetap antusias hadir dan menikmati pameran, proses jual-beli karya seni tampak menunjukkan pola yang berbeda dari biasanya.

Co-Founder Galeri Gudang Gambar, Ramdhan Djuhara, menyoroti ada pergeseran tradisi dan cara orang membeli karya seni pada tahun ini. Meski awalnya cukup membuatnya menimang-nimang, memasuki hari ketiga kondisinya sudah lebih baik.

Baca juga: Peserta Jalan Bareng Genhype Antusias Nikmati Karya Seni di Art Jakarta 2025

“Hari pertama itu sebenarnya sangat slow. Untuk kita ya, karena biasanya kita ikut Art Jakarta itu, dari hari pertama, hari kedua itu sibuk. Selalu rame gitu kan, baik itu yang art lovers, art buyer, art collector-nya itu rame. Namun, tahun ini beda," ungkapnya kepada Hypeabis.id, Minggu (5/10/2025). 

Ramdhan menyebut kunjungan hari pertama tak begitu padat. Mereka yang datang pun lebih banuak art lovers. Meski memang, pada hari pertama, katanya, juga ada sesi kolektor dan VIP. Namun, jumlahnya tak begitu mencolok sehingga transaksi pun tak terlalu ramai.

Namun, situasi justru berbeda ketika memasuki hari kedua. Menurutnya, hari kedua tahun ini justru menjadi titik puncak aktivitas bursa seni. Sebab, sebagian besar transaksi terjadi pada hari kedua.

Kemudian, hari ketiga kali ini juga berjalan lebih dinamis. Beberapa kolektor yang sudah berdiskusi pada hari pertama dan kedua, mulai menengok lagi pada hari ketiga untuk membuat deal atau lebih jauh mengobrol soal karya yang diincar.

Pantauan Hypeabis, ada lebih dari 20 karya yang ada di Gudang Gambar terdapat tanda khusus merah muda. Itu pertanda bahwa karya-karya tersebut telah ludes terjual. Jumlah yang cukup masif meski banyak orang menyebut tahun ini ekonomi cukup krisis. Beberapa karya tersebut adalah lukisan-lukisan dari Tarto, Rujiman, Karte Wardaya, I Wayan Balik Ariana, Nue Prastowo, dan masih banyak lagi.

"Sebenarnya dibilang krisis ya iya. Ada dampak ya iya juga. Tapi enggak begitu signifikan mungkin ya. Tahun ini bahkan secara transaksi lebih baik hingga 20 persen dibanding edisi tahun lalu," ungkapnya.

Dalam hal ini, Ramdhan memuji upaya komite Art Jakarta dalam menghadirkan kolektor-kolektor untuk datang ke acara ini, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga mancanegara. Kehadiran pengunjung internasional, terutama dari Taipei, menambah semarak transaksi dan membuka peluang pasar baru.

Sementara itu, terkait karakter lukisan yang ditawarkan, hampir seluruhnya mendapat apresiasi yang baik. Namun, untuk tahun ini, karya-karya yang fun dengan visual yang menyenangkan dan mudah dipahami, tampak lebih disukai.

"Sama seperti lagu ya, yang mudah didengarkan lebih populer. Di lukisan juga begitu, terutama untuk kolektor-kolektor muda," tuturnya.

Meski ada penurunan minat beli secara umum akibat kondisi ekonomi, dampaknya tidak terlalu dalam bagi pasar seni. Menurutnya, Art Jakarta menjadi bukti bahwa pasar seni memiliki daya tahan tersendiri.

Selain transaksi saat di dalam pameran, Ramdhan juga menggarisbawahi bahwa efek lanjutan dari acara seperti masih sangat mungkin terjadi setelahnya. Biasanya, katanya, setelah dua bulan masih terdapat kolektor yang melakukan finalisasi.

Sementara itu, Founder Galeri Zen1 Nicolaus Kuswanto mengungkapkan bahwa dari sisi jumlah pengunjung, sebenarnya pameran edisi tahun lalu sedikit lebih ramai dibandingkan tahun ini. Meski begitu, perbedaan jumlah pengunjung tidak terlalu signifikan.

Nico menilai kondisi ekonomi yang kurang stabil memang berpengaruh terhadap kehadiran pengunjung. Namun, hal ini bukan hanya terjadi di ranah seni rupa, melainkan juga terasa di berbagai sektor lain.

Sebagai galeri, langkah yang bisa diambil adalah menyesuaikan strategi dengan situasi yang ada. Salah satunya adalah menghadirkan karya seni dengan harga lebih terjangkau agar tetap menarik bagi pembeli.

Strategi ini bertujuan untuk menciptakan peluang bagi kolektor muda. Dengan karya-karya yang lebih ramah di kantong, generasi baru ini dapat mulai membangun koleksi seni mereka sendiri.

Menurut Nicolaus, dalam tiga tahun terakhir, kehadiran kolektor muda menjadi salah satu harapan penting bagi perkembangan pasar seni. Kehadiran mereka dianggap mampu membawa dinamika baru dan memperkuat ekosistem seni kontemporer.

Pandangan serupa disampaikan oleh Win Satrya, pemilik Museum of Toys. Dia mencatat bahwa meskipun jumlah kunjungan tidak menunjukkan lonjakan signifikan, sisi positifnya penjualan karya justru meningkat.

"Angka penjualan saat ini sudah mendekati atau melampaui pencapaian tahun sebelumnya," tuturnya

Menurutnya, meski gejolak ekonomi masih ada, seni tetap memiliki tempat tersendiri. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, seni justru dapat berperan sebagai pelipur lara untuk kebutuhan emosional. Hal ini menegaskan bahwa seni bukan sekadar komoditas, melainkan juga kebutuhan batin bagi banyak orang.

Baca juga: Budi Pradono Luncurkan Buku Omah Tanah di Art Jakarta 2025, Arsitektur Berkelanjutan dari Material Tradisional

SEBELUMNYA

Melihat Dunia Seni Indonesia Lewat Lensa Melani Setiawan

BERIKUTNYA

Seni Cetak Grafis Jadi Sorotan di Art Jakarta 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga