Ilustrasi chronic loneliness (Sumber Foto: Freepik)

Mengenal Chronic Loneliness, Rasa Sepi yang Pengaruhi Kesehatan Mental & Fisik

04 October 2025   |   12:14 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Chronic loneliness atau kesepian kronis adalah kondisi ketika seseorang merasa kesepian dalam jangka waktu panjang. Meski bukan penyakit mental yang dapat didiagnosis secara medis, kondisi ini terbukti memengaruhi kesehatan emosional dan fisik.

Mengutip Very Well Health, kesepian sendiri merupakan perasaan kehilangan rasa memiliki atau sense of belonging, di mana seseorang tidak memiliki hubungan yang dekat dan bermakna dengan individu lainnya. Jenis kesepian ini dibagi ke dalam beberapa kategori.
  • Sosial: Merasa terputus dari orang lain dan tidak memiliki jaringan sosial yang memuaskan.
  • Emosional: Kekurangan hubungan yang bermakna, mendalam, dan berkualitas baik.
  • Eksistensial: Merasa terpisah dari orang lain, misalnya tertinggal oleh peristiwa hidup atau tetap merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang.
Baca juga: FOMO dan Adiksi Digital Ancam Kesehatan Mental Generasi Muda

Ada banyak alasan mengapa seseorang bisa merasa kesepian. Sering kali kondisi ini dipicu oleh peristiwa atau perubahan hidup yang menyebabkan keterpisahan emosional atau fisik dari jaringan sosial yang sudah ada.

Misalnya bertambahnya usia, sibuk merawat orang tua dan keluarga, atau ketika baru menjadi orang tua. Bisa juga karena mengalami perundungan (bullying), kesulitan finansial yang membatasi aktivitas sosial, kehilangan orang terkasih, perceraian, hingga menderita penyakit kronis atau gangguan mental.

Kesepian juga dialami oleh mereka yang tinggal sendiri, hidup di lingkungan yang tidak merepresentasikan budaya, ras, etnis, atau orientasi seksual mereka, serta melewatkan hari raya yang identik dengan kebersamaan seperti Natal, Valentine, atau Ramadan.

Pindah ke tempat baru, pensiun, memulai sekolah atau kuliah, pekerjaan baru, hingga menyaksikan orang-orang terdekat kita memulai fase hidup baru, seperti menikah dan berkeluarga juga turut memperbesar rasa kesepian.

Kesepian sejatinya adalah pengalaman emosional yang sangat subjektif. Ini berbeda dengan isolasi sosial, yang merupakan ukuran objektif mengenai seberapa terbatas interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Kesepian adalah cara seseorang mempersepsikan interaksi sosialnya. Dua individu bisa memiliki jumlah interaksi sosial yang sama, tetapi yang satu merasa sepi sementara yang lain merasa cukup puas. Inilah mengapa kesepian tidak bisa hanya diukur secara kuantitatif, tetapi juga harus dilihat dari pengalaman personal.
 

Gejala Chronic loneliness

Orang yang kesepian dapat merasa tersiksa, terasing, mati rasa, putus asa, atau seakan dirinya tidak berarti. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan gejala nyata yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Misalnya, muncul kecemasan atau kekhawatiran berlebihan saat bersosialisasi, kesulitan tidur, dan menurunnya keinginan untuk merawat diri seperti lalai menjaga kebersihan, bangun terlalu siang, hingga enggan memasak atau membersihkan rumah. Perasaan kesepian yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko depresi, kecemasan, stres, bahkan demensia.

Tanda seseorang mengalami kesepian kronis dapat dikenali ketika gejala tersebut berlangsung lama, baik dalam hitungan minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun. Bila tidak segera ditangani, kesepian kronis dapat berujung pada komplikasi serius, baik mental maupun fisik.

Sebuah penelitian bertajuk Chronic Loneliness: Neurocognitive Mechanisms and Interventions yang dipublikasikan pada 2022, memaparkan, kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan kesepian. Rasa sepi membuat tidur terganggu, sementara tidur yang buruk memperbesar rasa sepi. Sekitar 18 persen kasus depresi bahkan ditemukan berkaitan langsung dengan kesepian. Kondisi ini juga mengacaukan sistem imun tubuh, ditandai dengan berkurangnya sel darah putih yang berfungsi melawan infeksi.

Pada remaja, kesepian erat hubungannya dengan rendahnya harga diri. Penelitian bertajuk The Association Between Loneliness and Inflammation: Findings From an Older Adult Sample pada 2022 mengungkapkan bahwa orang dengan tingkat kesepian tinggi cenderung memiliki kadar protein C-reaktif (CRP) lebih tinggi dan menandai terjadinya peradangan dalam tubuh.

Dampak lain dari kesepian kronis adalah meningkatnya risiko penyakit metabolik. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2024 terhadap 465.290 individu selama 6,3 tahun menemukan bahwa kesepian sesekali meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 14 persen, sementara kesepian kronis meningkatkan risiko itu hingga 24 persen.

Selain itu, kesepian juga dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, hingga kematian akibat stroke. Kesepian kronis meningkatkan kerentanan terhadap penyakit kronis lain seperti obesitas, penyakit jantung, dan demensia. Ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya peradangan tubuh dan gaya hidup yang tidak sehat, misalnya kurang olahraga, tidur buruk, atau konsumsi alkohol berlebihan.
 

Cara Mengatasi Kesepian

  • Menjalin komunikasi dengan orang lain seperti mengirim pesan singkat, menelepon keluarga, atau sekadar mengobrol ringan.
  • Memanfaatkan media sosial secara sehat, gunakan untuk benar-benar terhubung, bukan hanya scroll layar tanpa tujuan.
  • Menjadi relawan dengan bergabung di organisasi lokal, klub, atau kelompok minat untuk membuka ruang koneksi baru.
  • Mengisi waktu sendiri dengan aktivitas positif seperti membaca, merawat diri, memasak, berolahraga, atau belajar hal baru.
  • Berkonsultasi dengan terapis dan menemukan mekanisme koping atas stres, kecemasan, atau depresi akibat kesepian kronis.
  • Menjaga komunikasi terbuka dengan orang terdekat dan ungkapkan perasaan bila merasa tersisih, agar orang lain menyadarinya.
  • Mencari lingkungan sosial baru, jika dirasa tidak cocok.
  • Menyadari bahwa kesepian adalah emosi alami. Sesekali merasa sepi itu normal, namun perlu langkah pencegahan agar tidak berlarut-larut.
  • Berbicara dengan tenaga kesehatan, terapis, atau konselor ketika kesepian kronis mulai berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Sinopsis Drama Korea Confidence Queen, Aksi Menegangkan Para Penipu Ulung

BERIKUTNYA

Cek Deretan Penampilan Seru & Langka Tampil di Hari ke-2 Synchronize Fest 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga