Lebih dari Satu Abad Disimpan di Belanda, Fosil ‘Java Man’ Akhirnya Pulang Kampung
03 October 2025 |
08:48 WIB
Oktober 2025 membawa kabar menggembirakan bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, setelah lebih dari satu abad berada di Belanda, fosil manusia purba yang pernah ditemukan Eugène Dubois di tepian Bengawan Solo akhirnya akan dipulangkan dari Belanda ke tanah asalnya.
Fosil yang dikenal sebagai Pithecanthropus erectus atau lebih populer dengan sebutan Java Man ini bukan sekadar benda koleksi. Dia adalah saksi penting dalam sejarah panjang evolusi manusia, dan menjadi bukti bahwa Nusantara pernah menjadi panggung utama peradaban purba.
Kementerian Kebudayaan RI menyebut repatriasi kali ini sebagai salah satu momen besar diplomasi budaya. Tidak hanya fosil manusia purba, koleksi Dubois yang akan pulang ke Indonesia berjumlah lebih dari 28.000 artefak, termasuk fosil hewan purba dan dokumentasi ilmiah lainnya.
Baca juga: Java Man Kembali ke Indonesia: Sejarah Fosil Homo Erectus dan Sosok Pelopor Paleoantropologi Eugène Dubois
Menurut rencana, seluruh koleksi akan tiba di Indonesia pada akhir tahun ini. Proses pengembalian akan dilakukan melalui jalur kargo, dengan biaya pengiriman sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah Belanda.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa kepulangan fosil ini tidak boleh dipandang sekadar seremoni. Dia menyebutnya sebagai langkah penting untuk memperkuat riset, pendidikan, dan pemahaman publik mengenai sejarah manusia purba di Nusantara.
“Kepulangan ribuan fosil ini bukan sekadar perpindahan benda mati dari satu museum ke museum lain. Dia adalah pemulihan memori kolektif bangsa, rekonsiliasi sejarah, sekaligus reclaiming narasi evolusi manusia yang menempatkan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia,” ujar Fadli dalam konferensi pers di Museum Nasional, Kamis (2/10/2025).
Setelah tiba di Jakarta, koleksi Dubois direncanakan akan disimpan sekaligus dipamerkan di Museum Nasional Indonesia. Pemerintah juga berkomitmen menjaga kelestarian koleksi ini dengan standar konservasi terbaik serta membuka peluang penelitian kolaboratif internasional.
Bagi Fadli, artefak Dubois dapat menjadi katalis bagi perkembangan ilmu paleoantropologi dunia. Lebih dari itu, dia ingin setiap anak Indonesia menyadari bahwa tanah air mereka adalah salah satu rumah paling awal dari sejarah manusia.
Ketua Tim Repatriasi Indonesia, Ismunandar, menyebut pemulangan koleksi Dubois sebagai buah dari diplomasi panjang. Dia menyinggung bahwa repatriasi benda bersejarah antara Indonesia dan Belanda sudah berlangsung sejak lama, mulai dari pemulangan Keropak Negarakertagama pada 1972 hingga keris emas Bugis yang diserahkan langsung pada 2016.
Hubungan ini semakin diperkuat lewat nota kesepahaman pada Februari 2017 yang mengatur mekanisme penyerahan benda budaya. Sejak saat itu, repatriasi semakin gencar dilakukan dan membuka jalan bagi kepulangan koleksi Dubois tahun ini.
Kajian tim yang dipublikasikan pada 6 September 2025 menegaskan bahwa Belanda tidak memiliki dasar hukum untuk mempertahankan koleksi tersebut. Keputusan itu akhirnya diadopsi dan diumumkan resmi oleh pemerintah Belanda pada 26 September 2025.
“Permintaan resmi terakhir dari Indonesia dilakukan pada tahun 2022. Sejak itu terjadi perkembangan signifikan, terutama pengakuan Belanda atas ketidakadilan masa kolonial,” jelas Ismunandar.
Anggota tim repatriasi lainnya, Sofwan Noerwidi, menambahkan bahwa koleksi ini harus dimanfaatkan secara aktif. Menurutnya, fosil tersebut bukan sekadar benda mati, melainkan sumber pengetahuan yang harus terus hidup dalam riset, pendidikan, dan studi generasi muda.
Dia juga mengingatkan kronologi penemuan Dubois yang menjadi tonggak sejarah dunia, yakni sejak gigi gerahamnya ditemukan pada September 1891, tengkorak pada Oktober 1891, dan tulang paha setahun kemudian. Rangkaian temuan itulah yang menjadikan Jawa tercatat dalam peta besar sejarah evolusi manusia.
"Koleksi luar biasa ini tidak boleh dibiarkan menjadi benda yang diam. Dia harus hidup dalam riset, studi, dan pendidikan generasi muda,” papat Sofwan yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN.
Baca juga: Belanda Kembalikan 28.000 Koleksi Artefak Eugene Dubois Ke Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Fosil yang dikenal sebagai Pithecanthropus erectus atau lebih populer dengan sebutan Java Man ini bukan sekadar benda koleksi. Dia adalah saksi penting dalam sejarah panjang evolusi manusia, dan menjadi bukti bahwa Nusantara pernah menjadi panggung utama peradaban purba.
Kementerian Kebudayaan RI menyebut repatriasi kali ini sebagai salah satu momen besar diplomasi budaya. Tidak hanya fosil manusia purba, koleksi Dubois yang akan pulang ke Indonesia berjumlah lebih dari 28.000 artefak, termasuk fosil hewan purba dan dokumentasi ilmiah lainnya.
Baca juga: Java Man Kembali ke Indonesia: Sejarah Fosil Homo Erectus dan Sosok Pelopor Paleoantropologi Eugène Dubois
Menurut rencana, seluruh koleksi akan tiba di Indonesia pada akhir tahun ini. Proses pengembalian akan dilakukan melalui jalur kargo, dengan biaya pengiriman sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah Belanda.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa kepulangan fosil ini tidak boleh dipandang sekadar seremoni. Dia menyebutnya sebagai langkah penting untuk memperkuat riset, pendidikan, dan pemahaman publik mengenai sejarah manusia purba di Nusantara.
“Kepulangan ribuan fosil ini bukan sekadar perpindahan benda mati dari satu museum ke museum lain. Dia adalah pemulihan memori kolektif bangsa, rekonsiliasi sejarah, sekaligus reclaiming narasi evolusi manusia yang menempatkan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia,” ujar Fadli dalam konferensi pers di Museum Nasional, Kamis (2/10/2025).
Setelah tiba di Jakarta, koleksi Dubois direncanakan akan disimpan sekaligus dipamerkan di Museum Nasional Indonesia. Pemerintah juga berkomitmen menjaga kelestarian koleksi ini dengan standar konservasi terbaik serta membuka peluang penelitian kolaboratif internasional.
Bagi Fadli, artefak Dubois dapat menjadi katalis bagi perkembangan ilmu paleoantropologi dunia. Lebih dari itu, dia ingin setiap anak Indonesia menyadari bahwa tanah air mereka adalah salah satu rumah paling awal dari sejarah manusia.
Ketua Tim Repatriasi Indonesia, Ismunandar, menyebut pemulangan koleksi Dubois sebagai buah dari diplomasi panjang. Dia menyinggung bahwa repatriasi benda bersejarah antara Indonesia dan Belanda sudah berlangsung sejak lama, mulai dari pemulangan Keropak Negarakertagama pada 1972 hingga keris emas Bugis yang diserahkan langsung pada 2016.
Hubungan ini semakin diperkuat lewat nota kesepahaman pada Februari 2017 yang mengatur mekanisme penyerahan benda budaya. Sejak saat itu, repatriasi semakin gencar dilakukan dan membuka jalan bagi kepulangan koleksi Dubois tahun ini.
Kajian tim yang dipublikasikan pada 6 September 2025 menegaskan bahwa Belanda tidak memiliki dasar hukum untuk mempertahankan koleksi tersebut. Keputusan itu akhirnya diadopsi dan diumumkan resmi oleh pemerintah Belanda pada 26 September 2025.
“Permintaan resmi terakhir dari Indonesia dilakukan pada tahun 2022. Sejak itu terjadi perkembangan signifikan, terutama pengakuan Belanda atas ketidakadilan masa kolonial,” jelas Ismunandar.
Anggota tim repatriasi lainnya, Sofwan Noerwidi, menambahkan bahwa koleksi ini harus dimanfaatkan secara aktif. Menurutnya, fosil tersebut bukan sekadar benda mati, melainkan sumber pengetahuan yang harus terus hidup dalam riset, pendidikan, dan studi generasi muda.
Dia juga mengingatkan kronologi penemuan Dubois yang menjadi tonggak sejarah dunia, yakni sejak gigi gerahamnya ditemukan pada September 1891, tengkorak pada Oktober 1891, dan tulang paha setahun kemudian. Rangkaian temuan itulah yang menjadikan Jawa tercatat dalam peta besar sejarah evolusi manusia.
"Koleksi luar biasa ini tidak boleh dibiarkan menjadi benda yang diam. Dia harus hidup dalam riset, studi, dan pendidikan generasi muda,” papat Sofwan yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN.
Baca juga: Belanda Kembalikan 28.000 Koleksi Artefak Eugene Dubois Ke Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.