Fenomena Kulminasi Matahari di Indonesia sedang Terjadi, Benarkah bikin Cuaca Panas?
27 September 2025 |
16:30 WIB
Kulminasi Matahari merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun di Indonesia. Meski terjadi secara rutin, masih ada sebagian masyarakat yang masih belum memahami apa sebenarnya peristiwa alam ini dan mengapa Indonesia jadi salah satu negara yang sering mengalami fenomena ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kulminasi adalah fenomena saat posisi Matahari berada di titik langit tertinggi. Fenomena ini juga dikenal dengan istilah istiwa’ atau kulminasi utama.
Baca juga: Fakta Seputar Hari Tanpa Bayangan & Wilayah yang Mengalaminya
Pada saat kulminasi, Matahari tepat berada di titik zenit atau di atas kepala pengamat. Kondisi tersebut membuat bayangan benda tegak seolah menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Oleh karena itu, sebagian masyarakat juga menyebut Kulminasi Matahari sebagai fenomena tanpa bayangan.
Fenomena ini bisa terjadi di Indonesia karena wilayahnya berada dekat dengan garis ekuator. Sebagai gambaran, bidang ekuator Bumi tidak sepenuhnya sejajar dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi Bumi, sehingga posisi Matahari seakan-akan terus bergeser antara 23,5 derajat Lintang Utara hingga 23,5 derajat Lintang Selatan. Perubahan posisi itu disebut gerak semu harian Matahari.
Dengan letak geografis Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa, kulminasi utama akan dialami dua kali dalam setahun. Biasanya, momen ini berlangsung sekitar bulan Maret serta September hingga Oktober.
Berikut daftar waktu kulminasi utama di beberapa kota Indonesia tahun 2025:
Fenomena kulminasi Matahari akan membawa sejumlah dampak yang bisa diamati langsung. Pertama adalah hilangnya bayangan. Saat fenomena ini terjadi, benda-benda tegak lurus seolah tidak memiliki bayangan ketika Matahari tepat berada di atas kepala pengamat.
Fenomena unik ini memang menarik untuk disaksikan, tetapi waktu pengamatan harus sangat tepat. Selain itu, kondisi cuaca juga berperan penting karena hanya dapat terlihat jelas saat langit cerah dan tidak tertutup awan.
Kedua adalah potensi meningkatnya suhu di permukaan Bumi. Hal ini disebabkan posisi Matahari yang berada di zenit, sehingga sinarnya jatuh tegak lurus ke permukaan. Meski begitu, peningkatan suhu tidak serta-merta hanya dipengaruhi oleh posisi Matahari. Faktor lain seperti tutupan awan, tingkat kelembapan, hingga jumlah bibit awan hujan juga sangat menentukan.
“Jarak Bumi-Matahari juga sedikit berperan dalam kenaikan dan penurunan suhu rata-rata global permukaan Bumi, meskipun hanya kurang lebih 2,4°C,” tulis BRIN.
Dampak ketiga adalah intensitas sinar atau radiasi yang lebih tinggi dari biasanya. Karena itu, masyarakat diimbau untuk melindungi diri, misalnya dengan menggunakan tabir surya, topi, payung, atau perlengkapan lain yang dapat mengurangi paparan langsung sinar Matahari.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kulminasi adalah fenomena saat posisi Matahari berada di titik langit tertinggi. Fenomena ini juga dikenal dengan istilah istiwa’ atau kulminasi utama.
Baca juga: Fakta Seputar Hari Tanpa Bayangan & Wilayah yang Mengalaminya
Pada saat kulminasi, Matahari tepat berada di titik zenit atau di atas kepala pengamat. Kondisi tersebut membuat bayangan benda tegak seolah menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Oleh karena itu, sebagian masyarakat juga menyebut Kulminasi Matahari sebagai fenomena tanpa bayangan.
Fenomena ini bisa terjadi di Indonesia karena wilayahnya berada dekat dengan garis ekuator. Sebagai gambaran, bidang ekuator Bumi tidak sepenuhnya sejajar dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi Bumi, sehingga posisi Matahari seakan-akan terus bergeser antara 23,5 derajat Lintang Utara hingga 23,5 derajat Lintang Selatan. Perubahan posisi itu disebut gerak semu harian Matahari.
Dengan letak geografis Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa, kulminasi utama akan dialami dua kali dalam setahun. Biasanya, momen ini berlangsung sekitar bulan Maret serta September hingga Oktober.
Berikut daftar waktu kulminasi utama di beberapa kota Indonesia tahun 2025:
- Jakarta: 4 Maret 2025 pukul 12.04 WIB & 9 Oktober 2025 pukul 11.39 WIB
- Pontianak: 20 Maret 2025 pukul 11.50 WIB & 23 September 2025 pukul 11.35 WIB
- Banda Aceh: 8 September 2025 pukul 12.36/26 WIB
- Bandung: 11 Oktober 2025 pukul 11.36.20 WIB
- Semarang: 11 Oktober 2025 pukul 11.24.58 WIB
- Yogyakarta: 13 Oktober 2025 pukul 11.24.47 WIB
- Surabaya: 12 Oktober 2025 pukul 11.15.39 WIB
- Makassar: 6 Oktober 2025 pukul 11.50.28 WITA
- Merauke: 15 Oktober 2025 pukul 11.51.16 WIT (Waktu kulminasi kota lain bisa dilihat di tautan berikut: BMKG)
Fenomena kulminasi Matahari akan membawa sejumlah dampak yang bisa diamati langsung. Pertama adalah hilangnya bayangan. Saat fenomena ini terjadi, benda-benda tegak lurus seolah tidak memiliki bayangan ketika Matahari tepat berada di atas kepala pengamat.
Fenomena unik ini memang menarik untuk disaksikan, tetapi waktu pengamatan harus sangat tepat. Selain itu, kondisi cuaca juga berperan penting karena hanya dapat terlihat jelas saat langit cerah dan tidak tertutup awan.
Kedua adalah potensi meningkatnya suhu di permukaan Bumi. Hal ini disebabkan posisi Matahari yang berada di zenit, sehingga sinarnya jatuh tegak lurus ke permukaan. Meski begitu, peningkatan suhu tidak serta-merta hanya dipengaruhi oleh posisi Matahari. Faktor lain seperti tutupan awan, tingkat kelembapan, hingga jumlah bibit awan hujan juga sangat menentukan.
“Jarak Bumi-Matahari juga sedikit berperan dalam kenaikan dan penurunan suhu rata-rata global permukaan Bumi, meskipun hanya kurang lebih 2,4°C,” tulis BRIN.
Dampak ketiga adalah intensitas sinar atau radiasi yang lebih tinggi dari biasanya. Karena itu, masyarakat diimbau untuk melindungi diri, misalnya dengan menggunakan tabir surya, topi, payung, atau perlengkapan lain yang dapat mengurangi paparan langsung sinar Matahari.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.