MotoGP Mandalika 2025 Hadapi Tantangan, Penjualan Tiket Masih Lambat Jelang Balapan
24 September 2025 |
08:42 WIB
Ajang MotoGP Mandalika yang akan berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit tahun ini menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang paling mencolok adalah kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, sehingga penjualan tiket berjalan lambat.
MotoGP seri Indonesia dijadwalkan digelar pada 3 Oktober 2025. Namun hingga pertengahan September, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) – anak usaha ITDC – baru berhasil menjual 30 persen tiket. Angka ini membuat penyelenggara harus bekerja ekstra keras sebelum balapan dimulai.
Pengamat pariwisata Azril Azahari menilai kondisi tersebut tidak mengejutkan. Menurutnya, MotoGP merupakan bentuk sport tourism dengan biaya tinggi, sehingga hanya kelompok masyarakat tertentu, terutama kelas menengah ke atas, yang sanggup menonton langsung di sirkuit.
Baca Juga: MotoGP Mandalika 2025: Tiket Khusus untuk Pemilik KTP NTB Mulai Rp200.000
“Kalau kita lihat di Malaysia atau Singapura, orang Indonesia yang menonton di sana jumlahnya tidak banyak,” kata Azril kepada Hypeabis.id.
Dia mengatakan, MotoGP tetap punya penggemar di Indonesia, tetapi jumlahnya tidak sebanyak cabang olahraga lain. Sepak bola, bulu tangkis, dan lari adalah contoh olahraga yang memiliki jumlah pencinta jauh lebih besar dibandingkan dengan balap motor tersebut. Salah satu alasannya adalah karena lebih terjangkau dan merakyat.
Selain itu, di dalam negeri,hiburan rakyat yang dekat dengan masyarakat dan rutin diadakan seperti pacu kuda atau pacu jalur juga mampu menyedot ribuan penonton setiap kali berlangsung.
Menurut Azril, generasi muda Indonesia kini juga lebih memilih konser musik ketimbang menyaksikan MotoGP. Dia menilai anak muda tidak menunjukkan antusiasme setinggi itu terhadap balap motor. Padahal, harga tiket konser sering kali lebih mahal. Hal ini dapat terjadi lantaran konser menawarkan hiburan berbeda, ada interaksi antara penggemar dengan artisnya.
Penyebab lain penjualan tiket yang cenderung lamban adalah kondisi ekonomi yang berpengaruh terhadap daya beli. Pada akhirnya, banyak orang Indonesia memilih mengalokasikan uangnya untuk hiburan lain yang lebih sesuai.
Sementara itu, Direktur Utama MGPA Priandhi Satria mengungkapkan bahwa penjualan tiket menjadi salah satu dari empat isu utama yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Persiapan MotoGP 2025. Capaian penjualan 30 persen memerlukan strategi khusus untuk meningkatkannya.
Manajemen pun memperkuat promosi dengan kampanye digital dan kegiatan langsung di lapangan. “Kami memaksimalkan program Riders to School, Student Goes to Paddock, hingga parade pembalap. Semua program ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi untuk menghadirkan euforia MotoGP kepada masyarakat NTB sekaligus meningkatkan penjualan tiket,” ujarnya.
MGPA juga meluncurkan program harga tiket khusus untuk pemilik Kartu Tanda Penduduk (KTP) Nusa Tenggara Barat. Priandhi berharap langkah itu mampu menarik lebih banyak warga lokal hadir di sirkuit. Dia optimistis program ini bisa menggerakkan roda ekonomi daerah, mulai dari hotel, kuliner, transportasi, hingga usaha kecil menengah.
Panitia membuka penjualan tiket khusus itu hingga 5 Oktober 2025 di Lombok Epicentrum Mall, Atrium – Ground Floor, serta lewat jaringan resmi seperti ASITA dan ASTINDO. Mereka memangkas harga cukup signifikan. Premium Grandstand A, misalnya, dijual Rp875.000 dari harga awal Rp1.750.000. Sementara Premium Grandstand B, C, J, dan K dilepas Rp450.000 dari Rp900.000. Untuk kategori Regular Grandstand E, G, H, dan I, tiket hanya Rp200.000 dari semula Rp400.000.
Manajemen menargetkan strategi promosi dan potongan harga berdampak terhadap jumlah penjualan tiket MotoGP. Dalam ajang ini, MGPA pun berharap ada ratusan ribu penonton dari dalam dan luar negeri yang datang ke Pertamina Mandalika International Circuit untuk hadir menyaksikan Marc Marquez dan pembalap lainnya memacu kendaraannya.
Dari sisi persiapan, Deputi Commercial MGPA Rully Habibie memastikan semua agenda berjalan sesuai rencana. “Kami menjamin MotoGP Mandalika berlangsung meriah dan mengangkat nama NTB ke mata dunia. Dari sisi race, kami sudah siap 90 persen. Semua marshall yang bertugas adalah putra-putri NTB,” tegasnya.
MGPA juga merancang berbagai side event untuk menambah daya tarik penonton. Rangkaian acara itu akan bergulir pada awal Oktober, sebelum balapan utama dimulai.
Baca Juga: Hotel di Lombok & Bali Panen Pesanan Jelang MotoGP Mandalika
MotoGP seri Indonesia dijadwalkan digelar pada 3 Oktober 2025. Namun hingga pertengahan September, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) – anak usaha ITDC – baru berhasil menjual 30 persen tiket. Angka ini membuat penyelenggara harus bekerja ekstra keras sebelum balapan dimulai.
Pengamat pariwisata Azril Azahari menilai kondisi tersebut tidak mengejutkan. Menurutnya, MotoGP merupakan bentuk sport tourism dengan biaya tinggi, sehingga hanya kelompok masyarakat tertentu, terutama kelas menengah ke atas, yang sanggup menonton langsung di sirkuit.
Baca Juga: MotoGP Mandalika 2025: Tiket Khusus untuk Pemilik KTP NTB Mulai Rp200.000
“Kalau kita lihat di Malaysia atau Singapura, orang Indonesia yang menonton di sana jumlahnya tidak banyak,” kata Azril kepada Hypeabis.id.
Dia mengatakan, MotoGP tetap punya penggemar di Indonesia, tetapi jumlahnya tidak sebanyak cabang olahraga lain. Sepak bola, bulu tangkis, dan lari adalah contoh olahraga yang memiliki jumlah pencinta jauh lebih besar dibandingkan dengan balap motor tersebut. Salah satu alasannya adalah karena lebih terjangkau dan merakyat.
Selain itu, di dalam negeri,hiburan rakyat yang dekat dengan masyarakat dan rutin diadakan seperti pacu kuda atau pacu jalur juga mampu menyedot ribuan penonton setiap kali berlangsung.
Menurut Azril, generasi muda Indonesia kini juga lebih memilih konser musik ketimbang menyaksikan MotoGP. Dia menilai anak muda tidak menunjukkan antusiasme setinggi itu terhadap balap motor. Padahal, harga tiket konser sering kali lebih mahal. Hal ini dapat terjadi lantaran konser menawarkan hiburan berbeda, ada interaksi antara penggemar dengan artisnya.
Penyebab lain penjualan tiket yang cenderung lamban adalah kondisi ekonomi yang berpengaruh terhadap daya beli. Pada akhirnya, banyak orang Indonesia memilih mengalokasikan uangnya untuk hiburan lain yang lebih sesuai.
Sementara itu, Direktur Utama MGPA Priandhi Satria mengungkapkan bahwa penjualan tiket menjadi salah satu dari empat isu utama yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Persiapan MotoGP 2025. Capaian penjualan 30 persen memerlukan strategi khusus untuk meningkatkannya.
Manajemen pun memperkuat promosi dengan kampanye digital dan kegiatan langsung di lapangan. “Kami memaksimalkan program Riders to School, Student Goes to Paddock, hingga parade pembalap. Semua program ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi untuk menghadirkan euforia MotoGP kepada masyarakat NTB sekaligus meningkatkan penjualan tiket,” ujarnya.
MGPA juga meluncurkan program harga tiket khusus untuk pemilik Kartu Tanda Penduduk (KTP) Nusa Tenggara Barat. Priandhi berharap langkah itu mampu menarik lebih banyak warga lokal hadir di sirkuit. Dia optimistis program ini bisa menggerakkan roda ekonomi daerah, mulai dari hotel, kuliner, transportasi, hingga usaha kecil menengah.
Panitia membuka penjualan tiket khusus itu hingga 5 Oktober 2025 di Lombok Epicentrum Mall, Atrium – Ground Floor, serta lewat jaringan resmi seperti ASITA dan ASTINDO. Mereka memangkas harga cukup signifikan. Premium Grandstand A, misalnya, dijual Rp875.000 dari harga awal Rp1.750.000. Sementara Premium Grandstand B, C, J, dan K dilepas Rp450.000 dari Rp900.000. Untuk kategori Regular Grandstand E, G, H, dan I, tiket hanya Rp200.000 dari semula Rp400.000.
Manajemen menargetkan strategi promosi dan potongan harga berdampak terhadap jumlah penjualan tiket MotoGP. Dalam ajang ini, MGPA pun berharap ada ratusan ribu penonton dari dalam dan luar negeri yang datang ke Pertamina Mandalika International Circuit untuk hadir menyaksikan Marc Marquez dan pembalap lainnya memacu kendaraannya.
Dari sisi persiapan, Deputi Commercial MGPA Rully Habibie memastikan semua agenda berjalan sesuai rencana. “Kami menjamin MotoGP Mandalika berlangsung meriah dan mengangkat nama NTB ke mata dunia. Dari sisi race, kami sudah siap 90 persen. Semua marshall yang bertugas adalah putra-putri NTB,” tegasnya.
MGPA juga merancang berbagai side event untuk menambah daya tarik penonton. Rangkaian acara itu akan bergulir pada awal Oktober, sebelum balapan utama dimulai.
Baca Juga: Hotel di Lombok & Bali Panen Pesanan Jelang MotoGP Mandalika
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.