Wawancara CEO Se'Indonesia Rinaldi Dharma Utama, Membawa Kuliner NTT Mendunia
23 September 2025 |
21:30 WIB
Se’Indonesia tengah mencuri perhatian industri kuliner dengan memodernisasi sei sapi khas NTT menjadi hidangan cepat saji yang terjangkau. Berdiri pada 2023, brand tersebut kini sudah mengelola lebih dari 150 gerai cloud kitchen dan melayani 2–3 juta porsi per bulan.
Baru-baru ini, Se’Indonesia juga masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2024 sebagai satu-satunya brand kuliner dari Indonesia. Didukung pendanaan seri A senilai US$ 9,7 juta, Se’Indonesia menargetkan ekspansi agresif hingga 500 gerai di Indonesia sekaligus memperkuat fondasi menuju pasar global.
Seperti apa perjalanan hingga rencana bisnis Se'Indonesia ke depan? Hypeabis.id berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan CEO dan Co-founder Se'Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.
Baca juga: Perjalanan Startup Ringkas Sampai Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025
Boleh diceritakan apa yang menginspirasi Anda mendirikan Se’Indonesia?
Awalnya saya membangun startup bernama Lakuliner untuk membantu brand F&B berkembang lebih pesat lewat jaringan cloud kitchen. Dari situ saya belajar banyak mengenai bisnis kuliner, klien kami ada sekitar 150 brand yang sebagian besar menjual menu ayam.
Saya sendiri sebetulnya pencinta daging sapi, steak dan olahan lainnya. Tapi konsumsi daging sapi di Indonesia sangat rendah hanya sekitar 2 kilogram per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata global 6 kilogram, apalagi dibanding Amerika Serikat yang bisa ratusan kilogram.
Di situ saya melihat ada gap, bukan karena orang tidak suka sapi, tapi karena harganya tidak terjangkau. Dari situ lahir ide membuat brand yang bisa menghadirkan daging sapi Australia kualitas premium dengan harga ramah kantong mulai dari Rp25.000 per porsi.
Kenapa memilih sei sapi khas NTT, bukan jenis olahan sapi lain seperti steak?
Steak dan premium cut lain sulit dijual murah tanpa mengorbankan kualitas. Kami mencari cara agar secondary cuts bisa diolah jadi menu lezat, bernutrisi, tapi tetap affordable. Lalu saya melihat tradisi sei sapi dari Nusa Tenggara Timur yang bisa diadopsi. Kami kemudian memodernisasi hidangan itu dengan standar cepat saji dan memastikan kehalalannya.
Bagaimana Se’Indonesia mengubah sei sapi dari kuliner tradisional menjadi makanan cepat saji modern?
Kami membuatnya lebih praktis, konsisten, dan scalable. Misalnya, dalam tradisi asli digunakan daun tertentu untuk membungkus daging dan rebusan yang sulit diduplikasi untuk skala quick service restaurant, tapi bahan itu sulit di-supply.
Jadi kami ganti dengan kemasan modern yang tetap menjaga cita rasa. 90% produk diolah di central kitchen lalu dikirim ke outlet. Outlet hanya melakukan finishing, seperti memasak nasi atau plating Dengan begitu, rasa selalu konsisten dan outlet bisa beroperasi dengan efisiensi tinggi sehingga bisa menekan harga jual.
Apa yang membedakan Se’Indonesia dengan pemain sei sapi lain yang ada?
Dua hal utama yaitu kualitas dan harga. Kami menggunakan daging impor Australia dengan grade tinggi, tapi harga menu terjangkau, rata-rata di harga Rp25.000-an. Itu jauh lebih rendah dibanding beef bowl internasional yang bisa Rp40.000–Rp50.000. Rahasianya ada di efisiensi produksi lewat central kitchen dan kontrol rantai pasok.
'Bagaimana capaian penjualan Se’Indonesia saat ini?
Se’Indonesia sudah memiliki lebih dari 150 cloud kitchen yang tersebar di Jawa, Bali, dan Sumatera dengan penjualan sekitar 2 hingga 3 juta porsi per bulan setara dengan 300 ton daging sapi. Untuk offline, kami baru meresmikan gerai flagship store di Palmerah, Jakarta Barat. Tahun ini targetnya 20–30 outlet dine-in di kota-kota besar yang desain yang modern, estetik, dan nyaman.
Semua gerai di Indonesia kami operasikan sendiri tanpa membuka sistem franchise atau kemitraan, untuk menjaga kualitas, konsistensi, dan reputasi dari brand.
Lalu apa target penjualan dan ekspansi ke depannya terutama setelah mendapatkan pendanaan US$9,7 juta dari Insignia Ventures dan investor lain?
Pendanaan ini sebagian besar kami alokasikan untuk memperkuat gerai offline. Target jangka panjang kami ada 300-500 gerai di Indonesia. Kalau 1 gerai bisa menjual 50.000 porsi per bulan, maka jika mencapai 500 gerai artinya potensi penjualan bisa mencapai 25 juta porsi per bulan.
Itu target besar yang ingin kami wujudkan sambil memperluas akses konsumsi sapi di Indonesia. Jadi meski awalnya kami tumbuh dari delivery online, outlet fisik tetap penting.
Bagaimana strategi marketing Se’Indonesia untuk bisa menjual 2–3 juta porsi per bulan?
Kami percaya value harus bicara lebih dulu. Kalau harga dan kualitas sudah tepat, orang akan repeat order dan rekomendasikan. Kami juga banyak mengandalkan digital marketing untuk edukasi pasar. Review konsumen di media sosial jadi faktor kunci karena bisa langsung dibandingkan dengan brand lain. Setelah edukasi online berhasil, barulah kami dorong pertumbuhan outlet offline.
Apa tantangan terbesar dalam mengembangkan bisnis berbasis daging sapi?
Rantai pasok. Saat ini kami masih bergantung pada impor sapi dari Australia dan Brazil. Regulasi kuota impor bisa jadi hambatan. Peternak lokal belum bisa memenuhi standar kualitas dan kuantitas. Ke depan, ketika sudah sampai skala tertentu, kami ingin mengembangkan peternakan sendiri agar pasokan lebih stabil.
Bagaimana rencana ekspansi ke luar negeri?
Kami mempersiapkan untuk uji coba 3–5 outlet dulu di Malaysia dan Singapura mulai tahun depan. Awalnya akan dikelola langsung oleh kami, supaya bisa membuktikan product-market fit. Setelah itu baru membuka peluang kemitraan.
Kenapa memilih nama Se’Indonesia?
Karena sejak awal kami punya mimpi membawa kuliner Indonesia ke kancah global dengan identitas yang jelas. Kalau sukses, orang luar negeri akan langsung mengenal bahwa ini brand dari Indonesia.
Apa visi jangka panjang Se’Indonesia?
Visi kami adalah menjadi quick service restaurant (QSR) internasional asal Indonesia. Bukan hanya menjual makanan di outlet, tapi juga masuk ke produk consumer goods berbasis olahan sapi dengan harga lebih terjangkau. Dengan begitu, misi kami bukan hanya membangun brand, tapi juga meningkatkan konsumsi sapi nasional yang saat ini masih sangat rendah.
Se’Indonesia juga masuk daftar Forbes Asia 100 to Watch. Apa arti pengakuan itu?
Itu jadi validasi penting bagi kami. Forbes menyoroti startup dengan inovasi dan potensi besar di Asia, dan Se’Indonesia terpilih sebagai satu-satunya brand kuliner dari Indonesia. Itu jadi motivasi untuk membuktikan bahwa kuliner Nusantara bisa naik kelas, bukan hanya di dalam negeri tapi juga di pasar global.
Baca juga: Torch Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025, Makin Banyak Dilirik Investor
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Baru-baru ini, Se’Indonesia juga masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch 2024 sebagai satu-satunya brand kuliner dari Indonesia. Didukung pendanaan seri A senilai US$ 9,7 juta, Se’Indonesia menargetkan ekspansi agresif hingga 500 gerai di Indonesia sekaligus memperkuat fondasi menuju pasar global.
Seperti apa perjalanan hingga rencana bisnis Se'Indonesia ke depan? Hypeabis.id berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan CEO dan Co-founder Se'Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.
Baca juga: Perjalanan Startup Ringkas Sampai Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025
Boleh diceritakan apa yang menginspirasi Anda mendirikan Se’Indonesia?
Awalnya saya membangun startup bernama Lakuliner untuk membantu brand F&B berkembang lebih pesat lewat jaringan cloud kitchen. Dari situ saya belajar banyak mengenai bisnis kuliner, klien kami ada sekitar 150 brand yang sebagian besar menjual menu ayam.
Saya sendiri sebetulnya pencinta daging sapi, steak dan olahan lainnya. Tapi konsumsi daging sapi di Indonesia sangat rendah hanya sekitar 2 kilogram per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata global 6 kilogram, apalagi dibanding Amerika Serikat yang bisa ratusan kilogram.
Di situ saya melihat ada gap, bukan karena orang tidak suka sapi, tapi karena harganya tidak terjangkau. Dari situ lahir ide membuat brand yang bisa menghadirkan daging sapi Australia kualitas premium dengan harga ramah kantong mulai dari Rp25.000 per porsi.
Kenapa memilih sei sapi khas NTT, bukan jenis olahan sapi lain seperti steak?
Steak dan premium cut lain sulit dijual murah tanpa mengorbankan kualitas. Kami mencari cara agar secondary cuts bisa diolah jadi menu lezat, bernutrisi, tapi tetap affordable. Lalu saya melihat tradisi sei sapi dari Nusa Tenggara Timur yang bisa diadopsi. Kami kemudian memodernisasi hidangan itu dengan standar cepat saji dan memastikan kehalalannya.
Bagaimana Se’Indonesia mengubah sei sapi dari kuliner tradisional menjadi makanan cepat saji modern?
Kami membuatnya lebih praktis, konsisten, dan scalable. Misalnya, dalam tradisi asli digunakan daun tertentu untuk membungkus daging dan rebusan yang sulit diduplikasi untuk skala quick service restaurant, tapi bahan itu sulit di-supply.
Jadi kami ganti dengan kemasan modern yang tetap menjaga cita rasa. 90% produk diolah di central kitchen lalu dikirim ke outlet. Outlet hanya melakukan finishing, seperti memasak nasi atau plating Dengan begitu, rasa selalu konsisten dan outlet bisa beroperasi dengan efisiensi tinggi sehingga bisa menekan harga jual.
Apa yang membedakan Se’Indonesia dengan pemain sei sapi lain yang ada?
Dua hal utama yaitu kualitas dan harga. Kami menggunakan daging impor Australia dengan grade tinggi, tapi harga menu terjangkau, rata-rata di harga Rp25.000-an. Itu jauh lebih rendah dibanding beef bowl internasional yang bisa Rp40.000–Rp50.000. Rahasianya ada di efisiensi produksi lewat central kitchen dan kontrol rantai pasok.

Menu Se'Indonesia (Sumber gambar: Se'Indonesia)
'Bagaimana capaian penjualan Se’Indonesia saat ini?
Se’Indonesia sudah memiliki lebih dari 150 cloud kitchen yang tersebar di Jawa, Bali, dan Sumatera dengan penjualan sekitar 2 hingga 3 juta porsi per bulan setara dengan 300 ton daging sapi. Untuk offline, kami baru meresmikan gerai flagship store di Palmerah, Jakarta Barat. Tahun ini targetnya 20–30 outlet dine-in di kota-kota besar yang desain yang modern, estetik, dan nyaman.
Semua gerai di Indonesia kami operasikan sendiri tanpa membuka sistem franchise atau kemitraan, untuk menjaga kualitas, konsistensi, dan reputasi dari brand.
Lalu apa target penjualan dan ekspansi ke depannya terutama setelah mendapatkan pendanaan US$9,7 juta dari Insignia Ventures dan investor lain?
Pendanaan ini sebagian besar kami alokasikan untuk memperkuat gerai offline. Target jangka panjang kami ada 300-500 gerai di Indonesia. Kalau 1 gerai bisa menjual 50.000 porsi per bulan, maka jika mencapai 500 gerai artinya potensi penjualan bisa mencapai 25 juta porsi per bulan.
Itu target besar yang ingin kami wujudkan sambil memperluas akses konsumsi sapi di Indonesia. Jadi meski awalnya kami tumbuh dari delivery online, outlet fisik tetap penting.
Bagaimana strategi marketing Se’Indonesia untuk bisa menjual 2–3 juta porsi per bulan?
Kami percaya value harus bicara lebih dulu. Kalau harga dan kualitas sudah tepat, orang akan repeat order dan rekomendasikan. Kami juga banyak mengandalkan digital marketing untuk edukasi pasar. Review konsumen di media sosial jadi faktor kunci karena bisa langsung dibandingkan dengan brand lain. Setelah edukasi online berhasil, barulah kami dorong pertumbuhan outlet offline.

Gerai offline Se'Indonesia (Sumber gambar: Se'Indonesia)
Rantai pasok. Saat ini kami masih bergantung pada impor sapi dari Australia dan Brazil. Regulasi kuota impor bisa jadi hambatan. Peternak lokal belum bisa memenuhi standar kualitas dan kuantitas. Ke depan, ketika sudah sampai skala tertentu, kami ingin mengembangkan peternakan sendiri agar pasokan lebih stabil.
Bagaimana rencana ekspansi ke luar negeri?
Kami mempersiapkan untuk uji coba 3–5 outlet dulu di Malaysia dan Singapura mulai tahun depan. Awalnya akan dikelola langsung oleh kami, supaya bisa membuktikan product-market fit. Setelah itu baru membuka peluang kemitraan.

Peresmian flagship store Se'Indonesia di Palmerah (Sumber gambar: Se'Indonesia)
Karena sejak awal kami punya mimpi membawa kuliner Indonesia ke kancah global dengan identitas yang jelas. Kalau sukses, orang luar negeri akan langsung mengenal bahwa ini brand dari Indonesia.
Apa visi jangka panjang Se’Indonesia?
Visi kami adalah menjadi quick service restaurant (QSR) internasional asal Indonesia. Bukan hanya menjual makanan di outlet, tapi juga masuk ke produk consumer goods berbasis olahan sapi dengan harga lebih terjangkau. Dengan begitu, misi kami bukan hanya membangun brand, tapi juga meningkatkan konsumsi sapi nasional yang saat ini masih sangat rendah.
Se’Indonesia juga masuk daftar Forbes Asia 100 to Watch. Apa arti pengakuan itu?
Itu jadi validasi penting bagi kami. Forbes menyoroti startup dengan inovasi dan potensi besar di Asia, dan Se’Indonesia terpilih sebagai satu-satunya brand kuliner dari Indonesia. Itu jadi motivasi untuk membuktikan bahwa kuliner Nusantara bisa naik kelas, bukan hanya di dalam negeri tapi juga di pasar global.
Baca juga: Torch Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025, Makin Banyak Dilirik Investor
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.