Robotik Medis Bisa Kurangi Risiko Bedah Otak yang Kompleks
23 September 2025 |
20:30 WIB
Bedah saraf dan otak dikenal sebagai salah satu bidang kedokteran paling kompleks. Kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak besar bagi kondisi pasien, bahkan menentukan kualitas hidup mereka setelah operasi. Oleh sebab itu, aspek presisi, keamanan, dan minimnya komplikasi menjadi prioritas utama setiap tindakan medis.
Dalam praktik global, penggunaan teknologi robotik di ruang operasi sudah menjadi standar untuk meningkatkan akurasi dan keselamatan. Robot bukan menggantikan peran dokter, tetapi memperkuat keahlian mereka melalui panduan presisi milimeter yang sulit dicapai tangan manusia semata.
Dengan bantuan robotic navigation, operasi dapat dilakukan lebih stabil, risiko komplikasi menurun, dan pemulihan pasien berlangsung lebih cepat.
“Kalau operasi manual, dokter bisa terpapar radiasi X-ray berkali-kali dalam sehari. Dengan bantuan robot, paparan itu berkurang drastis. Jadi teknologi ini melindungi pasien sekaligus dokter,” ujar Prof. dr. Yusak MT Siahaan Sp.N (K), dokter spesialis saraf neurologi.
Baca juga: Keunggulan Operasi Jantung Robotik Pertama di Indonesia yang Minim Luka dan Rasa Sakit
Menurutnya, teknologi robotik juga dapat digunakan untuk berbagai prosedur bedah saraf yang kompleks mulai dari skoliosis, brain biopsy, hingga operasi skull base. AKan tetapi, agar teknologi tersebut dapat dirasakan manfaatnya secara luas oleh Masyarakat, maka diperlukan dukungan lintas pihak mulai dari manajemen rumah sakit, pemerintah, hingga Masyarakat.
“Klinisi tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh dukungan dari berbagai pihak. Kalau hanya satu rumah sakit yang punya, harapannya nanti akan ada rumah sakit lain yang mengikuti. Tujuan utama kehadiran robot bedah ini adalah demi keselamatan pasien,” jelasnya.
Teknologi tersebut kini mulai diadopsi di Indonesia melalui kehadiran sistem robotik khusus untuk operasi saraf dan otak Brainlab Cirq Robotic Suite pada ajang Siloam Neuroscience Summit (SNS) 2025. Kehadiran perangkat ini menandai langkah maju bidang medis Tanah Air, sejajar dengan pusat neurosains internasional yang telah lebih dulu mengadopsinya.
CEO Siloam International Hospitals Caroline Riady menyebut, kehadiran robotik ini menjadi salah satu bagian dari upaya menghadirkan standar operasi yang lebih aman.
“Presisi sejati hadir ketika teknologi canggih dipadukan dengan keahlian para dokter bedah saraf terbaik bangsa. Precision meets experts, itulah kunci hasil operasi yang lebih efektif serta meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujarnya.
Hal senada disampaikan dr. Erick Prawira Suhardhi, MARS, Direktur Siloam Hospitals Lippo Village. Menurutnya, investasi ini bukan sekadar menghadirkan perangkat mutakhir, tapi menyiapkan ekosistem tenaga medis yang mumpuni. “Bukan hanya dokter spesialis yang siap mengoperasikan, tetapi juga seluruh tenaga medis penunjang tindakan sudah terlatih untuk mendukung Brainlab Cirq Robotic Suite,” katanya.
Brainlab Cirq Robotic Suite memungkinkan prosedur bedah otak dilakukan dengan panduan robot yang stabil dan akurat. Teknologi ini meminimalkan kesalahan, mengurangi durasi tindakan, serta meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi.
Selain meningkatkan presisi operasi, teknologi ini juga mendorong penguatan ekosistem tenaga medis. Dokter spesialis hingga tenaga penunjang dituntut memahami prosedur berbasis robotik, sekaligus membuka peluang pengembangan standar keselamatan operasi yang lebih tinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam praktik global, penggunaan teknologi robotik di ruang operasi sudah menjadi standar untuk meningkatkan akurasi dan keselamatan. Robot bukan menggantikan peran dokter, tetapi memperkuat keahlian mereka melalui panduan presisi milimeter yang sulit dicapai tangan manusia semata.
Dengan bantuan robotic navigation, operasi dapat dilakukan lebih stabil, risiko komplikasi menurun, dan pemulihan pasien berlangsung lebih cepat.
“Kalau operasi manual, dokter bisa terpapar radiasi X-ray berkali-kali dalam sehari. Dengan bantuan robot, paparan itu berkurang drastis. Jadi teknologi ini melindungi pasien sekaligus dokter,” ujar Prof. dr. Yusak MT Siahaan Sp.N (K), dokter spesialis saraf neurologi.
Baca juga: Keunggulan Operasi Jantung Robotik Pertama di Indonesia yang Minim Luka dan Rasa Sakit
Menurutnya, teknologi robotik juga dapat digunakan untuk berbagai prosedur bedah saraf yang kompleks mulai dari skoliosis, brain biopsy, hingga operasi skull base. AKan tetapi, agar teknologi tersebut dapat dirasakan manfaatnya secara luas oleh Masyarakat, maka diperlukan dukungan lintas pihak mulai dari manajemen rumah sakit, pemerintah, hingga Masyarakat.
“Klinisi tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh dukungan dari berbagai pihak. Kalau hanya satu rumah sakit yang punya, harapannya nanti akan ada rumah sakit lain yang mengikuti. Tujuan utama kehadiran robot bedah ini adalah demi keselamatan pasien,” jelasnya.
Teknologi tersebut kini mulai diadopsi di Indonesia melalui kehadiran sistem robotik khusus untuk operasi saraf dan otak Brainlab Cirq Robotic Suite pada ajang Siloam Neuroscience Summit (SNS) 2025. Kehadiran perangkat ini menandai langkah maju bidang medis Tanah Air, sejajar dengan pusat neurosains internasional yang telah lebih dulu mengadopsinya.
CEO Siloam International Hospitals Caroline Riady menyebut, kehadiran robotik ini menjadi salah satu bagian dari upaya menghadirkan standar operasi yang lebih aman.
“Presisi sejati hadir ketika teknologi canggih dipadukan dengan keahlian para dokter bedah saraf terbaik bangsa. Precision meets experts, itulah kunci hasil operasi yang lebih efektif serta meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujarnya.
Hal senada disampaikan dr. Erick Prawira Suhardhi, MARS, Direktur Siloam Hospitals Lippo Village. Menurutnya, investasi ini bukan sekadar menghadirkan perangkat mutakhir, tapi menyiapkan ekosistem tenaga medis yang mumpuni. “Bukan hanya dokter spesialis yang siap mengoperasikan, tetapi juga seluruh tenaga medis penunjang tindakan sudah terlatih untuk mendukung Brainlab Cirq Robotic Suite,” katanya.
Brainlab Cirq Robotic Suite memungkinkan prosedur bedah otak dilakukan dengan panduan robot yang stabil dan akurat. Teknologi ini meminimalkan kesalahan, mengurangi durasi tindakan, serta meningkatkan kenyamanan pasien pascaoperasi.
Selain meningkatkan presisi operasi, teknologi ini juga mendorong penguatan ekosistem tenaga medis. Dokter spesialis hingga tenaga penunjang dituntut memahami prosedur berbasis robotik, sekaligus membuka peluang pengembangan standar keselamatan operasi yang lebih tinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.