Beauty Tech Jadi Kunci Baru Transformasi Industri Kecantikan Global dan Indonesia
23 September 2025 |
08:00 WIB
Industri kecantikan global tengah memasuki era baru. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, hingga personalisasi berbasis data bukan lagi sekadar tren futuristik, melainkan kunci daya saing baru yang juga mulai merambah Indonesia.
Berdasarkan laporan Grand View Research yang dikutip Asosiasi Kosmetik Kontrak Manufaktur Indonesia (AKKMI), pasar beauty tech diproyeksikan tumbuh rata-rata 18% per tahun dan mencapai US$173 miliar pada 2030. Angka ini memperlihatkan bagaimana teknologi akan menjadi salah satu penggerak utama industri kecantikan di masa depan.
Baca juga: Industri Mode Eropa Bersatu Melawan Ultra-Fast Fashion, Bagaimana Nasib Shein dan Temu?
“Industri kecantikan kini bukan lagi bicara estetika semata, tetapi juga teknologi yang mendukungnya.
Teknologi bukan hanya perangkat, tapi sistem yang membangun ekosistem kecantikan. Dia mempersingkat waktu, menekan biaya, sekaligus menjaga sustainability,” ujar Halim Nababan, Ketua Dewan Pembina AKKMI.
Salah satu kekuatan utama beauty tech terletak pada personalisasi. Berkat teknologi AI, konsumen kini dapat memindai wajah mereka dan segera memperoleh rekomendasi produk yang sesuai dengan kebutuhan spesifik mulai dari skincare berbasis microbiome hingga epigenetic skincare.
Inovasi serupa juga hadir di ranah riasan melalui AI shade finder, yang mampu menentukan pilihan lipstik atau foundation paling cocok dengan tone kulit pengguna.
Lebih jauh, beauty tech tidak hanya menciptakan pengalaman belanja yang lebih intim, tetapi juga meningkatkan efisiensi rantai pasok. Algoritme prediksi permintaan berbasis AI memungkinkan produsen menghindari produksi berlebih sekaligus memangkas jalur distribusi yang tidak perlu.
“Kalau dulu pengiriman ke Papua butuh sepuluh jalur, kini bisa dipangkas jadi dua. Itu bukan hanya efisiensi biaya, tapi juga keberlanjutan,” ujar Halim.
Bagi produsen maklun seperti PT Immortal Cosmedika Indonesia, pemanfaatan teknologi juga diterapkan di lini manufaktur. “Kalau ada 50 varian lipstik, AI bisa mempercepat proses identifikasi warna yang sesuai. Itu mempercepat siklus dari laboratorium ke pasar,” tutur Yoga I Kasjmir, VP Immortal Cosmedika Indonesia.
Meski demikian, ia menegaskan teknologi tetap memiliki keterbatasan, misalnya pada skincare genetik yang masih memerlukan uji laboratorium rumit.
Isu ini pun menjadi sorotan utama Cosmobeauté Indonesia 2025. Pameran kecantikan tahunan tersebut menghadirkan segmen khusus beauty tech sebagai fokus baru industri.
PT Immortal, misalnya, menampilkan konsep cosmetoceuticals dan research-based cosmetics yang memungkinkan produk dipersonalisasi sesuai kondisi kulit individu, bahkan hingga analisis genetik single nucleotide polymorphism (SNP).
“Di luar negeri, teknologi kecantikan berkembang pesat. Dengan menghadirkan beauty tech ke Indonesia, kami ingin produsen lokal bisa langsung mengakses inovasi ini tanpa harus keluar negeri. Lebih murah, lebih cepat, dan lebih relevan dengan kebutuhan industri di sini,” kata Juanita Soerakoesoemah, Portfolio Director Cosmobeauté Indonesia.
Cosmobeauté Indonesia 2025 dijadwalkan berlangsung di ICE BSD dengan lebih dari 500 eksibitor dari 16 negara serta lebih dari 17.000 pengunjung profesional. Dengan sorotan baru pada beauty tech, ajang ini diperkirakan menjadi momentum penting transformasi industri kecantikan Indonesia menuju panggung global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berdasarkan laporan Grand View Research yang dikutip Asosiasi Kosmetik Kontrak Manufaktur Indonesia (AKKMI), pasar beauty tech diproyeksikan tumbuh rata-rata 18% per tahun dan mencapai US$173 miliar pada 2030. Angka ini memperlihatkan bagaimana teknologi akan menjadi salah satu penggerak utama industri kecantikan di masa depan.
Baca juga: Industri Mode Eropa Bersatu Melawan Ultra-Fast Fashion, Bagaimana Nasib Shein dan Temu?
“Industri kecantikan kini bukan lagi bicara estetika semata, tetapi juga teknologi yang mendukungnya.
Teknologi bukan hanya perangkat, tapi sistem yang membangun ekosistem kecantikan. Dia mempersingkat waktu, menekan biaya, sekaligus menjaga sustainability,” ujar Halim Nababan, Ketua Dewan Pembina AKKMI.
Salah satu kekuatan utama beauty tech terletak pada personalisasi. Berkat teknologi AI, konsumen kini dapat memindai wajah mereka dan segera memperoleh rekomendasi produk yang sesuai dengan kebutuhan spesifik mulai dari skincare berbasis microbiome hingga epigenetic skincare.
Inovasi serupa juga hadir di ranah riasan melalui AI shade finder, yang mampu menentukan pilihan lipstik atau foundation paling cocok dengan tone kulit pengguna.
Lebih jauh, beauty tech tidak hanya menciptakan pengalaman belanja yang lebih intim, tetapi juga meningkatkan efisiensi rantai pasok. Algoritme prediksi permintaan berbasis AI memungkinkan produsen menghindari produksi berlebih sekaligus memangkas jalur distribusi yang tidak perlu.
“Kalau dulu pengiriman ke Papua butuh sepuluh jalur, kini bisa dipangkas jadi dua. Itu bukan hanya efisiensi biaya, tapi juga keberlanjutan,” ujar Halim.
Bagi produsen maklun seperti PT Immortal Cosmedika Indonesia, pemanfaatan teknologi juga diterapkan di lini manufaktur. “Kalau ada 50 varian lipstik, AI bisa mempercepat proses identifikasi warna yang sesuai. Itu mempercepat siklus dari laboratorium ke pasar,” tutur Yoga I Kasjmir, VP Immortal Cosmedika Indonesia.
Meski demikian, ia menegaskan teknologi tetap memiliki keterbatasan, misalnya pada skincare genetik yang masih memerlukan uji laboratorium rumit.
Isu ini pun menjadi sorotan utama Cosmobeauté Indonesia 2025. Pameran kecantikan tahunan tersebut menghadirkan segmen khusus beauty tech sebagai fokus baru industri.
PT Immortal, misalnya, menampilkan konsep cosmetoceuticals dan research-based cosmetics yang memungkinkan produk dipersonalisasi sesuai kondisi kulit individu, bahkan hingga analisis genetik single nucleotide polymorphism (SNP).
“Di luar negeri, teknologi kecantikan berkembang pesat. Dengan menghadirkan beauty tech ke Indonesia, kami ingin produsen lokal bisa langsung mengakses inovasi ini tanpa harus keluar negeri. Lebih murah, lebih cepat, dan lebih relevan dengan kebutuhan industri di sini,” kata Juanita Soerakoesoemah, Portfolio Director Cosmobeauté Indonesia.
Cosmobeauté Indonesia 2025 dijadwalkan berlangsung di ICE BSD dengan lebih dari 500 eksibitor dari 16 negara serta lebih dari 17.000 pengunjung profesional. Dengan sorotan baru pada beauty tech, ajang ini diperkirakan menjadi momentum penting transformasi industri kecantikan Indonesia menuju panggung global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.