Musisi jazz dan pemilik festival musik jazz menilai dana Rp 10 triliun dapat berdampak positif (Sumber gambar/ilustrasi: Pexels/ Victor Freitas)

Dana Rp10 Triliun untuk Pembiayaan Berbasis KI, Musisi hingga Festival Jazz Sambut Positif

22 September 2025   |   20:12 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Langkah pemerintah yang berencana menyediakan dana sebesar Rp10 triliun untuk pembiayaan dengan Kekayaan Intelektual (KI) sebagai jaminan mendapatkan sambutan positif dari sejumlah pelaku ekonomi kreatif. Namun, beberapa hal masih perlu kejelasan, salah satunya adalah mekanisme penilaian terhadap Haki.

Musisi Chandra Darusman menilai bahwa dana Rp10 triliun dapat berdampak positif bagi pelaku ekonomi kreatif, karena mereka bisa memanfaatkan Haki selain aset seperti tanah untuk berkembang. “Bagus. Jadi, itu kan memanfaatkan kemampuan jaminan. Enggak hanya tanah, tapi lagu untuk supaya dapat pinjaman,” ujarnya kepada Hypeabis.id di Jakarta beberapa waktu lalu.

Meskipun begitu, dia menekankan banyak hal perlu diatur terkait penjaminan Haki untuk memperoleh pembiayaan. Salah satu fokus utama adalah aspek valuasi, yaitu cara menghitung nilai KI.

Baca Juga: RUU Hak Cipta 2025 Akan Atur Royalti Musik Digital Lewat Sistem Satu Pintu

Chandra menekankan berbagai persiapan perlu dilakukan oleh semua pihak karena bank masih belum sepenuhnya percaya bahwa Haki bisa menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan dan layak dijadikan jaminan pembiayaan.

Selain itu, pemerintah perlu membangun data center sebagai pusat dokumentasi lagu dan musik terkait penggunaan KI sebagai jaminan di sektor musik. Dengan begitu, track record musisi dalam beberapa tahun terakhir dapat terlihat dengan jelas, memperkuat keyakinan bank untuk menyalurkan pembiayaan.

Sejalan dengan Chandra, Chairman Forum Jazz Indonesia Chico Hindarto juga menilai rencana pemerintah mengalokasikan dana Rp10 triliun untuk pembiayaan dengan memanfaatkan IP sebagai jaminan adalah positif. Namun, dia menekankan beberapa hal terkait kapitalisasi perlu kejelasan lebih lanjut.

Dia menyoroti beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh penyelenggara festival musik. Pertama, acara biasanya hanya berlangsung satu tahun sekali. Kedua, karakter KI festival jazz berbeda dari ekonomi kreatif lain yang bisa bermitra dengan perusahaan, seperti Tahilalat yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

Selain itu, lanjutnya, perbankan juga perlu memberikan metode penilaian KI festival jazz, karena sampai saat ini belum ada formula yang jelas bagi pemilik festival musik jazz terkait dengan hal itu.

“Karena kan kita lihat ada potensi ke depan ya. Kalau kolateral tanah, ada kemungkinan apresiasi. Nah, kalau IP ini ada kemungkinan naik atau tidak? Kan masih hantu ya. Artinya ada unsur historisnya dan mesti ada unsur kembali [Return] lagi. Kalau IP-nya baru akan sulit untuk dinilai kan, karena belum ada sejarah,” ujarnya.

Meskipun begitu, Chico menilai jumlah penonton atau eksposur acara yang pernah diadakan bisa menjadi indikator untuk menilai nilai Haki suatu festival musik jazz. Selain itu, rencana pengembangan Haki oleh pemilik festival juga dapat dijadikan faktor pengukurannya.

Dengan begitu, pemilik festival perlu berpikir kreatif untuk memanfaatkan alokasi dana pembiayaan dari pemerintah dan memanfaatkan IP yang dimiliki untuk pengembangan usaha atau bisnis yang lebih luas.

“Mereka harus berpikir beyond dari event itu sendiri,” ujarnya.

Pemilik festival musik jaz dapat mengembangkan Haki dengan membuat merchandise atau usaha lain yang memanfaatkan nama atau merek yang dimiliki. Contoh praktik internasional adalah Montreux Jazz Festival di Swiss, yang memanfaatkan nama festival untuk membuka Montreux Jazz Café.

Tidak hanya membuka kafe sendiri, mereka juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin membuka Montreux Jazz Café di beberapa tempat atau waralaba. Pemilik Montreux Jazz Festival juga tercatat memanfaatkan merek yang dimiliki untuk membuka perusahaan rekaman bernama Montreux Sounds, yang mendokumentasikan dan mendistribusikan rekaman konser dari festival tersebut.

Kreativitas pemilik Montreux Jazz Festival dapat diadopsi oleh festival jaz di Indonesia. Dengan langkah-langkah ini, pengembangan merek festival musik jaz berpotensi meningkatkan valuasi Haki yang dimiliki, sekaligus memperkuat posisi ekonomi kreatif musik di Indonesia.

 

Potensi Musik Jazz


Sementara itu, grup jaz Dua Empat menilai bahwa penggemar musik jaz di dalam negeri terus menunjukkan tren positif. Salah satu anggotanya, yakni Misi Lesar menilai kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari keberadaan festival jaz yang kian banyak.

“Jadi, otomatis banyak orang yang lebih terpapar dengan musik jaz. Walaupun mungkin pelan-pelan ya, maksudnya enggak langsung kelihatan banget tiba-tiba demand banget gitu sama musik jaz. Cuma, ya semakin baik,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, anggota Dua Empat lainnya, yakni Alvin Ghazalie menilai keberadaan pencinta musik jaz yang bertumbuh dapat terlihat dari jumlah pengikut di media sosial dan pendengar Dua Empat.

Menurutnya, banyak Generasi Z yang mendengarkan karya Dua Empat. Tidak hanya itu, mereka juga mencari tahu roots musik Dua Empat, sehingga berdampak terhadap jumlah peminat musik jaz di dalam negeri.

Baca Juga: VISI: Judical Review UU Hak Cipta di MK Tinggal Menunggu Putusan

SEBELUMNYA

10 Prompt AI Gemini untuk Perbaiki Foto Lama yang Rusak

BERIKUTNYA

Jadwal, Kandidat, dan Link Streaming Ballon d’Or 2025, Disiarkan Langsung dari Paris

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga