38 Lagu dalam 3 Jam, Konser Miliaran Cinta Yovie Widianto Tak Sekadar Nostalgia
22 September 2025 |
09:51 WIB
1
Like
Like
Like
Plenary Hall Jakarta Convention Centre (JCC) menjadi saksi sebuah malam yang penuh warna dari "Miliaran Cinta Yovie Widianto – Andi Rianto Berkonser". Ribuan penonton pada Minggu (21/9/2025) malam, larut dalam harmoni musik yang tak sekadar nostalgia, tetapi menjadi perayaan atas perjalanan panjang Yovie Widianto sebagai pencipta lagu cinta lintas generasi.
Yovie terkenal sebagai maestro yang menjadikan cinta bukan sekadar tema, melainkan dunia yang bisa ditempuh lewat banyak pintu. Di lagu-lagunya, kita bisa memasuki ruang perasaan jatuh cinta, patah hati, kehilangan, hingga kenangan indah.
Hal ini juga tergambar jelas dalam pemilihan repertoar malam itu. Lagu-lagu yang dibawakan terasa seperti mozaik perasaan yang berlapis-lapis.
Konsernya terasa makin spesial karena menghadirkan aransemen segar hasil sentuhan Andi Rianto. Dia mampu memberikan dimensi baru pada lagu-lagu yang sudah begitu akrab di telinga publik. Kolaborasi ini bukan hanya soal musik, melainkan juga tentang bagaimana menghadirkan kembali cinta dengan wajah yang lebih kaya lewat sentuhan orkestra megah dari Magenta.
Baca juga: Rony Parulian Hidupkan Kembali Lagu Legendaris Salahi Aku di Konser Miliaran Cinta
Pertunjukan dibuka dengan "Tentang Diriku", lagu yang masuk dalam album Cinta Sudah Lewat rilisan 2003, yang langsung membawa penonton pada ingatan masa muda penuh semangat. Aransemen yang dibawakan membuat lagu itu terasa lebih megah. Monita Tahalea yang menjadi penyanyi pertama muncul di atas panggung, dan sukses membawakan lagu itu dengan baik.
Monita lantas menyambungkan lagu itu dengan "Kekasih Sejati". Dengan vokalnya yang lembut tapi kuat, dia menghadirkan nuansa intim, seakan membisikkan lagu itu satu per satu ke telinga ribuan orang di Plenary Hall. Kesederhanaan interpretasinya justru menjadi kekuatan utama.
Penyanyi muda lain, Bilal Indrajaya, juga memberi interpretasi menarik saat membawakan "Satu Mimpi", lagu Yovie lain yang dipopulerkan oleh The Groove. Sentuhan funk dan soul-nya langsung membangkitkan suasana. Penampilan ini menunjukkan bahwa karya Yovie bisa hidup dalam banyak gaya musik tanpa kehilangan jiwanya.
Bilal kemudian menyambungkan lagu ke "Engga Ngerti", satu hit lain dari Yovie bersama Kahitna. Sedikit kejutan muncul saat si empunya penyanyi, Hedi Yunus dan Mario Ginanjar muncul dan mereka membentuk trio. Penonton lagi-lagi dibawa terhanyut dengan lagu tentang perjuangan batin seseorang yang dilanda cinta, tapi terbentur kenyataan tersebut.
Dalam konser ini, LTZ alias Lyodra, Tiara, dan Ziva, juga tampil begitu menarik. Dengan balutan busana khas Cinderella, lengkap dengan permainan latar kastil di panggung, penampilan mereka bak dongeng cinta yang membius siapa saja. Lyodra membawakan "Terlalu Cinta", Ziva dengan "Peri Cintaku", dan Tiara Andini melengkapi kisah lewat "Tanpa Cinta".
Dengan interpretasi segar khas generasi baru, penampilan mereka membuktikan bahwa karya Yovie bisa terus relevan. Lagu itu terdengar seakan ditulis ulang untuk masa kini tanpa menghilangkan kekuatan orisinalnya. Beberapa penyanyi generasi baru lain, seperti Arsy Widianto, Rony Parulian, Shabrina Leanor, hingga Piche Kota juga tak kalah memukau.
Para penyanyi lama yang mengawali kesuksesan karier Yovie, Kahitna serta Yovie & Nuno juga masih tampil tanpa celah. Warna-warna musik yang ditawarkan yang lama dan yang baru, memicu lonjakan emosi yang unik bagi para penonton.
Puncak eksplorasi muncul saat Isyana Sarasvati membawakan "Indah, Kuingat Dirimu". Dia memelintir lagu tersebut ke dalam balutan rock yang berapi-api. Transformasi itu membuktikan bahwa karya Yovie bisa keluar dari zona pop romantis dan melangkah ke ranah yang lebih liar.
Warna musik yang ditampilkan sepanjang 3 jam dengan total 38 lagu di dalamnya ini sungguh beragam. Dari pop balada, soul, jazz, funk, hingga rock, semua hadir dalam satu panggung. Keberagaman ini menjadi perwujudan bahwa karya Yovie bukan hanya milik satu generasi atau satu gaya musik, melainkan sebuah bahasa cinta universal.
Keberhasilan konser ini juga terletak pada pemilihan penyanyi dengan karakter vokal yang sangat berbeda. Dari suara halus Monita, kehangatan Bilal Indrajaya, kejernihan Lyodra, hingga keberanian Isyana, semuanya menambah dimensi baru pada lagu-lagu yang dibawakan. Ini semacam dialog lintas generasi melalui musik.
Selain itu, arah musikal yang digarap Andi Rianto membuat konser terasa seperti sebuah perjalanan dramatik. Setiap lagu ditempatkan dengan rapi sehingga membentuk alur cerita yang mengalir dari awal hingga akhir. Penonton tidak sekadar mendengar lagu, tetapi mengikuti narasi tentang cinta yang berlapis-lapis.
Di tengah-tengah konser, si empunya karya, Yovie Widianto naik ke atas panggung. Dengan grand piano di tengah, dia sedikit berbincang kepada penonton. Jauh sebelum karya-karyanya meledak antargenerasi, ada satu hal sederhana yang dilakukannya di awal yang kemudian mengubah segalanya: adaptasi.
Yovie mengenang kala pertama datang ke sebuah label dan ditolak. Sekitar medio 1980-an, dia datang ke label dengan semangat meledak-ledak. Dengan percaya diri, dia menawarkan musik pop yang berbeda, penuh agresi pada hentakan piano dan harmoni kompleks.
Akan tetapi, visi tersebut ditolak. Alih-alih menyerah, Yovie beradaptasi, mencari formula zaman yang tepat tanpa meninggalkan identitas musikalnya. Pelan-pelan, gaya pop rumitnya itu pun makin diterima oleh publik. Belakangan, dia baru menyadari kalau itu adalah pop progresif.
Mungkin, sama seperti kalau kita mencari kata "progresif" di kamus KBBI, yang artinya adalah ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang; bertingkat-tingkat naik, itulah warna musik dari Yovie dalam lebih dari empat dekade ke belakang.
Begitulah kemudian sang maestro menciptakan miliaran cinta, triliunan adaptasi, dan kuadriliunan kenangan bagi banyak orang. Pertunjukan bertajuk “Miliaran Cinta Yovie Widianto – Andi Rianto Berkonser” dipromotori oleh Enjoy Live Experience bersama ImaginAction menjadi bukti nyata akan itu.
Baca juga: Konser Miliaran Cinta Siap Tampil dengan Konsep Berbeda, Yovie Widianto Pastikan Persiapan Matang
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Yovie terkenal sebagai maestro yang menjadikan cinta bukan sekadar tema, melainkan dunia yang bisa ditempuh lewat banyak pintu. Di lagu-lagunya, kita bisa memasuki ruang perasaan jatuh cinta, patah hati, kehilangan, hingga kenangan indah.
Hal ini juga tergambar jelas dalam pemilihan repertoar malam itu. Lagu-lagu yang dibawakan terasa seperti mozaik perasaan yang berlapis-lapis.
Konsernya terasa makin spesial karena menghadirkan aransemen segar hasil sentuhan Andi Rianto. Dia mampu memberikan dimensi baru pada lagu-lagu yang sudah begitu akrab di telinga publik. Kolaborasi ini bukan hanya soal musik, melainkan juga tentang bagaimana menghadirkan kembali cinta dengan wajah yang lebih kaya lewat sentuhan orkestra megah dari Magenta.
Baca juga: Rony Parulian Hidupkan Kembali Lagu Legendaris Salahi Aku di Konser Miliaran Cinta
Pertunjukan musik "Miliaran Cinta Yovie Widianto – Andi Rianto Berkonser" (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Monita lantas menyambungkan lagu itu dengan "Kekasih Sejati". Dengan vokalnya yang lembut tapi kuat, dia menghadirkan nuansa intim, seakan membisikkan lagu itu satu per satu ke telinga ribuan orang di Plenary Hall. Kesederhanaan interpretasinya justru menjadi kekuatan utama.
Penyanyi muda lain, Bilal Indrajaya, juga memberi interpretasi menarik saat membawakan "Satu Mimpi", lagu Yovie lain yang dipopulerkan oleh The Groove. Sentuhan funk dan soul-nya langsung membangkitkan suasana. Penampilan ini menunjukkan bahwa karya Yovie bisa hidup dalam banyak gaya musik tanpa kehilangan jiwanya.
Bilal kemudian menyambungkan lagu ke "Engga Ngerti", satu hit lain dari Yovie bersama Kahitna. Sedikit kejutan muncul saat si empunya penyanyi, Hedi Yunus dan Mario Ginanjar muncul dan mereka membentuk trio. Penonton lagi-lagi dibawa terhanyut dengan lagu tentang perjuangan batin seseorang yang dilanda cinta, tapi terbentur kenyataan tersebut.
Dalam konser ini, LTZ alias Lyodra, Tiara, dan Ziva, juga tampil begitu menarik. Dengan balutan busana khas Cinderella, lengkap dengan permainan latar kastil di panggung, penampilan mereka bak dongeng cinta yang membius siapa saja. Lyodra membawakan "Terlalu Cinta", Ziva dengan "Peri Cintaku", dan Tiara Andini melengkapi kisah lewat "Tanpa Cinta".
Dengan interpretasi segar khas generasi baru, penampilan mereka membuktikan bahwa karya Yovie bisa terus relevan. Lagu itu terdengar seakan ditulis ulang untuk masa kini tanpa menghilangkan kekuatan orisinalnya. Beberapa penyanyi generasi baru lain, seperti Arsy Widianto, Rony Parulian, Shabrina Leanor, hingga Piche Kota juga tak kalah memukau.
Pertunjukan musik "Miliaran Cinta Yovie Widianto – Andi Rianto Berkonser" (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Puncak eksplorasi muncul saat Isyana Sarasvati membawakan "Indah, Kuingat Dirimu". Dia memelintir lagu tersebut ke dalam balutan rock yang berapi-api. Transformasi itu membuktikan bahwa karya Yovie bisa keluar dari zona pop romantis dan melangkah ke ranah yang lebih liar.
Warna musik yang ditampilkan sepanjang 3 jam dengan total 38 lagu di dalamnya ini sungguh beragam. Dari pop balada, soul, jazz, funk, hingga rock, semua hadir dalam satu panggung. Keberagaman ini menjadi perwujudan bahwa karya Yovie bukan hanya milik satu generasi atau satu gaya musik, melainkan sebuah bahasa cinta universal.
Keberhasilan konser ini juga terletak pada pemilihan penyanyi dengan karakter vokal yang sangat berbeda. Dari suara halus Monita, kehangatan Bilal Indrajaya, kejernihan Lyodra, hingga keberanian Isyana, semuanya menambah dimensi baru pada lagu-lagu yang dibawakan. Ini semacam dialog lintas generasi melalui musik.
Selain itu, arah musikal yang digarap Andi Rianto membuat konser terasa seperti sebuah perjalanan dramatik. Setiap lagu ditempatkan dengan rapi sehingga membentuk alur cerita yang mengalir dari awal hingga akhir. Penonton tidak sekadar mendengar lagu, tetapi mengikuti narasi tentang cinta yang berlapis-lapis.
Pertunjukan musik "Miliaran Cinta Yovie Widianto – Andi Rianto Berkonser" (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Yovie mengenang kala pertama datang ke sebuah label dan ditolak. Sekitar medio 1980-an, dia datang ke label dengan semangat meledak-ledak. Dengan percaya diri, dia menawarkan musik pop yang berbeda, penuh agresi pada hentakan piano dan harmoni kompleks.
Akan tetapi, visi tersebut ditolak. Alih-alih menyerah, Yovie beradaptasi, mencari formula zaman yang tepat tanpa meninggalkan identitas musikalnya. Pelan-pelan, gaya pop rumitnya itu pun makin diterima oleh publik. Belakangan, dia baru menyadari kalau itu adalah pop progresif.
Mungkin, sama seperti kalau kita mencari kata "progresif" di kamus KBBI, yang artinya adalah ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang; bertingkat-tingkat naik, itulah warna musik dari Yovie dalam lebih dari empat dekade ke belakang.
Begitulah kemudian sang maestro menciptakan miliaran cinta, triliunan adaptasi, dan kuadriliunan kenangan bagi banyak orang. Pertunjukan bertajuk “Miliaran Cinta Yovie Widianto – Andi Rianto Berkonser” dipromotori oleh Enjoy Live Experience bersama ImaginAction menjadi bukti nyata akan itu.
Baca juga: Konser Miliaran Cinta Siap Tampil dengan Konsep Berbeda, Yovie Widianto Pastikan Persiapan Matang
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.