Ilustrasi radio (Sumber gambar: Pexels/Evgeniya Kuzmina)

Hypereport: Eksistensi dan Optimisme Radio Daerah di Tengah Persaingan Platform Audio

17 September 2025   |   19:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah derasnya arus media digital, radio tetap bertahan sebagai medium yang punya daya tarik tersendiri. Radio masih belum ditinggalkan, termasuk oleh anak-anak muda. Peran dan posisi radio kini bahkan tak lagi sekadar menyajikan hiburan dan informasi, tetapi juga pengusir sepi di tengah dunia yang makin kaku akibat teknologi. 

Di tengah padatnya lalu lintas kota besar, misalnya, banyak orang memilih memutar radio untuk menemani perjalanan berangkat atau pulang kerja. Di posisi ini, radio jelas menawarkan posisi lain dibanding pemutar musik daring yang lebih mengedepankan algoritma semata.

Kebiasaan serupa juga berlaku di berbagai daerah. Radio tetap jadi pilihan karena menawarkan kedekatan yang belum bisa sepenuhnya digantikan oleh medium lain. Bahkan informasi sesederhana seperti ramalan cuaca bisa memicu perasaan unik, seperti sendu saat hujan atau justru ceria ketika cerah, tergantung bagaimana penyiar membawakannya. 

Baca juga laporan terkait:   

Ilustrasi radio (Sumber gambar: Pexels/Airam Dato-on)

Ilustrasi radio (Sumber gambar: Pexels/Airam Dato-on)

Berdasarkan laporan GoodStats berjudul Preferensi Penggunaan Radio Anak Muda Indonesia 2024, mayoritas generasi muda mendengarkan radio untuk mengusir rasa bosan atau kesepian, dengan angka mencapai 73,4 persen. 

Selain itu, sebanyak 37,8 persen memanfaatkannya untuk mencari informasi atau berita terkini, mulai dari kabar dalam negeri hingga kondisi lalu lintas. Hasil survei tersebut juga menunjukkan pola kebiasaan pendengar. Hampir separuh responden (48,5 persen) mengaku paling sering mendengarkan radio ketika berada di kendaraan atau dalam perjalanan.

Di sisi lain, 32,5 persen lainnya lebih suka menyimak siaran radio dari rumah atau tempat tinggal mereka. Akan tetapi, tak bisa dimungkiri bahwa eksistensi radio, termasuk juga radio daerah memang terus tergerus seiring perkembangan pesat platform media informasi berbasis digital.

Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) RI pada 2003, persentase penduduk yang mendengarkan radio kala itu masih berada di angka 50,3 persen. Pada 2021, angkanya tinggal tersisa 10,3 persen.

Meski begitu, harapan terhadap radio tetap terbuka. Survei GoodStats menunjukkan bahwa 52 persen responden masih mendengarkan radio setidaknya sekali dalam sebulan, dengan frekuensi terbanyak berada pada rentang 2–4 kali dalam sepekan (14,6 persen) dan sekali dalam sebulan (12 persen). 

Bahkan, ada 10,8 persen responden yang mengaku masih setia mendengarkan radio setiap hari. Angka ini menjadi sinyal bahwa penetrasi radio di kalangan anak muda Indonesia masih tergolong kuat. 
 

Eksistensi Radio Daerah 

Division Head Operational and Communication Strategist Star FM dan Harian Jogja Yonantha Chandra Premana mengatakan radio, terutama radio daerah masih memiliki segmentasinya sendiri di daerah.

Sebagai gambaran, berdasar data KPID DIY, masih terdapat 37 radio swasta yang mengudara di jalur FM, 4 radio di frekuensi AM, dan 4 programa RRI. Selain itu, masih ada belasan radio komunitas lain yang juga mengudara di DIY.

Namun memang perlu melihat lebih dalam kepada kondisi masing-masing radio. Harus diakui ada sejumlah stasiun radio yang kondisinya lumayan struggle terutama mereka yang kurang adaptif terhadap perkembangan zaman.

"Gempuran digitalisasi ini memang dirasakan oleh semua pengelola radio, termasuk Star FM. Kondisi ini juga memaksa kami untuk terus berinovasi dan mencari model bisnis yang lebih tepat, meski ini juga bukan hal mudah," ungkap Yonantha kepada Hypeabis.id. 

Yonantha menegaskan bahwa riset yang menunjukkan anak muda mulai kembali mendengarkan radio juga turut dirasakannya. Temuan itu menjadi dorongan bagi pihaknya untuk terus berkarya dan tetap mengudara, meski kondisi industri media, termasuk radio, tidak selalu mudah.

Dia juga memberi gambaran mengenai segmen utama pendengar Star FM, yakni kelompok muda dewasa berusia 25 hingga 45 tahun. Menurutnya, rentang usia tersebut cukup menarik karena bisa dikategorikan sebagai kelompok yang matang sekaligus berperan sebagai pengambil keputusan.

Oleh karena itu, Yonantha melihat radio daerah masih memegang peranan yang signifikan dalam ekosistem hiburan dan informasi. Selain mulai kembali diminati oleh kalangan muda, radio juga tetap menjadi saluran penting bagi berbagai pihak untuk melakukan promosi.

Dia menyebut, tak sedikit musisi maupun artis yang tetap datang ke radio untuk keperluan promosi. Hal itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa radio masih memegang posisi penting di tengah arus media digital.

Di Star FM, Yonantha mencontohkan sejumlah kunjungan artis nasional hingga lokal. Agus Ringgo, Chicco Kurniawan, dan sutradara Yandy Laurens, misalnya, pernah datang untuk mempromosikan film 1 Kakak 7 Ponakan. Bahkan, sosok lokal seperti Ibu Yati Pesek hingga sejumlah pelawak juga sempat hadir di studio. 

Selain itu, banyak sekolah dan event organizer masih menggandeng Star FM untuk promosi acara musik, yang semakin menegaskan bahwa radio masih punya ruang dan peluang besar di industri kreatif. Menurutnya, hal yang saat ini perlu terus dilakukan ialah adaptasi.

"Model bisnis radio memang harus diubah. Kali pertama saya memegang Star FM, sekitar setahun lalu, kami mencanangkan visi Beyond Radio. Lebih dari sekadar radio," tuturnya.

Yonantha menjelaskan bahwa produk dan layanan yang ditawarkan Star FM kini tidak lagi terbatas pada siaran on air, penjualan spot iklan, adlibs, insersi, atau talkshow. “Layanan itu tetap ada dan kami jalankan kalau memang dibutuhkan klien. Tapi sekarang kami juga mengembangkan layanan yang lebih luas, tentu dengan mengutamakan kompetensi kami di bidang konten dan broadcasting,” ujarnya. 

Baca juga: Hypereport: Deretan Stasiun Radio Bersejarah di Indonesia 
 

Ilustrasi radio (Sumber gambar: Pexels/ logan primm)

Ilustrasi radio (Sumber gambar: Pexels/ logan primm)

Dia menambahkan, Star FM kini memiliki berbagai lini usaha tambahan, mulai dari pelatihan public speaking dengan memanfaatkan kemampuan para penyiar, pelatihan jurnalistik, hingga dipercaya mengelola pelatihan komunikasi untuk mitra BUMN di Yogyakarta.

“Kami juga bergerak sebagai produsen video, podcast, webinar, menulis dan mencetak buku atau majalah, menjadi event organizer, mengelola media gathering, media buying di semua platform, dan banyak lagi. Alhamdulillah dengan cara ini kami bisa bertahan, bahkan mudah-mudahan akhir tahun nanti laporan kami kembali hijau seperti tahun lalu,” kata Yonantha. 

Ke depan, Yonantha juga optimistis bahwa radio masih punya peluang besar untuk bertahan, bahkan berkembang. Menurutnya, banyak pasar potensial lain yang bisa menjadi ruang baru radio untuk bergerak. Sebab, menurutnya, keunggulan utama radio terletak pada kemampuannya menciptakan kedekatan dengan pendengar—sesuatu yang tidak dimiliki platform lain. 

“Seperti yang juga disampaikan GoodStats dan saya setuju, radio menawarkan keintiman, hadir sebagai teman di saat orang beraktivitas maupun beristirahat. Karena itu, saya percaya radio tidak akan pernah mati,” ujar Yonantha.

Sementara itu, Ketua KPID Jawa Timur Immanuel Yosua T mengatakan radio saat ini masih memiliki peran krusial, terutama untuk memberikan akses informasi yang merata bagi masyarakat. Di daerah-daerah dengan akses internet terbatas, radio mesti menempatkan diri jadi media penyampai informasi yang baik. 

Kendati demikian, dia tak menampik seiring perkembangnya teknologi, tren konsumsi media pun berubah. Meski begitu, dirinya meyakini meski persaingan dengan media digital semakin ketat, radio masih memiliki audiens setianya, terutama dengan segmentasi yang relevan di berbagai daerah di Indonesia. 

“Radio sebenarnya punya ruang sendiri. Inovasi seperti radio berbasis internet, streaming radio, hingga podcasting awalnya adalah wilayah radio. Akan tetapi, kini formatnya berkembang dengan tambahan elemen audio visual. Radio harus mampu beradaptasi dengan tren ini agar tetap relevan,” imbuhnya dalam laman KPI.

Terlebih, saat ini mayoritas anak muda masih mendengarkan radio, meski secara frekuensi dan durasi masih perlu terus didorong. Dalam survei GoodStats, lebih dari separuh anak muda masih mendengarkan radio dalam frekuensi sebulan sekali atau lebih. Sebanyak 14,6 persen di antaranya mendengarkan radio setiap 2-4 hari sekali, bahkan 10,8 persen lainnya mengaku mengakses radio setiap hari. 

Baca juga: Hypereport: 10 Penyiar Radio Legendaris dari Masa ke Masa  

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Pertama Kali di Indonesia! Pameran Automechanika Siap Digelar September 2026, Cek Informasinya

BERIKUTNYA

Pop City 2025, Festival Budaya Populer Terbesar Hadir di Blok M Hub Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga