Tim produksi Raminten Universe (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)

Dokumenter Raminten Universe, Persembahan Terakhir untuk Hamzah Sulaiman

17 September 2025   |   11:48 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Film dokumenter Raminten Universe: Life is a Cabaret atau Jagad’e Raminten persembahan Kalyana Shira Foundation, menghadirkan potret mendalam tentang sosok Hamzah Sulaiman alias Raminten yang dikenal sebagai ikon budaya Yogyakarta.

Karya sinema berdurasi 95 menit tersebut, digarap oleh Nia Dinata sebagai sutradara dan penulis, Dena Rachman sebagai produser dan penulis, serta Melissa Karim sebagai co-produser.

Penonton akan menyaksikan perjalanan sosok di balik Raminten, yakni mendiang Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Tanoyo Hamijinindyo atau Hamzah Sulaiman. Beliau dikenal luas sebagai seniman yang menciptakan karakter "Raminten", sosok perempuan jawa yang dilakoninya dalam sebuah acara komedi situasi di stasiun televisi lokal Jogja TV. 

Karakter ini kemudian menjadi inspirasi utama dalam pendirian Raminten Cabaret Show yang bisa kita temukan di Gedung Hamzah Batik, di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Di lantai tiga, ada kafe yang dahulu namanya Oyot Godhong, sekarang disebut Raminten 3. Selain bisa mencicipi makanan, pengunjung bisa nonton kabaret. 

Baca juga: Dokumenter Jagad’e Raminten Soroti Perjalanan Hamzah Sulaiman, Ikon Budaya Yogyakarta  

Kabaret sendiri adalah bentuk seni pertunjukan yang menggabungkan elemen-elemen seperti nyanyian, tarian, komedi, dan kadang drama. Pertunjukan Kabaret Raminten menjadi salah satu atraksi populer di kalangan wisatawan. 

Layaknya nonton ludruk atau srimulat, mereka sama-sama menyuguhkan komedi dan parodi. Hanya saja pengisinya adalah cross-dresser dengan kostum dan riasan mencolok. Mereka tampil sebagai sosok perempuan dan menirukan berbagai tokoh terkenal, seperti Lady Gaga, Celine Dion, sampai Anggun C Sasmi. 

Sutradara Nia Dinata mengungkap alasan di balik lahirnya film dokumenter Raminten Universe: Life is a Cabaret. Lebih dari sekadar pertunjukan kabaret, film ini menyoroti Raminten sebagai ruang inklusif yang memberi tempat bagi ekspresi seni lintas generasi, latar belakang, dan identitas. 

Menurutnya, ide tersebut muncul dari rasa kesal ketika melihat foto-foto Raminten Kabaret terpampang di majalah fashion internasional tanpa menyebutkan sosok pendirinya, mendiang Hamzah Sulaiman. 

“Foto-fotonya indah sekali, menampilkan para queen di balik panggung. Tapi yang membuat saya marah, tidak ada satu pun kredit yang menyebutkan Bapak Hamzah atau cerita di balik kabaret itu. Hanya tertulis Raminten Kabaret begitu saja,” ujar Nia, saat pemutaran perdana Raminten Universe di Jakarta, Selasa (16/9/2025). 

Dia menilai kondisi tersebut sebagai bentuk apropriasi budaya yang kerap dialami karya seni lokal ketika terekspos di media global. Akhirnya dia bersama timnya memutuskan untuk menggarap film tersebut, dimulai dengan proses riset dan berlanjut ke tahap produksi. 
 

Nia Dinata (Kiri), Dena Rachman (tengah), dan Ratri (Kanan) Sumber Foto: hypeabis.id/Kintan Nabila)

Nia Dinata (Kiri), Dena Rachman (tengah), dan Ratri (Kanan) Sumber Foto: hypeabis.id/Kintan Nabila)

Proses persiapan film ini sejatinya telah dimulai sejak akhir 2023. Akan tetapi, kala itu Dena Rachman masih berada di London untuk menempuh studi S2 dan mengerjakan tesisnya. Kebetulan, pada saat yang sama anak Nia sedang kuliah di Yogyakarta, sehingga dia sering berada di kota tersebut. 

Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mulai mencari cara masuk ke lingkaran keluarga Raminten, membangun kedekatan, dan memahami lebih dekat dunia yang nantinya akan menjadi inti cerita dokumenter ini. "Dari situ pelan-pelan pintu mulai terbuka, sampai akhirnya pada Mei 2024 kami benar-benar bisa masuk dan bisa melakukan syuting," ujar Nia.

Produksinya dilakukan secara bertahap, katanya, meski sempat berhenti beberapa kali, tapi kemudian bisa dilanjutkan lagi sampai akhirnya film ini selesai. Mengingat ini merupakan proyek independen, mulai dari syuting sampai editing, semua dilakukan dengan keterbatasan.

Bagi Dena Rachman, proyek ini bukan sekadar film, tetapi juga sebuah penelitian. Prosesnya seperti riset yang membawanya pada begitu banyak data dan informasi baru yang menarik, mulai dari kisah personal Hamzah Sulaiman hingga momen-momen di balik pertunjukan kabaret. Tantangan terbesar justru bagaimana menyaring semua itu agar bisa masuk ke dalam film tanpa kehilangan esensinya.

“Data yang kami kumpulkan sangat banyak, pertunjukan kabaret mereka total ada lebih dari 15, dengan kedalaman cerita yang luar biasa. Kami ingin semua orang yang bekerja di jagad Raminten ini bisa muncul di film, yang dikemas dengan menarik dan informatif,” ungkap Dena.

Menurut Nia, potensi yang dimiliki jagat Raminten sangat luar biasa besar. Para Cabaretier (penampil kabaret) Raminten seperti Dolce Maria, Suzzara Vina, Cipta Sasmi semuanya sangat menarik dan sangat mungkin dijadikan IP yang bisa diadaptasi ke berbagai medium seperti serial film, komik, atau animasi.

Selain itu, yang membuat film ini semakin istimewa adalah karena Raminten Universe merupakan persembahan terakhir, sebuah hadiah penuh kasih dari keluarga besar dan sahabat-sahabat untuk mengenang Hamzah Sulaiman.

Meskipun dia telah berpulang sebelum sempat menyaksikan film ini dirilis, para pembuatnya meyakini bahwa Hamzah sangat menantikan hadirnya kisah ini untuk dibagikan kepada masyarakat luas. Dokumenter ini menjadi cara untuk meneruskan warisan Raminten, menyebarkan cinta, kepedulian, dan semangat inklusivitas khususnya bagi Yogyakarta, kota yang sangat dekat di hatinya.

“Bagi kami, dokumenter ini bukan hanya sebuah karya film, tetapi juga bentuk penghormatan penuh cinta kepada almarhum Bapak Hamzah Sulaiman. Beliau adalah cahaya bagi banyak orang, entah sebagai pemimpin, sahabat, maupun figur ayah bagi keluarga besar Raminten,” ujar Ratri, Director of House of Raminten yang juga merupakan putri Hamzah Sulaiman.

Ratri menambahkan, dirinya merasa sangat tersentuh sekaligus terhormat karena kisah hidup serta warisan Raminten dapat diabadikan melalui film ini. Harapannya, dokumenter ini mampu menyentuh hati masyarakat Indonesia, khususnya warga Yogyakarta, sebagaimana sosok Hamzah Sulaiman yang telah menghadirkan kasih dan kebaikan dalam kehidupan banyak orang. 

Baca juga: Film Dokumenter Pejuang ALS jadi Inspirasi Film Hanya Namamu Dalam Doaku 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

SNBP 2026: Simak Ketentuan, Pilihan Program Studi & Jadwal Pelaksanaannya

BERIKUTNYA

PSSI Protes Soal Penunjukkan Wasit Kuwait di Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga