Ilustrasi hewan penular rabies (Sumber gambar:

Gigitan di Sekitar Rumah Dominasi Kasus Rabies, Begini Langkah Pencegahannya

11 September 2025   |   21:59 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Rabies masih menjadi salah satu penyakit zoonosis yang paling mematikan di dunia. Di Indonesia, masalah ini juga masih memprihatinkan terutama di wilayah dengan populasi hewan penular rabies yang tinggi. Penyakit ini menular melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, atau kera yang sudah terinfeksi.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Kepala KSM Penyakit Dalam RSUD dr. TC Hillers Maumere Asep Purnama menyebutkan data kasus di Indonesia menunjukkan bahwa lokasi gigitan pada pasien rabies paling banyak terjadi di sekitar rumah (40%), disusul di rumah sendiri (37%), kebun milik korban (15%), dan lokasi lain (9%). Fakta ini memperlihatkan bahwa lingkungan terdekat justru menjadi area paling rawan paparan rabies, sehingga kewaspadaan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari sangat diperlukan.

Baca juga5 Fakta Mengejutkan Rabies, Bikin Penderitanya Takut Air & Hewan yang Terserang Enggak Bisa Diselamatkan

Asep menyebut, virus rabies menyerang sistem saraf pusat manusia dan menimbulkan gejala neurologis yang fatal. Begitu tanda-tanda klinis muncul, peluang untuk bertahan hidup hampir tidak ada sehingga langkah pencegahan menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa.

Asep menekankan betapa pentingnya tindakan cepat setelah seseorang tergigit hewan penular rabies. “Banyak pasien datang ketika kondisinya sudah terlambat, sehingga pengobatan tidak bisa lagi efektif,” ungkapnya. Dia juga menambahkan, pemberian profilaksis pasca pajanan mulai dari cuci luka, vaksin, hingga serum antirabies menjadi kunci untuk mencegah timbulnya rabies ini.

Mekanisme penularan rabies sendiri terjadi ketika air liur hewan terinfeksi masuk melalui luka gigitan atau cakaran, lalu virus menyebar melalui saraf menuju otak. Masa inkubasi bisa berlangsung beberapa minggu hingga berbulan-bulan tergantung pada lokasi dan kedalaman luka.

Pada fase awal, penderita mungkin hanya mengalami gejala umum seperti demam, nyeri otot, atau kesemutan di area gigitan. Namun seiring perjalanan penyakit, gejala khas seperti hidrofobia, aerofobia, kegelisahan, kejang, hingga kelumpuhan mulai muncul. Ketika gejala neurologis ini telah terlihat, hampir tidak ada terapi yang mampu menyelamatkan pasien.

Karena itu, penanganan segera setelah gigitan menjadi sangat penting. Asep menyebut, luka harus dicuci dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit untuk menurunkan jumlah virus. Setelah itu, luka sebaiknya diberikan antiseptik, dan pasien perlu segera mencari pertolongan medis untuk menentukan kategori pajanan serta kebutuhan vaksin atau serum antirabies. Luka berat yang menembus kulit terutama di kepala, leher, atau jari memerlukan penanganan lebih agresif karena masa inkubasi cenderung lebih singkat.

Dalam klasifikasi pajanan, Asep menjelaskan jika gigitan atau cakaran yang hanya menimbulkan lecet superfisial tanpa pendarahan biasanya membutuhkan vaksin antirabies, sedangkan gigitan yang menembus kulit atau luka multipel pada area berisiko tinggi memerlukan kombinasi vaksin dan serum antirabies.

Serum diberikan dengan cara disuntikkan di sekitar luka agar virus dapat dinetralisir sebelum menyebar lebih jauh. Adapun vaksin antirabies diberikan sesuai jadwal yang telah ditentukan dan harus diselesaikan sampai tuntas agar perlindungan maksimal bisa tercapai. Asep menyebut, waktu adalah faktor penentu dalam menghadapi rabies. Setelah gejala klinis muncul, harapan hampir tidak ada lagi, sehingga tindakan cepat pasca pajanan menjadi penyelamat nyawa yang sesungguhnya.

Selain tindakan medis setelah gigitan, pencegahan rabies juga dilakukan di tingkat komunitas. Misalnya, vaksinasi massal terhadap anjing sebagai hewan penular utama dianggap strategi paling efektif untuk memutus rantai penularan.

Selain itu, Asep tetap menekankan edukasi kepada masyarakat tentang cara memperlakukan hewan, mengenali gejala rabies pada hewan, serta pentingnya kepemilikan bertanggung jawab.

Baca juga: Penyebab Kasus Rabies Meningkat dan Cara Mencegah Infeksinya

SEBELUMNYA

Tip Memilih Robot Vacuum Agar Rumah Bersih Maksimal

BERIKUTNYA

Ti-Oan Market, Platform E-commerce Pertama dari WIR Group di Timor Leste

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga