Pengunjung menikmati sejumlah karya dalam pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Dari Majapahit ke Masa Kini: Seni Terakota Hidup di Pameran Terra Motion

11 September 2025   |   06:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Ada yang selalu memikat dari tanah liat. Sejak ribuan tahun lalu, material sederhana ini tak pernah lepas dari kehidupan manusia, dari wadah sehari-hari hingga karya sarat simbol. Terakota seakan punya bahasa sendiri yang mampu menembus batas waktu. Di era serba cepat seperti sekarang, seni keramik justru bangkit dengan napas baru.

Tak heran jika banyak seniman kembali melirik tanah liat, meramu teknik tradisi dengan sentuhan kontemporer, dan menghadirkan karya yang terasa akrab sekaligus segar.

Pameran Terra Motion: Routes, Rites, Roots di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta yang berlangsung hingga 21 Spetember 2025  menghadirkan kelindan itu. Khususnya saat delapan artefak Majapahit dikontekstualisasi ulang oleh 11 seniman, menghadirkan dialog antara warisan dan pencarian baru.

Baca juga: Sastrawan-Seniman Berkumpul di TIM dalam Gerakan Seni Melawan Tirani

Sebelas seniman tersebut adalah Antin Sambodo, Dona Prawita Arissuta, Dyah Retno, Endang Lestari, Evy Yonathan, Jenny Lee, Lisa Sumardi, Nia Gautama, Noor Sudiyati, Sekar Puti, dan Tisa Granicia. Pameran ini dikuratori Sudjud Dartanto, Smitha Parama, dan Bisma Alifardhan.

Hal yang membuatnya menarik bukan semata koleksi yang dipamerkan, melainkan bagaimana pameran ini menyoroti perjalanan terakota sebagai arsip yang terus bergerak melintasi zaman. Dari kendi, miniatur rumah, celengan, hingga saluran air, semuanya hadir menggugah.
 

karya Lisa Sumardi berjudul Beranak-Pinak

karya Lisa Sumardi berjudul Beranak-Pinak dalam pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta  (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Simak saja karya Lisa Sumardi berjudul Beranak-Pinak (50 x 36 x 30 cm). Menggunakan tanah liat merah yang dibentuk menyerupai celengan babi, Lisa menghadirkan ikon Majapahit yang menandakan kemakmuran, lalu menghiasinya dengan motif batik ukir.

Teknik konstruksi dan ukiran juga digunakan untuk menggabungkan tradisi visual agraris pada karya ini. Termasuk kritik terhadap sistem finansial digital masa kini, khususnya terkait pemblokiran rekening dorman yang belakangan dilakukan PPATK.

"Saya memang sengaja memilih koleksi terakota babi berbentuk celengan. Selain memadukan fungsi praktis menabung pada era Majapahit, karya ini juga relevan dengan situasi sekarang," katanya saat ditemui Hypeabis.id .

Lisa, yang sempat nyantrik pada maestro Liem Keng Sien, mengatakan salah satu tantangan utama dalam membuat keramik adalah kesabaran. Bekerja dengan tanah liat memang membutuhkan ketelitian khusus agar menghasilkan karya yang diinginkan.

Saat pembentukan awal clay tanah liat, dia pun memangkas, menusuk, dan menggores hingga terbentuk model yang diinginkan. Arkian, membakar tembikar di dalam oven khusus juga harus dengan temperatur yang pas agar karya tidak retak atau pecah.

"Tantangan lain dari pembuatan tembikar juga melibatkan semua tangan, sehingga harus menggunakan perasaan. Ini juga bisa menjadi semacam terapi seni," imbuhnya.

 

ahah

Salah satu karya dalam pameran Terra Motion di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta  (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Lain lagi dengan Nia Gautama,yang menyusun ornamen terakota lewat karya berjudul Timeless. Terdiri dari belasan tembikar berbagai dimensi, karya ini dibuat dengan teknik cetak dan hand-finishing sehingga menyerupai linimasa tentang perjalanan seni tanah liat.

Keistimewaan dari karya ini adalah hadirnya mandala di pusat sebagai simbol keteraturan kosmik dan siklus kehidupan yang bersifat sementara. Lewat karya ini sang seniman seolah merujuk pada keabadian dari seni, dan sifat yang fana dari hidup.

Namun, alih-alih memilih koleksi karya tertentu dari Museum sebagai sumber inspirasi, Nia justru mengambil senarai simbol yang ada dalam koleksi tersebut. Bunga padma misalnya, diambil dari bagian koleksi terakota untuk sarana pemujaan.

"Inspirasi karya ini saya comot dari sebagian besar koleksi yang ada. Majapahit dan kehidupannya memang sudah menjadi sejarah. Namun, seninya tetap bisa menginspirasi sampai hari ini," katanya.

Objek Fungsional

Dalam sejarahnya, seni terakota, keramik, atau gerabah di Indonesia memang memiliki akar yang panjang. Bahkan telah dimulai sejak masa prasejarah, lalu berkembang pesat pada era Majapahit sekitar abad ke-13 hingga ke-15.

Kendati seni keramik lebih banyak melibatkan keterampilan tangan, tetapi tidak melulu hanya berfungsi sebagai objek fungsional. Lebih dari itu, karya kriya ini juga dapat menjadi medium ekspresi artistik yang kaya makna dan estetika.

Kurator utama pameran, Sudjud Dartanto, mengatakan pameran ini mempertemukan dua garis waktu yang berbeda namun saling memantulkan makna, yakni memadukan warisan terakota Majapahit dengan penciptaan karya keramik kontemporer sebagai bahasa visual baru.

Pertemuan ini, paparnya, bukan sekadar perbandingan antara yang lampau dan yang kini, melainkan ruang dialog kreatif yang menautkan material, bentuk, dan gagasan lintas zaman, terutama untuk mengaktualkan koleksi karya lama dengan interpretasi baru.

"Melalui karya para seniman, warisan tersebut dihidupkan kembali untuk berbicara pada isu-isu kontemporer, mulai dari pluralitas sosial, urbanisasi, hingga keberlanjutan material," katanya.
 
 

Koleksi Majapahit dalam pameran ini juga menjadi “arsip hidup” yang terus berinteraksi dengan konteks semangat zaman. Selain sebagai ajang apresiasi, penyelenggaraan ini juga mendorong dialog seni bagi publik Jakarta.

Tajuk Terra dipilih tidak hanya hadir sebagai media fisik, melainkan sebagai pengikat narasi ekonomi, sosial, simbolik, dan budaya. Sedangkan Motion menandai gerak ide dan bentuk yang melintasi jalur sosial dan budaya dengan akar yang tertanam dalam tradisi.

"Kegiatan ini sekaligus membuka peluang transformasi makna melalui ritus kreatif para seniman masa kini," imbuhnya.

Pameran Terra Motion pada akhirnya mengingatkan bahwa terakota bukan sekadar tanah liat yang dibakar. Dia adalah medium yang menyimpan ingatan, memelihara tradisi, sekaligus membuka ruang bagi tafsir baru.

Di tengah zaman yang serba cepat, tanah liat justru memberi sebuah jeda atau ruang kontemplasi yang menautkan masa lalu, kini, dan masa depan.
 

SEBELUMNYA

Dari Percakapan Sederhana, Naomi Julia Soegianto Jadi Perancang Mahkota Miss Universe

BERIKUTNYA

Ed Sheeran Siap Rilis Play, Album Kedelapan yang Paling Dinanti

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga