Pengunjung beraktivitas di salah satu bioskop Cinema XXI di Jakarta, Senin (28/7/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Jumlah Layar Minim, Film Indonesia Saling Kanibal di Bioskop

10 September 2025   |   15:17 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Setahun yang lalu, September jadi momen yang penuh suka cita untuk perfilman Indonesia. Kala itu, untuk pertama kalinya, jumlah penonton film Indonesia mampu menembus 60 juta, yang merupakan angka tertinggi sepanjang masa sejak tahun 1926. 

Hingga akhir 2024, film Indonesia berhasil menjaga tren positif dengan capaian sekitar 80 juta penonton. Namun, situasi sepanjang 2025 ini tampak menghadirkan dinamika yang berbeda dibanding tahun lalu.

Baca juga: Perbandingan Film Terlaris Lokal vs Internasional di Bioskop Indonesia hingga Paruh 2025

Jika dibandingkan dengan periode yang sama, hingga September 2025 jumlah penonton film Indonesia masih tertinggal dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data Cinepoint, total penonton untuk film dengan release year 2025 baru mencapai 54.889.327, sementara perhitungan calendar year 2025 berada di angka 56.794.159.

Dengan demikian, masih ada selisih jumlah penonton untuk bisa menyaingi capaian tahun lalu. Meski begitu, September masih menyisakan tiga akhir pekan yang dapat menjadi momentum penting guna mengejar ketertinggalan dan setidaknya menyamai rekor sebelumnya.
 

Pengunjung beraktivitas di salah satu bioskop CGV di Jakarta, Selasa (15/10/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Pengunjung beraktivitas di salah satu bioskop CGV di Jakarta, Selasa (15/10/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Suprayitno, mengatakan tersendatnya jumlah penonton Indonesia tahun ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya ialah masih terbatasnya jumlah layar bioskop di Indonesia.

Kendati demikian, katanya, bukan berarti pengusaha bioskop berdiam diri. Merespons pasar yang makin tinggi, sebenarnya saat ini mulai banyak pengusaha yang membuka bioskop baru, termasuk di kota-kota yang yang sebelumnya belum memiliki bioskop.

Supriyatno menyebut dalam kurun 2024–2025, tercatat terdapat penambahan sebanyak 26 bioskop. Angka yang menurutnya termasuk cukup signifikan dibanding periode-periode sebelumnya.

Penambahan 26 bioskop tersebut membawa 80 layar baru di berbagai daerah. Hingga Agustus 2025, total bioskop di Indonesia telah mencapai 491 dengan jumlah layar 2.361, naik dari sebelumnya 2.281 layar.

Namun, pertumbuhan jumlah layar yang ada saat ini memang masih belum ideal. Terlebih, jika dibandingkan dengan jumlah produksi film Indonesia yang sedang tinggi-tingginya dalam beberapa tahun terakhir ini.

Menurut data Cinepoint, ada peningkatan jumlah penayangan film yang signifikan pada 2025 ini. Per September 2025 saja, sudah ada 133 film yang rilis. Angkanya hampir menyamai total jumlah film yang rilis pada 2024 yang mencapai 146 film.

Berdasarkan penelusuran Supriyatno dari LSF, tahun ini sudah ada 200 film yang telah mendapatkan layak sensor, yang artinya sudah memenuhi syarat untuk bisa tayang di bioskop.

"Memang dari progammer ini akan serba salah ya. Di sisi lain, setahun itu kita kan cuma punya 52 minggu. Kalau kita proyeksikan ada 200 judul, berarti satu minggu ada 4 film tayang, itu baru film Indonesia ya. Belum lagi kalau dalam satu pekan ada genre yang sama, itu akan saling kanibal juga akhirnya," jelas Supriyatno

Dengan keterbatasan layar yang ada, penayangan film dengan target penonton yang sama secara bersamaan seringkali sulit dihindari. Menurut Supriyatno, pihak bioskop sejauh ini hanya bisa mengatur strategi dengan membagi program tayang di bioskop yang berbeda.

Misalnya, jika sebuah kota memiliki dua bioskop, satu film akan ditayangkan di bioskop A, sementara film lainnya yang punya pasar yang sama diputar di bioskop B.

Pengamat film Hikmat Darmawan juga menyoroti hal yang sama. Gap antara jumlah produksi dan layar bioskop sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan pada tahun ini. Memang, katanya, ada film-film yang muncul dan cukup spektakuler secara jumlah penonton, seperti Jumbo, tetapi sebenarnya lebih banyak film yang justru flop.

Mengutip data Cinepoint, per September 2025, hanya baru 11 film yang berhasil menembus angka 1 juta penonton. Sementara itu, sepanjang 2024 jumlah film di atas satu juta penonton mencapai 21 judul dan pada 2023 mencapai 20 judul.

"Banyak production house sebenarnya mengeluhkan karena ada film-film yang tadinya mereka proyeksikan bisa 1 juta penonton, ternyata 500.000 saja enggak. Ini sangat ketat. Orang mulai mengkhawatirkan tahun ini akan turun," ucap Hikmat kepada Hypeabis.id.

Hikmat menyatakan bahwa jumlah layar bioskop saat ini sudah tidak memadai untuk menampung produksi film di Indonesia yang terus meningkat. Kondisi ini tentu menimbulakn dilema besar buat bioskop. 

Dalam artian, apakah mereka lebih memilih kurasi tayang yang perlu diperketat, tetapi membuat antrean film untuk tayang menjadi panjang, atau semua film tetap diberi hak tayang, tetapi jatah layar per film menjadi lebih terbatas.

Kondisi ini membuat persaingan film dinilainya menjadi tidak sehat. Terlebih, setelah film tayang, judul tersebut masih harus berjuang sekuat tenaga agar bisa bertahan lebih lama di bioskop dengan cara menarik penonton sebanyak-banyaknya.

Masalahnya, mayoritas film Indonesia tayang Kamis. Sementara itu, tidak semua orang menyempatkan diri menonton film pada hari kerja. Orang biasanya menonton saat akhir pekan. Namun, kata Hikmat, sekadar mempertahankan jumlah layar yang pantas hingga akhir pekan pun kini makin sulit.

Sebab, mekanisme hitung-hitungan jumlah layar di bioskop sangat bergantung pada jumlah penonton pada hari pertama. Jika film hari pertama drop, kemungkinan layar dipangkas akan sangat tinggi.

Hikmat menyebut saat ini bioskop di Indonesia memang masih menganut pasar tunggal, yakni pasar box office. Dalam skema ini, persaingan film benar-benar ditentukan berdasarkan angka penonton.

Padahal, menurut Hikmat, penilaian sebuah film seharusnya tidak hanya dari jumlah penonton, tetapi juga dari berbagai faktor lain, termasuk kebutuhan akan keberagaman tontonan.

Beberapa film juga punya karakteristik berbeda, seperti ada film yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menarik perhatian penonton sebelum mencapai angka yang diharapkan. Beberapa film bahkan baru mendapatkan gaung pembicaraan di media sosial pada hari keempat atau seminggu setelah penayangan.

Namun, film-film tersebut sulit mendapat tempat sekarang. Sebab, persaingan jumlah penonton benar-benar divonis dari satu hari ke satu hari yang lain. 

"Padahal, selain film blockbuster yang meraih jumlah penonton tinggi sejak hari pertama penayangan, ada juga tipe film sleeper hit. Ini adalah istilah untuk menggambarkan film yang larisnya diperoleh dalam periode yang lama. Jadi, film itu harus tayang lama dahulu, baru menemukan penontonnya," jelasnya.
 

Pengunjung beraktivitas di salah satu bioskop Cinema XXI di Jakarta, Senin (28/7/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Pengunjung beraktivitas di salah satu bioskop Cinema XXI di Jakarta, Senin (28/7/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Segendang sepenarian, CEO Paragon Pictures Robert Ronny mengatakan jumlah penonton Indonesia memang sangat dipengaruhi oleh masih terbatasnya layar bioskop. Menurutnya, idealnya Indonesia memiliki minimal 10.000 layar, tetapi saat ini masih berada di angka 2.300-an layar. Robert menilai pemerintah perlu membantu menambah jumlah layar secepat mungkin. 

Selain itu, dirinya juga mengkritisi selama ini, kurasi film oleh exhibitor juga dinilainya belum maksimal. Sebab, banyak film yang sebenarnya kurang layak tayang tetap mendapat slot, yang tidak hanya mengambil tempat dari film berkualitas, tetapi juga berisiko mengecewakan penonton dan merusak citra positif perfilman Indonesia secara umum.

Kemudian, dia juga menggarisbawahi jadwal tayang sebuah film yang juga menjadi faktor penting. Sering kali, film yang diprediksi sukses justru sepi penonton karena harus bersaing dengan judul lain yang menyasar audiens sama dalam waktu bersamaan. Persaingan ini semakin kompleks mengingat produksi film Indonesia terus meningkat sementara jumlah layar bioskop belum bertambah signifikan, sehingga penonton akhirnya terpecah.


Tak ada Faktor Tunggal

Namun, layar bukanlah satu-satunya penyebab jumlah penonton Indonesia per September ini masih di bawah dari periode tahun lalu. Ketua GPBSI Suprayitno menyebut sulit untuk menunjuk satu faktor sebagai biang keladi.

Sebab, bisnis film dan bioskop memang selalu sulit untuk ditebak. Jika pada periode sebelumnya penuh dengan capaian, bukan berarti tahun ini mengalami hal serupa.

Perbedaan sentimen penonton hingga variasi kualitas film di tiap periode turut membentuk dinamika yang selalu berubah dan saling berkaitan. Di sisi lain, sesederhana waktu libur yang berbeda dari tahun ini dan tahun lalu pun juga bisa berpengaruh.

"Tahun ini memang agak berbeda ya. Fenomena menarik lain misalnya pada film horor yang sebelumnya sangat mendominasi jumlah penonton, sekarang justru terjadi penurunan animo. Kita enggak tahu persis ya, apakah ini karena filmnya sendiri, ada kondisi tertentu, atau kejenuhan pasar," ungkap Suprayitno kepada Hypeabis.id.

Supriyatno menyebut menurunnya jumlah penonton genre horor, yang biasanya penyumbang terbesar box office, sedikit banyak memengaruhi jumlah penonton secara keseluruhan. Namun, katanya, dampaknya tidak sampai ke hal yang mengkhawatirkan.

Sebab, saat satu genre menurun, beberapa genre lain justru malah bersinar, termasuk yang mungkin orang tak menyangka ialah munculnya animasi Jumbo yang jadi film terlaris di Indonesia tahun ini.

Meski masih punya selisih dibanding periode yang sama tahun lalu, Supriyatno mengatakan secara umum masih ada kabar baik. Film lokal masih lebih unggul dibanding film luar negeri. Jika dilihat dari 10 besar film terlaris tahun ini, 7 di antaranya ialah produksi lokal, sedangkan hanya tiga film import yang berhasil masuk ke jajaran 10 besar.

"Cuman memang, hingga September ini, jika dibanding tahun lalu, kita sekarang masih punya PR 5 jutaan itu ya," imbuhnya.

Dirinya tak menampil, tahun ini industri film memang punya dinamika yang beragam. Hal itu memengaruhi performa jumlah penonton sepanjang tahun ini.

Pada kuartal pertama 2025, misalnya, terlihat jelas jumlah film Indonesia kurang ngegas dibanding periode yang sama tahun lalu. Jika pada 2024 jumlah penonton sudah bisa menembus 18 juta penonton, angka awal tahun ini justru hanya berada di sekitar 10 juta saja.

Namun, memasuki kuartal kedua, situasinya sudah mulai membaik. Adanya momentum Lebaran pada kuartal ini jadi momentum lonjakan besar pada tahun ini. Di periode tersebut, film Jumbo bahkan mampu meraih 10 juta penonton dan menjadi yang terlaris di Indonesia menggeser KKN di Desa Penari (2022).

Bisa dibilang, sepanjang semester pertama 2025 dan 2024, ada dua perbedaan yang mencolok yang pada akhirnya turut memengaruhi jumlah penonton. Pada 2024, ada dua momentum penting pada semester pertama, yakni panen jumlah penonton saat film Agak Laen dan film Lebaran. Adapun, pada tahun ini momentum naiknya jumlah penonton secara besar-besaran hanya ditopang satu momentum, yakni di film Lebaran saja.
 

Pemenang giveaway nonton bareng film Siksa Kubur menunjukkan tiket bioskop di Jakarta, Jumat (3/5/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Pemenang giveaway nonton bareng film Siksa Kubur menunjukkan tiket bioskop di Jakarta, Jumat (3/5/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)


Memasuki kuartal ketiga, Suprayitno menilai kondisi pasar bioskop kembali bergerak normal tanpa lonjakan berarti. Namun, diakui olehnya, periode ini cenderung ada penurunan, terutama karena situasi ekonomi dan dinamika sosial politik.

Sebagai contoh, pada akhir Agustus 2025, jumlah kunjungan bioskop anjlok tajam akibat demonstrasi yang merebak di berbagai kota antara 25–31 Agustus. Potensi penurunannya, dalam kalkulasi GPBSI, bisa mencapai 30 persen hingga 50 persen.

Dampak penurunan ini terjadi karena mayoritas bioskop di beberapa daerah terpaksa menutup diri lebih awal, mengikuti kebijakan pusat perbelanjaan yang juga menutup operasional lebih cepat.

Hal ini sulit dihindari mengingat sekitar 98 persen bioskop di Indonesia berlokasi di dalam mal. Di sisi lain, kebiasaan masyarakat dalam kondisi seperti ini juga cenderung memilih tetap berada di rumah.

Namun, setelah kejadian ini, katanya, situasi kini mulai kembali normal. Akan tetapi, dia menilai untuk memulihkan kembali jumlah penonton setelah periode tersebut, diperlukan waktu yang tidak sebentar.

Sejauh ini, katanya, yang bisa dilakukan bioskop hanya berupaya menjalin kerja sama erat dengan rumah produksi untuk menjaga optimisme publik. Menurutnya, langkah ini menjadi satu-satunya cara yang realistis dilakukan dalam situasi sekarang.

Dia juga menambahkan, jadwal penayangan yang sudah ditentukan tidak mungkin diubah meski kondisinya demikian. Setiap film tetap harus diputar sesuai rencana, karena penundaan juga bukan opsi yang bisa ditempuh. Hal ini karena antrean tayang di bioskop pun sudah cukup lebar.

Di sisi lain, strategi berupa diskon dan promo juga tetap digencarkan sebagai upaya menarik penonton. Namun, strategi tersebut membutuhkan perhitungan lebih matang sekarang. Sebab, jika penonton tetap sedikit, strategi ini justru akan menimbulkan dilema mengingat biaya sewa ruang bioskop di mal tergolong tinggi.

"Tapi, kami cukup otimistis memasuki kuartal keempat nanti. Periode ini kan banyak libur panjang ya di Desember terutama. Makanya, kita berdoa saja lah semoga Desember ini semua sudah selesai," paparnya.

Dinamika pertumbuhan jumlah penonton juga terlihat dari kinerja dua jaringan bioskop besar di Indonesia, yaitu PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk. (CNMA) dan PT Graha Layar Prima Tbk. (BLTZ), yang menunjukkan tren berbeda sepanjang semester I/2025. CNMA mengalami penurunan laba bersih, sementara BLTZ justru mencatat lonjakan laba yang signifikan.

Laporan keuangan per 30 Juni 2025 menunjukkan pendapatan CNMA, pengelola bioskop XXI yang memiliki lebih banyak lokasi, turun 2,63 persen secara tahunan menjadi Rp2,87 triliun dibandingkan Rp2,95 triliun pada semester I/2024. Kontribusi terbesar masih berasal dari penjualan tiket, yakni Rp1,79 triliun.

Selain tiket, CNMA juga memperoleh pendapatan dari makanan dan minuman sebesar Rp968,01 miliar, iklan Rp30,98 miliar, platform digital Rp69,24 miliar, serta acara dan sumber lain Rp13,14 miliar. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp288,55 miliar, turun 25,85 persen YoY dari Rp389,18 miliar. Meski begitu, EBITDA CNMA tetap stabil di angka Rp842,4 miliar, mencerminkan kestabilan operasional perusahaan.

Di sisi lain, BLTZ yang mengelola jaringan CGV Cinemas, yang memiliki jumlah venue lebih sedikit dibanding XXI, menunjukkan kinerja berbeda. Pendapatannya hanya turun tipis 0,46 persen YoY menjadi Rp614,76 miliar, tetapi laba bersih justru melonjak 155,47 persen YoY menjadi Rp25,21 miliar dari sebelumnya Rp9,86 miliar.

Pendapatan BLTZ didukung segmen bioskop senilai Rp386,11 miliar, makanan dan minuman Rp193,93 miliar, serta acara dan iklan Rp34,70 miliar. Penurunan beban pokok pendapatan sebesar 1,69 persen menjadi Rp345,19 miliar turut mendorong peningkatan laba bruto menjadi Rp269,57 miliar dibandingkan Rp266,47 miliar pada periode sebelumnya.

Kini, industri perfilman tengah berada di persimpangan besar. Setelah mencatat berbagai rekor tahun lalu, pertanyaannya adalah apakah tahun ini bisa mengulang atau setidaknya menyamai pencapaian tersebut. Sekarang, masih tersisa 16 pekan untuk melihat bagaimana hasil akhir dari kinerja industri film Indonesia tahun ini.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Jadwal Lengkap Putaran 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia: Indonesia vs Arab Saudi Main 9 Oktober

BERIKUTNYA

Ingin Melamar Pekerjaan? Ini Cara Membuat CV yang Menarik agar Dilirik HRD

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga