Ilustrasi Blood Moon (Sumber Foto: Freepik/wirestock)

Mengenal Fenomena Blood Moon, Gerhana Bulan Merah yang Berlangsung 7-8 September 2025

07 September 2025   |   09:13 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan akan terjadi fenomena gerhana bulan total atau Blood Moon pada 7-8 September 2025. Peristiwa astronomi ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Sumatera Selatan, jika kondisi cuaca cerah.

Gerhana bulan total akan berada dalam fase totalitas pada 8 September 2025 pukul 00.30-01.53 WIB, di mana bulan akan tampak berwarna merah tembaga. Puncaknya diperkirakan terjadi sekitar pukul 01.11 WIB dengan ketinggian Bulan sekitar 31°-39° di langit barat dan barat daya. 

Melalui laman media sosial resminya, BMKG mengajak masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena ini bisa datang langsung ke dua lokasi pengamatan utama di Stasiun Meteorologi Komodo, Labuan Bajo dan Lapangan dr. Murdjani, Banjarbaru. Di kedua lokasi ini, pengamatan akan dilakukan mulai pukul 19.00-21.30 WITA. 

Baca juga: Link Streaming & Lokasi Terbaik Menyaksikan Blood Moon 7-8 September 2025 

Bagi yang tidak bisa hadir secara langsung, masyarakat tetap dapat menikmati keindahannya melalui siaran langsung di laman gerhana.bmkg.go.id. 

Fenomena Blood Moon akan menjadi salah satu gerhana bulan total terindah yang sangat dinantikan para pecinta astronomi. Gerhana bulan ini akan berlangsung dengan durasi mencapai 1 jam 22 menit dan dapat disaksikan di sebagian besar wilayah dunia, termasuk Asia, Australia, Afrika, hingga Eropa bagian timur. 


Bagaimana Terjadinya Blood Moon?

Mengutip Space, Blood Moon terjadi ketika Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti bumi (umbra) sehingga cahaya matahari tidak langsung menyinari permukaannya. Akan tetapi, alih-alih hilang dari pandangan, bulan justru tampak berwarna merah atau jingga tua. Warna inilah yang membuat fenomena tersebut dijuluki Blood Moon atau “Bulan Darah”.

Secara ilmiah, perubahan warna tersebut disebabkan oleh cara atmosfer Bumi membiaskan dan menyaring cahaya matahari. Saat gerhana berlangsung, sinar matahari melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal.

Proses ini menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan hijau, sementara cahaya merah yang memiliki gelombang lebih panjang tetap diteruskan. Cahaya inilah yang kemudian dipantulkan ke permukaan Bulan sehingga membuatnya terlihat bagai bola api yang menggantung di langit malam.

Fenomena Blood Moon bukanlah peristiwa yang langka, tapi juga tidak terjadi setiap tahun. Umumnya, gerhana bulan total bisa diamati dari berbagai belahan dunia beberapa kali dalam satu dekade. Indonesia termasuk beruntung karena sering menjadi salah satu lokasi pengamatan terbaik.

Sebelum sains mampu menjelaskan fenomena Blood Moon, masyarakat peradaban kuno memaknai bulan berwarna merah dengan hal-hal supranatural.

Bangsa Inca di Amerika Selatan, misalnya, meyakini Blood Moon sebagai pertanda ketika seekor jaguar raksasa menyerang Bulan. Mereka takut jika jaguar itu turun ke bumi dan memakan manusia. Untuk mengusir ancaman tersebut, masyarakat membuat suara gaduh, mengguncang tombak, dan berteriak keras-keras agar jaguar meninggalkan langit.

Di Mesopotamia kuno, khususnya Babylonia, gerhana bulan dipandang sebagai serangan makhluk gaib terhadap raja. Karena raja dianggap mewakili negara, fenomena ini ditafsirkan sebagai pertanda bencana politik. Untuk melindungi penguasa, mereka menerapkan ritual “raja palsu” yakni seseorang ditunjuk sementara sebagai pengganti raja agar bala yang diramalkan menimpa sang pengganti, bukan raja sebenarnya.

Sementara dalam tradisi China kuno, Blood Moon dianggap sebagai naga yang mencoba menggigit Bulan. Untuk menghalau naga, masyarakat menyalakan meriam, membunyikan lonceng, atau membuat suara keras. Dalam catatan Dinasti Zhou, kemunculan Bulan merah sering dikaitkan dengan pertanda bencana besar seperti kelaparan dan wabah.

Pada awalnya, masyarakat Yunani dan Romawi kuno juga menganggap gerhana bulan sebagai pertanda buruk atau kutukan. Namun kemudian muncul tokoh-tokoh penting seperti filsuf Yunani, Thales dan Sulpicius Gallus seorang jenderal Romawi sekaligus astronom yang mulai melihat fenomena itu secara ilmiah. Mereka menjelaskan bahwa gerhana bulan terjadi karena posisi Bumi, Bulan, dan Matahari sejajar, sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan.

Pengetahuan ini membuat masyarakat mulai memahami bahwa Blood Moon bukan peristiwa mistis atau pertanda bencana, melainkan bagian dari siklus alam semesta yang bisa dihitung dan diprediksi. Dari titik inilah lahir pandangan rasional dalam kebudayaan Barat bahwa gerhana adalah fenomena kosmik yang teratur, bukan kutukan para dewa.

Bagi para pecinta astronomi, menyaksikan Blood Moon menjadi kesempatan emas untuk mengamati langit malam dengan perspektif berbeda. Kita tidak memerlukan teleskop atau peralatan khusus, bulan merah bisa dilihat dengan mata telanjang di langit yang cerah dan bebas polusi cahaya. Momen ini juga bisa diabadikan lewat kamera sederhana. 

Baca juga: Momen 123 Tahun Sekali, Cek Tur Eksklusif untuk Melihat Gerhana Matahari Total 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Konser The Adams x FSTVLST di Pestapora 2025 Berubah Jadi Mimbar Rakyat

BERIKUTNYA

Raisa x Bernadya: Harmoni Dua Generasi di Panggung Pestapora 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga