Catat Tanggalnya! Blood Moon 7–8 September 2025 Siap Warnai Langit Malam
04 September 2025 |
16:30 WIB
Langit malam Indonesia akan menyajikan pertunjukan alam langka yang sayang untuk dilewatkan pada awal September mendatang. Fenomena gerhana bulan total berwarna merah yang sering dijuluki Blood Moon akan terlihat jelas di sebagian besar wilayah Tanah Air pada Minggu malam hingga Senin dini hari, 7–8 September 2025.
Gerhana bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan sepenuhnya. Namun, alih-alih menghilang, Bulan justru berubah warna menjadi merah tembaga yang dramatis.
Baca juga: Asal Usul Nama-Nama Bulan Purnama: Dari Wolf Moon hingga Blue Moon
Hal ini terjadi karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dibelokkan, hanya menyisakan cahaya dengan panjang gelombang merah yang sampai ke Bulan. Efek inilah yang membuat fenomena ini dijuluki Blood Moon atau Bulan Darah.
Yang membuatnya makin spesial, gerhana kali ini bukan sembarang gerhana. Mengutip laman astronomi global Time and Date, rangkaian gerhana ini akan berlangsung cukup lama, sekitar 5 jam 27 menit. Fase total, momen ketika Bulan benar-benar berada dalam bayangan Bumi akan berlangsung selama 1 jam 22 menit.
Ini menjadikannya salah satu gerhana bulan total dengan durasi terpanjang dalam beberapa tahun terakhir, sebuah kesempatan langka yang tentu tak ingin dilewatkan oleh banyak orang.
Secara global, lebih dari 7 miliar orang di Bumi berpeluang menyaksikan fenomena langka ini, dan sekitar 6,2 miliar di antaranya dapat menikmati keseluruhan fase totalitas dari awal hingga akhir. Kabar baiknya, hampir seluruh wilayah Asia, termasuk Indonesia, berada di jalur terbaik untuk melihat Blood Moon ini secara sempurna.
Di Jakarta dan kota-kota lain di Waktu Indonesia Barat, gerhana akan dimulai dengan fase penumbra pada pukul 22.28 WIB. Fase sebagian dimulai pukul 23.27 WIB, lalu Bulan akan memerah total mulai pukul 00.30 WIB.
Puncak gerhana terjadi pukul 01.11 WIB, dan fase total akan berakhir pada pukul 01.52 WIB. Setelah itu, bayangan Bumi perlahan meninggalkan Bulan, dan seluruh rangkaian fenomena akan selesai sekitar pukul 03.55 WIB.
Fenomena ini juga aman dilihat dengan mata telanjang tanpa perlu kacamata khusus seperti saat gerhana Matahari. Untuk pengalaman yang lebih seru, masyarakat bisa menggunakan teleskop atau kamera dengan tripod untuk mengabadikan momen Bulan merah tersebut.
Bukan hanya menarik bagi penggemar astronomi, Blood Moon kerap memikat siapa pun yang ingin menikmati momen langka di bawah langit malam. Di banyak budaya, fenomena ini bahkan memunculkan berbagai kisah dan mitos, meski secara ilmiah, gerhana bulan hanyalah bagian dari siklus alami orbit Bumi dan Bulan.
Bagi Genhype yang berencana menyaksikannya, pastikan memantau prakiraan cuaca. Langit yang cerah adalah kunci utama untuk dapat menikmati gerhana dengan sempurna. Siapkan alas duduk, camilan, dan kamera terbaik, karena kesempatan menyaksikan Blood Moon sepanjang ini mungkin baru datang lagi beberapa tahun ke depan.
Baca juga: Asal Usul Nama-Nama Bulan Purnama: Dari Wolf Moon hingga Blue Moon
Gerhana bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan sepenuhnya. Namun, alih-alih menghilang, Bulan justru berubah warna menjadi merah tembaga yang dramatis.
Baca juga: Asal Usul Nama-Nama Bulan Purnama: Dari Wolf Moon hingga Blue Moon
Hal ini terjadi karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dibelokkan, hanya menyisakan cahaya dengan panjang gelombang merah yang sampai ke Bulan. Efek inilah yang membuat fenomena ini dijuluki Blood Moon atau Bulan Darah.
Yang membuatnya makin spesial, gerhana kali ini bukan sembarang gerhana. Mengutip laman astronomi global Time and Date, rangkaian gerhana ini akan berlangsung cukup lama, sekitar 5 jam 27 menit. Fase total, momen ketika Bulan benar-benar berada dalam bayangan Bumi akan berlangsung selama 1 jam 22 menit.
Ini menjadikannya salah satu gerhana bulan total dengan durasi terpanjang dalam beberapa tahun terakhir, sebuah kesempatan langka yang tentu tak ingin dilewatkan oleh banyak orang.
Secara global, lebih dari 7 miliar orang di Bumi berpeluang menyaksikan fenomena langka ini, dan sekitar 6,2 miliar di antaranya dapat menikmati keseluruhan fase totalitas dari awal hingga akhir. Kabar baiknya, hampir seluruh wilayah Asia, termasuk Indonesia, berada di jalur terbaik untuk melihat Blood Moon ini secara sempurna.
Di Jakarta dan kota-kota lain di Waktu Indonesia Barat, gerhana akan dimulai dengan fase penumbra pada pukul 22.28 WIB. Fase sebagian dimulai pukul 23.27 WIB, lalu Bulan akan memerah total mulai pukul 00.30 WIB.
Puncak gerhana terjadi pukul 01.11 WIB, dan fase total akan berakhir pada pukul 01.52 WIB. Setelah itu, bayangan Bumi perlahan meninggalkan Bulan, dan seluruh rangkaian fenomena akan selesai sekitar pukul 03.55 WIB.
Fenomena ini juga aman dilihat dengan mata telanjang tanpa perlu kacamata khusus seperti saat gerhana Matahari. Untuk pengalaman yang lebih seru, masyarakat bisa menggunakan teleskop atau kamera dengan tripod untuk mengabadikan momen Bulan merah tersebut.
Bukan hanya menarik bagi penggemar astronomi, Blood Moon kerap memikat siapa pun yang ingin menikmati momen langka di bawah langit malam. Di banyak budaya, fenomena ini bahkan memunculkan berbagai kisah dan mitos, meski secara ilmiah, gerhana bulan hanyalah bagian dari siklus alami orbit Bumi dan Bulan.
Bagi Genhype yang berencana menyaksikannya, pastikan memantau prakiraan cuaca. Langit yang cerah adalah kunci utama untuk dapat menikmati gerhana dengan sempurna. Siapkan alas duduk, camilan, dan kamera terbaik, karena kesempatan menyaksikan Blood Moon sepanjang ini mungkin baru datang lagi beberapa tahun ke depan.
Baca juga: Asal Usul Nama-Nama Bulan Purnama: Dari Wolf Moon hingga Blue Moon
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.