Kontroversi Penggunaan Generative AI dalam Film Animasi
03 September 2025 |
16:00 WIB
Pada era perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dunia hiburan semakin mengeksplorasi generative AI. Alat ini dapat menciptakan teks, gambar, audio, hingga video melalui pola yang telah dilatih dari sekumpulan data besar.
Namun, menurut laporan Luminate, penyedia data mengenai industri hiburan, cara mengintegrasikan AI ke dalam proses kreatif menjadi kontroversi. Di dalam laporan itu, animasi menjadi genre yang mendominasi kategori film lainnya.
Penggemar film animasi, terutama animasi Jepang (anime), kemungkinan besar adalah penonton yang paling banyak menyaksikan film di bioskop. Tak hanya menjadi penonton bioskop terbesar, penggemar film animasi juga menjadi pengguna platform streaming paling besar.
Baca juga: Panji Tengkorak Versi Animasi, Momentum Baru untuk Film Silat Indonesia?
Sebanyak 76% pengguna platform Netflix merupakan penonton film dan serial animasi. Begitu pula di platform streaming lainnya, seperti Hulu dan Disney+ yang menawarkan banyak film dan serial animasi. Hal ini membuktikan bahwa animasi menjadi investasi yang menarik, baik bagi studio film ataupun layanan streaming, untuk menggaet pasar mereka.
Misalnya saja, KPop Demon Hunters yang menjadi film yang paling banyak diputar di Netflix. Pun, ada beberapa animasi sukses lainnya sepanjang 2023-2025 menurut Luminate, yakni Inside Out 2, The Super Mario Bros 2 dan Moana 2.
Tak hanya itu, film-film animasi Jepang, yang menjadi eksportir animasi terbesar dalam industri ini, pun banyak digemari di seluruh penjuru dunia sehingga menjadi serial legendaris, seperti One Piece, Naruto, atau belakangan ini, Demon Slayer.
Tren animasi menjadi pusat perhatian, tetapi penggunaan AI di dalamnya masih menjadi perdebatan. Pendukung AI menganggap kecerdasan ini sebagai bantuan revolusioner yang dapat mempercepat dan memudahkan biaya produksi. Sementara itu di kubu lainnya, AI dipandang sebagai potensi tantangan bagi dunia kreatif dan hiburan.
Perdebatan ini bukanlah hal yang baru. Sejak lama, menggunakan generative AI untuk membuat karya seni lain, seperti gambar, terutama untuk kepentingan komersial, menjadi perbincangan yang kontroversial.
Para kritikus seni dan seniman tradisional menganggap generative AI sebagai alat kotor yang dapat mengkhawatirkan dari aspek kreatif, hukum, serta etika. Hal-hal seperti pengikisan data, hak kekayaan intelektual, batasan etika, kendali kreatif hingga keamanan kerja menjadi argumen penting, membuktikan kesenjangan yang diciptakan oleh AI.
Merespons hal ini, Netflix telah menerbitkan pedoman penggunaan generative AI yang bisa diterapkan. Pedoman ini memungkinkan penggunaan AI dalam proses kreatif, tetapi mendesak pembuat film agar transparan dalam menggunakan AI, menghindari risiko hak cipta, dan memastikan bahwa menggunakan kecerdasan buatan tanpa merusak kreativitas manusia.
Di samping itu, beberapa pekerjaan seni akan terdampak dalam dua tahun ke depan, seperti kreator storyboard, VFX artist, hingga game developer. Tidak hanya kreator animasi dan pekerja kreatif, survei Luminate juga menunjukkan bahwa 30% konsumen film tidak nyaman ketika menonton animasi yang menggunakan generative AI.
Baca juga: First Look Film Animasi Garuda di Dadaku Dirilis, Tayang 2026 di Bioskop
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, menurut laporan Luminate, penyedia data mengenai industri hiburan, cara mengintegrasikan AI ke dalam proses kreatif menjadi kontroversi. Di dalam laporan itu, animasi menjadi genre yang mendominasi kategori film lainnya.
Penggemar film animasi, terutama animasi Jepang (anime), kemungkinan besar adalah penonton yang paling banyak menyaksikan film di bioskop. Tak hanya menjadi penonton bioskop terbesar, penggemar film animasi juga menjadi pengguna platform streaming paling besar.
Baca juga: Panji Tengkorak Versi Animasi, Momentum Baru untuk Film Silat Indonesia?
Sebanyak 76% pengguna platform Netflix merupakan penonton film dan serial animasi. Begitu pula di platform streaming lainnya, seperti Hulu dan Disney+ yang menawarkan banyak film dan serial animasi. Hal ini membuktikan bahwa animasi menjadi investasi yang menarik, baik bagi studio film ataupun layanan streaming, untuk menggaet pasar mereka.
Misalnya saja, KPop Demon Hunters yang menjadi film yang paling banyak diputar di Netflix. Pun, ada beberapa animasi sukses lainnya sepanjang 2023-2025 menurut Luminate, yakni Inside Out 2, The Super Mario Bros 2 dan Moana 2.
Tak hanya itu, film-film animasi Jepang, yang menjadi eksportir animasi terbesar dalam industri ini, pun banyak digemari di seluruh penjuru dunia sehingga menjadi serial legendaris, seperti One Piece, Naruto, atau belakangan ini, Demon Slayer.
Tren animasi menjadi pusat perhatian, tetapi penggunaan AI di dalamnya masih menjadi perdebatan. Pendukung AI menganggap kecerdasan ini sebagai bantuan revolusioner yang dapat mempercepat dan memudahkan biaya produksi. Sementara itu di kubu lainnya, AI dipandang sebagai potensi tantangan bagi dunia kreatif dan hiburan.
Perdebatan ini bukanlah hal yang baru. Sejak lama, menggunakan generative AI untuk membuat karya seni lain, seperti gambar, terutama untuk kepentingan komersial, menjadi perbincangan yang kontroversial.
Para kritikus seni dan seniman tradisional menganggap generative AI sebagai alat kotor yang dapat mengkhawatirkan dari aspek kreatif, hukum, serta etika. Hal-hal seperti pengikisan data, hak kekayaan intelektual, batasan etika, kendali kreatif hingga keamanan kerja menjadi argumen penting, membuktikan kesenjangan yang diciptakan oleh AI.
Merespons hal ini, Netflix telah menerbitkan pedoman penggunaan generative AI yang bisa diterapkan. Pedoman ini memungkinkan penggunaan AI dalam proses kreatif, tetapi mendesak pembuat film agar transparan dalam menggunakan AI, menghindari risiko hak cipta, dan memastikan bahwa menggunakan kecerdasan buatan tanpa merusak kreativitas manusia.
Di samping itu, beberapa pekerjaan seni akan terdampak dalam dua tahun ke depan, seperti kreator storyboard, VFX artist, hingga game developer. Tidak hanya kreator animasi dan pekerja kreatif, survei Luminate juga menunjukkan bahwa 30% konsumen film tidak nyaman ketika menonton animasi yang menggunakan generative AI.
Baca juga: First Look Film Animasi Garuda di Dadaku Dirilis, Tayang 2026 di Bioskop
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.