Menonton film (Sumber gambar: Pexels/Luis Quintero)

Cerita di Balik Pemilihan Film Pembuka & Penutup Jakarta World Cinema 2025

01 September 2025   |   09:56 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Dalam setiap festival film, pemilihan film pembuka dan penutup selalu menjadi sorotan. Bukan hanya karena statusnya yang prestisius, melainkan juga karena posisi ini berfungsi sebagai pernyataan awal dan penutup yang membingkai keseluruhan warna festival yang coba ditawarkan.

Bagi penyelenggara, keputusan memilih dua film penting tersebut tak bisa dilakukan sembarangan. Ada pertimbangan artistik, relevansi isu, hingga daya tarik bagi penonton yang hadir. Kombinasi itu menjadikan film pembuka dan penutup seolah menjadi wajah resmi festival dalam memandang situasi kekinian.

Jakarta World Cinema 2025 pun menempatkan perhatian besar pada hal ini. Dengan mengangkat tema keberagaman suara sinema dunia, festival ini ingin menghadirkan karya yang tidak hanya memikat secara estetis, tetapi juga berbicara lebih jauh tentang zaman, masyarakat, dan perlawanan. 

Baca juga: Daftar Lineup Lengkap Jakarta World Cinema 2025, Ada Sentimental Value  

Festival Director Jakarta World Cinema 2025 Shandy Gasella mengatakan festivalnya tahun ini mencoba memberikan pendekatan yang berbeda dari tahun lalu perihal film pembuka dan penutup. Jika tahun lalu JWC dibuka dengan hingar-bingar lewat The Substance lalu menutupnya dengan realitas absurd Bird, kali ini festival ingin menghadirkan hal yang lebih personal.

"Tahun ini JWC mau menghadirkan sesuatu yang beda dengan film pertamanya adalah Sentimental Value. Sebuah film yang lebih menghadirkan keintiman, kehangatan, dan refleksi personal yang saya yakin dekat dengan kita sekarang," ungkap Shandy

Shandy mengatakan saat ini film Sentimental Value karya Joachim Trier juga menjadi salah satu judul yang paling dicari dan diselebrasi di dunia sekarang. Sebab, film ini sebelumnya telah mendapatkan piala Grand Prix di Festival Film Cannes 2025. Saat penayangannya di sana, film asal Norwegia ini menuai banyak pujian karena penggambarannya yang halus dan menyentuh tentang keluarga, kehilangan, dan warisan emosional. 

Dalam film ini, sang sutradara, Trier, yang sebelumnya dikenal lewat The Worst Person in the World (2021), kembali mengangkat tema-tema personal lewat pendekatan naratif yang puitis dan tenang. Filmnya kali ini berfokus pada kisah dua saudara perempuan, Nora dan Agnes, yang kembali berhubungan dengan ayah mereka, Gustav, seorang mantan sutradara film terkenal, setelah lama berpisah. 

Gustav, yang sedang berusaha bangkit kembali dalam kariernya ini mulanya menawarkan peran utama film barunya kepada Nora. Akan tetapi, Nora menolaknya. Dia kemudian memilih bintang muda Hollywood, Rachel Kemp. Namun, situasi ini justru membuat hubungan mereka semakin rumit. 

Film Sentimental Value mencoba bergerak dengan mengeksplorasi hubungan keluarga yang kompleks, dinamika antara ayah dan anak, serta bagaimana seni dapat menjadi cara untuk mengatasi masa lalu dan memperbaiki hubungan yang retak. 

Usai dibuka dibuka dengan narasi personal, JWC kemudian memilih film It Was Just an Accident sebagai penutup yang lebih menggigit. Program Director Jakarta World Cinema 2025 Daniel Irawan mengatakan film karya Jafar Panahi tersebut dipilih sebagai penutup festival sebagai simbol keberanian pada masa sekarang.

"Film itu merepresentasikan keberanian dan konsistensi maestro sinema yang tetap berkarya walaupun dibatasi kondisi sosial dan politik di sekitarnya. Kisahnya sederhana, tapi mampu memberi refleksi tajam soal kemanusiaan dan realitas," ungkapnya.

Daniel menyebut setelah festival dibuka dengan perasaan yang intim dan hangat, It Was Just an Accident adalah sajian penutup yang mencoba melengkapi dan menyeimbanginya. Sebab, dirinya percaya sinema adalah wadah untuk berbagai perasaan muncul.

"Sinema bukan hanya ruang kenangan dan perasaan personal, tapi juga wadah keberanian, kritik, dan suara kebebasan," tegasnya.

It Was Just an Accident (2025) karya Jafar Panahi sebelumnya berhasil keluar sebagai pemenang Palme d'Or, piala paling bergengsi di Cannes 2025.

Karya ini menarik perhatian para juri dan penonton karena diproduksi dalam kondisi terbatas di Iran, di tengah larangan Panahi untuk membuat film secara resmi. Dengan pendekatan realis yang khas, film ini memperlihatkan potret masyarakat yang hidup dalam tekanan hukum dan sosial yang kompleks.

It Was Just an Accident mengisahkan tentang seorang pria bernama Eghbal yang mengalami kecelakaan kecil saat mengemudi bersama istrinya. Kecelakaan itu menyebabkan mobilnya rusak dan membawanya ke sebuah bengkel. Di bengkel tersebut, seorang montir, Vahid, yang merupakan mantan tahanan politik, curiga bahwa Eghbal adalah orang yang dulu menyiksanya di penjara. 

Vahid kemudian menculik Eghbal dan berniat membalas dendam. Akan tetapi, keraguan muncul karena Vahid tidak yakin apakah Eghbal benar-benar orang yang sama. Dengan nuansa satir dan ironi, Panahi menggambarkan absurditas kehidupan sehari-hari di bawah rezim represif. 

Jakarta World Cinema akan digelar secara online dari 4 September-4 Oktober 2025 secara eksklusif di KlikFilm. Adapun, pemutaran langsung di bioskop akan berlangsung pada 27 September-4 Oktober 2025 di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Tahun ini, JWC akan memutar 185 film dari 66 negara. 

Baca juga: Film-film Pemenang Festival Internasional Bakal Hadir di Jakarta World Cinema 2025 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Seluruh Stasiun MRT Jakarta Beroperasi Normal Hari Ini, Termasuk Istora Mandiri

BERIKUTNYA

Deretan Konser Ditunda karena Alasan Keamanan, Termasuk Reuni Peterpan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga