Road to Jakarta Film Week 2025, 6 Film Diputar di Taman Ismail Marzuki
30 August 2025 |
12:00 WIB
1
Like
Like
Like
Program Road to Jakarta Film Week 2025 hadir di Studio Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, Jumat (29/8/2025) malam. Enam film pilihan yang diputar dalam acara ini berhasil menarik puluhan penonton, sebagian besar anak muda yang datang dari Jakarta dan wilayah lain di sekitarnya.
Sejak siang menuju sore, ruang pemutaran yang ada di lantai empat Gedung Trisno Soemardjo tersebut sudah dipenuhi oleh pengunjung. Mereka tampak antusias, ada yang datang bersama teman, ada pula yang memilih menikmati suasana sendiri sebelum masuk ruang pemutaran.
Road to Jakarta Film Week 2025 kali ini menampilkan enam judul yang terdiri dari lima film pendek dan satu film panjang. Untuk kategori film pendek, karya-karya yang diputar merupakan bagian dari kompetisi CinemaSHORT 2025, yang menampilkan deretan film terbaik dari Asia, termasuk dari Korea Selatan, Vietnam, hingga Indonesia.
Baca juga: Daftar Lineup Lengkap Jakarta World Cinema 2025, Ada Sentimental Value​​​​​​​
Sore itu, tepat pukul 16.00 WIB, layar dibuka dengan Samu the Terrible and His Sin (2024). Film ini merupakan penanda debutnya di film pendek fiksi, setelah sebelumnya lebih banyak bergelut di dunia desain grafis.
Diproduksi oleh Qun Films dan Lune Features, film ini bercerita tentang sosok siswa calon angkatan laut yang kesepian. Dia kemudian menemukan kekuatan dari air tawar, lalu menggunakannya untuk melawan para pesaingnya. Selama 18 menit, kisah ini bergerak lincah, memadukan ketegangan thriller, emosi drama, dan imajinasi fantasi.
Setelah menyajikan film dari Indonesia, festival kemudian membawa penonton ke warna sinema Korea Selatan lewat Morning in Autumn (2025) karya sutradara Kim Sungmin. Film ini menawarkan kisah yang lembut sekaligus emosional, menyoroti pertemuan dua jiwa dari generasi berbeda.
Cerita berpusat pada Ki Tae yang terdampar di sebuah desa dan berjumpa dengan Jong-ryeo, seorang perempuan lansia yang hidup dalam kesepian. Dari pertemuan sederhana itu, lahirlah ikatan tak terduga yang perlahan mengisi kekosongan hidup keduanya.
Tidak hanya menayangkan film live action, festival juga membawa penonton ke dunia animasi lewat MAIA: A Solarpunk Story (2025). Film pendek garapan sutradara Indonesia, Lesra Ariel Herdiaji, ini menyajikan perpaduan action, adventure, dan sci-fi dengan imajinasi visual yang kuat.
Alfea, ilmuwan di kota terakhir bernama Maia. Suatu hari dia bertemu Aruna, pendatang yang butuh bantuan untuk desanya yang terancam hilang. Pertemuan keduanya berubah jadi petualangan penuh ketegangan saat mereka menyadari ada misteri yang disimpan kotanya.
Film selanjutnya yang ditayangkan adalah How an Apocalypse Ends (2025) karya sutradara Dang Thuy Trang. Film produksi asal Vietnam ini mengangkat ketegangan antara persahabatan dan insting bertahan hidup.
Kisahnya berpusat pada dilema berat, yakni ketika seorang sahabat berubah menjadi zombie, apakah kita harus mengorbankannya atau justru mencoba menyelamatkannya dengan risiko seluruh dunia terjangkit wabah.
Pemutaran film pendek pada sesi sore ditutup dengan The Devil Wears Pants (2024) karya sutradara Indonesia Daffa Mangussara. Film ini menampilkan kisah sebuah pertunjukan teater yang berubah menjadi tragedi ketika mayat sungguhan jatuh di atas panggung.
Peristiwa tersebut membawa tokoh utama, Dharma, masuk ke dalam rangkaian misteri yang kelam. Dalam alur cerita, batas antara peran di atas panggung dan kenyataan makin memudar hingga membuatnya harus berhadapan dengan pertanyaan mendasar mengenai jati dirinya.
Setelah sesi sore berakhir, festival berlanjut ke sesi malam. Dibuka tepat pukul 19.00 WIB, sesi malam diisi dengan pemutaran film panjang Sweet Dreams, hasil kolaborasi Belanda, Indonesia, Swedia, dan Prancis. Disutradarai Ena Sendijarevic, film ini dalam dua tahun terakhir mencuri perhatian dunia karena keberaniannya mengangkat setting Hindia Belanda awal abad ke-20.
Kala itu, film ini juga makin membuat penasaran para sinefil (sebutan pencinta film) karena menggelar pemutaran perdananya (world premier) di Locarno Film Festival pada 2023. Di festival tersebut, film ini meraih Junior Jury Award dan Best Performance. Film ini kemudian dipilih sebagai pembuka Festival Film Belanda ke-43 dan berhasil memenangkan enam penghargaan sekaligus dari total 8 nominasi yang didapat.
Salah satu hal menarik lain dari Sweet Dreams adalah partisipasi sejumlah sineas dan aktor Indonesia. Dalam film ini, Mandy Marahimin turut bergabung sebagai coproduser, sementara Kaan Lativan, Verdi Solaiman, dan Hayati Azis juga turut berperan dan beradu akting dengan para aktor Belanda.
Sweet Dreams menyajikan kisah satir dengan balutan estetika megah yang menyingkap sisi tragis dari keruntuhan kolonialisme Eropa. Cerita bermula dari wafatnya Jan (Hans Dagelet), seorang taipan gula Belanda, secara mendadak di Sumatera.
Kepergian itu mengejutkan sang istri, Agathe (Renee Sotendijk). Putranya, Cornelis (Florian Myjer), bersama istrinya yang tengah hamil, Josefien (Lisa Zweerman), kemudian datang ke Sumatera untuk menguasai warisan keluarga.
Namun, rencana mereka menemui jalan buntu saat mendapati keberadaan gundik Jan, Siti (Hayati Azis), ternyata lebih memiliki posisi penting dalam wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum.
Jakarta Film Week 2025 akan berlangsung pada 22 hingga 26 Oktober 2025. Sejak digelar pertama kali pada 2021, festival ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Tidak hanya jumlah film yang diterima meningkat, tetapi antusiasme masyarakat terhadap pesta sinema di Jakarta ini juga kian besar.
Memasuki edisi kelima, JFW semakin menegaskan posisinya sebagai ajang penting yang menandai eksistensi dan kebangkitan industri film pasca pandemi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sejak siang menuju sore, ruang pemutaran yang ada di lantai empat Gedung Trisno Soemardjo tersebut sudah dipenuhi oleh pengunjung. Mereka tampak antusias, ada yang datang bersama teman, ada pula yang memilih menikmati suasana sendiri sebelum masuk ruang pemutaran.
Road to Jakarta Film Week 2025 kali ini menampilkan enam judul yang terdiri dari lima film pendek dan satu film panjang. Untuk kategori film pendek, karya-karya yang diputar merupakan bagian dari kompetisi CinemaSHORT 2025, yang menampilkan deretan film terbaik dari Asia, termasuk dari Korea Selatan, Vietnam, hingga Indonesia.
Baca juga: Daftar Lineup Lengkap Jakarta World Cinema 2025, Ada Sentimental Value​​​​​​​
Sore itu, tepat pukul 16.00 WIB, layar dibuka dengan Samu the Terrible and His Sin (2024). Film ini merupakan penanda debutnya di film pendek fiksi, setelah sebelumnya lebih banyak bergelut di dunia desain grafis.
Diproduksi oleh Qun Films dan Lune Features, film ini bercerita tentang sosok siswa calon angkatan laut yang kesepian. Dia kemudian menemukan kekuatan dari air tawar, lalu menggunakannya untuk melawan para pesaingnya. Selama 18 menit, kisah ini bergerak lincah, memadukan ketegangan thriller, emosi drama, dan imajinasi fantasi.
Setelah menyajikan film dari Indonesia, festival kemudian membawa penonton ke warna sinema Korea Selatan lewat Morning in Autumn (2025) karya sutradara Kim Sungmin. Film ini menawarkan kisah yang lembut sekaligus emosional, menyoroti pertemuan dua jiwa dari generasi berbeda.
Cerita berpusat pada Ki Tae yang terdampar di sebuah desa dan berjumpa dengan Jong-ryeo, seorang perempuan lansia yang hidup dalam kesepian. Dari pertemuan sederhana itu, lahirlah ikatan tak terduga yang perlahan mengisi kekosongan hidup keduanya.
Tidak hanya menayangkan film live action, festival juga membawa penonton ke dunia animasi lewat MAIA: A Solarpunk Story (2025). Film pendek garapan sutradara Indonesia, Lesra Ariel Herdiaji, ini menyajikan perpaduan action, adventure, dan sci-fi dengan imajinasi visual yang kuat.
Alfea, ilmuwan di kota terakhir bernama Maia. Suatu hari dia bertemu Aruna, pendatang yang butuh bantuan untuk desanya yang terancam hilang. Pertemuan keduanya berubah jadi petualangan penuh ketegangan saat mereka menyadari ada misteri yang disimpan kotanya.
Film selanjutnya yang ditayangkan adalah How an Apocalypse Ends (2025) karya sutradara Dang Thuy Trang. Film produksi asal Vietnam ini mengangkat ketegangan antara persahabatan dan insting bertahan hidup.
Kisahnya berpusat pada dilema berat, yakni ketika seorang sahabat berubah menjadi zombie, apakah kita harus mengorbankannya atau justru mencoba menyelamatkannya dengan risiko seluruh dunia terjangkit wabah.
Pemutaran film pendek pada sesi sore ditutup dengan The Devil Wears Pants (2024) karya sutradara Indonesia Daffa Mangussara. Film ini menampilkan kisah sebuah pertunjukan teater yang berubah menjadi tragedi ketika mayat sungguhan jatuh di atas panggung.
Peristiwa tersebut membawa tokoh utama, Dharma, masuk ke dalam rangkaian misteri yang kelam. Dalam alur cerita, batas antara peran di atas panggung dan kenyataan makin memudar hingga membuatnya harus berhadapan dengan pertanyaan mendasar mengenai jati dirinya.
Setelah sesi sore berakhir, festival berlanjut ke sesi malam. Dibuka tepat pukul 19.00 WIB, sesi malam diisi dengan pemutaran film panjang Sweet Dreams, hasil kolaborasi Belanda, Indonesia, Swedia, dan Prancis. Disutradarai Ena Sendijarevic, film ini dalam dua tahun terakhir mencuri perhatian dunia karena keberaniannya mengangkat setting Hindia Belanda awal abad ke-20.
Kala itu, film ini juga makin membuat penasaran para sinefil (sebutan pencinta film) karena menggelar pemutaran perdananya (world premier) di Locarno Film Festival pada 2023. Di festival tersebut, film ini meraih Junior Jury Award dan Best Performance. Film ini kemudian dipilih sebagai pembuka Festival Film Belanda ke-43 dan berhasil memenangkan enam penghargaan sekaligus dari total 8 nominasi yang didapat.
Salah satu hal menarik lain dari Sweet Dreams adalah partisipasi sejumlah sineas dan aktor Indonesia. Dalam film ini, Mandy Marahimin turut bergabung sebagai coproduser, sementara Kaan Lativan, Verdi Solaiman, dan Hayati Azis juga turut berperan dan beradu akting dengan para aktor Belanda.
Sweet Dreams menyajikan kisah satir dengan balutan estetika megah yang menyingkap sisi tragis dari keruntuhan kolonialisme Eropa. Cerita bermula dari wafatnya Jan (Hans Dagelet), seorang taipan gula Belanda, secara mendadak di Sumatera.
Kepergian itu mengejutkan sang istri, Agathe (Renee Sotendijk). Putranya, Cornelis (Florian Myjer), bersama istrinya yang tengah hamil, Josefien (Lisa Zweerman), kemudian datang ke Sumatera untuk menguasai warisan keluarga.
Namun, rencana mereka menemui jalan buntu saat mendapati keberadaan gundik Jan, Siti (Hayati Azis), ternyata lebih memiliki posisi penting dalam wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum.
Jakarta Film Week 2025 akan berlangsung pada 22 hingga 26 Oktober 2025. Sejak digelar pertama kali pada 2021, festival ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Tidak hanya jumlah film yang diterima meningkat, tetapi antusiasme masyarakat terhadap pesta sinema di Jakarta ini juga kian besar.
Memasuki edisi kelima, JFW semakin menegaskan posisinya sebagai ajang penting yang menandai eksistensi dan kebangkitan industri film pasca pandemi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.