Menengok Gaya Urban Wear, Denim, sampai Modular Fashion Karya Desainer PINTU Incubator
26 August 2025 |
19:30 WIB
Kreativitas jenama fesyen lokal kembali mewarnai panggung mode Jakarta. Melalui proses inkubasi selama enam bulan, PINTU Incubator menghadirkan deretan koleksi terbaru dari brand-brand terpilih yang berhasil mencuri perhatian.
Karya-karya ini dipresentasikan di JF3 Fashion Festival 2025, lewat sebuah show kolaboratif bertajuk Echoes of the Future by PINTU Incubator featuring École Duperré. Pertunjukan ini menegaskan komitmen program mereka dalam mendorong talenta lokal menuju panggung mode internasional.
Sejak diluncurkan pada 2022, PINTU Incubator telah menjadi wadah pengembangan bagi desainer muda melalui proses kurasi, mentoring professional, pertukaran budaya, pengalaman profesional, dan eksposur ke pasar global.
Baca juga: Karya ADITH dan Howard Laurent Curi Perhatian di Jakarta Fashion & Food Festival
Program ini menghubungkan para desainer muda dengan para ahli, institusi, dan ekosistem kreatif dari kedua negara. Dalam tiga tahun terakhir, PINTU telah menjaring lebih dari 10.000 brand yang tertarik, memilih 51 peserta terinkubasi, dan melibatkan 86 mentor ahli, termasuk 33 dari Prancis.
Mulai dari Lil Public sampai CLV, para jenama di bawah arahan PINTU Incubator memamerkan koleksi yang mencerminkan keberagaman gaya, mulai dari urban wear modern, interpretasi denim yang progresif, hingga desain modular yang fungsional.
Jenama fesyen urban Lil Public mencuri perhatian lewat koleksi perdananya bertajuk “Hisashi Series”. Karya ini lahir dari inspirasi sebuah novel karya Hisashi yang mengeksplorasi bagaimana makanan mampu membangkitkan kenangan, emosi, hingga cerita hidup seseorang.
Mengangkat konsep yang unik dan penuh imajinasi, Lil Public menghadirkan monster-monster ilustratif yang terinspirasi dari berbagai makanan ikonik yang muncul dalam novel, seperti mackerel, nori-ben, sushi, nabeyaki udon, ten-don, napolitan spaghetti, hingga Christmas cake.
Setiap karakter monster tak hanya merepresentasikan bentuk atau warna dari makanan tersebut, tetapi juga menghidupkan emosi yang melekat pada setiap cerita. Mulai dari kehangatan keluarga, cinta masa lalu, hingga rasa rindu yang tak pernah terucapkan.
Didesain untuk generasi urban yang dinamis, Hisashi Series menghadirkan fashion item dengan cutting oversize bergaya urban wear yang mudah dipadupadankan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Koleksi ini mencakup hoodie, work jacket, leather jacket, shirt & t-shirt, celana, aksesori, serta topi dengan desain unik yang menjadi ciri khas Lil Public.
Dengan karakter visual yang berani dan narasi yang mendalam, peluncuran Hisashi Series menandai langkah awal Lil Public dalam menghadirkan identitas fashion urban yang segar, kreatif, dan sarat makna. Koleksi ini menunjukkan bahwa Lil Public bukan sekadar brand pakaian, tetapi medium ekspresi yang menghubungkan cerita, rasa, dan gaya hidup urban masa kini.
Jenama lainnya ada DENIMITUP yang meluncurkan koleksi anyar bertajuk THE REVELATION. Di bawah arahan kreatif Vincent Mikhael. Label denim progresif ini menghadirkan enam tampilan yang memadukan teknik jahitan split-pattern modern, warna kontras yang berani, serta interpretasi ulang kain tradisional seperti songket dan batik melalui perspektif denim kontemporer.
“Revelation memperkenalkan tampilan khas terbaru dari DENIMITUP, tanpa mengesampingkan misi kami untuk memperkenalkan ikon TRILOGO ke dunia,” ungkap Vincent Mikhael.
Menurut Vincent, THE REVELATION lahir dari refleksi atas situasi dunia saat ini. Dengan demikian, desain dalam koleksi ini mencerminkan visi tentang bagaimana manusia mungkin akan berpakaian di babak terakhir dari era ini.
“Kami percaya dunia ini semakin dipenuhi masalah manusia semakin serakah, tantangan terus bermunculan... dan seperti yang tercermin dalam banyak kitab suci, kita sedang mendekati akhir zaman,” ujarnya.
Tak hanya menonjol dari sisi desain, DENIMITUP juga tetap mempertahankan komitmennya pada prinsip fesyen berkelanjutan. Ini sekaligus menegaskan bahwa pakaian fungsional dan stylish dapat menjadi investasi jangka panjang, bukan sekadar tren musiman.
Koleksi Revelation menampilkan enam look yang masing-masing menonjolkan keunikan eksplorasi motif, teknik pewarnaan, hingga potongan. Seluruh prosesnya, mulai dari ilustrasi, pembuatan pola, jahit, pewarnaan, hingga penyempurnaan akhir seperti trimming benang, dilakukan oleh tangan-tangan ahli THE HOUSE OF DENIMITUP yang semuanya diproduksi di Indonesia.
Terakhir ada CLV, label artwear yang memperkenalkan koleksi bertajuk W.I.P (Work In Progress), sebuah pernyataan tegas tentang perjalanan, mimpi, dan kreativitas yang tak pernah berhenti.
Lebih dari sekadar koleksi busana dan aksesori, W.I.P adalah potret perjalanan kreatif dari para kreator yang sibuk berkarya di tengah hiruk pikuk kota. Mereka yang berpindah dari studio ke panggung, dari ruang-ruang meeting ke jalanan, dengan membawa ide dan semangat ke mana pun perginya.
“Kami selalu percaya bahwa pakaian bukan sekadar mempercantik tampilan, tapi juga harus membawa cerita,” ujar Clavi Kirana, Founder sekaligus Creative Director CLV.
Debut runway pertama mereka di JF3 Fashion Festival 2025 bukan hanya tentang menampilkan koleksi, tapi juga merayakan orang-orang yang membangun sesuatu, mereka mencipta dan terus bergerak.
Koleksi ini mengusung konsep modular fesyen, yang memungkinkan satu item fesyen bisa dipakai dan dimodifikasi menjadi beberapa bentuk, fungsi, atau gaya sesuai kebutuhan pemakainya.
Desain ini biasanya menggunakan elemen lepasan (detachable), lipatan, atau sambungan seperti resleting, kancing, atau magnet sehingga satu pakaian bisa memiliki banyak tampilan dan kegunaan.
Dengan cutting modular yang khas dan inovasi desain yang segar, setiap tampilan dirancang dengan presisi, misalnya jaket yang berubah menjadi tas, tote bag yang dapat bertransformasi menjadi rompi, hingga aksesori fungsional seperti kantong lepas-pasang yang menyesuaikan kebutuhan pemakainya.
Runway JF3 kali ini menjadi titik awal CLV dalam membawa desainnya ke panggung internasional. “Koleksi ini kami beri nama W.I.P bukan hanya karena ini adalah Work In Progress kami, tetapi juga karena kami sendiri masih berada dalam proses. Kami menatap Paris. Runway ini adalah langkah pertama menuju sana,” tambah Clavi.
Berakar dari komunitas kreatif, CLV memadukan fesyen dengan fungsi melalui desain tas yang terintegrasi dalam pakaian modular. Pendekatan ini lahir dari pengamatan panjang Clavi terhadap para kreator yang membutuhkan fesyen yang praktis, fleksibel, tapi tetap estetik.
Dengan W.I.P, CLV mendefinisikan ulang bagaimana pakaian dapat menjadi kanvas ekspresi dan alat produktivitas. Dari musisi, ilustrator, fotografer, desainer, arsitek, hingga pelukis, koleksi ini dirancang agar setiap pemakainya dapat menjadi apa yang mereka inginkan.
Baca juga: Indonesia Kirim 4 Delegasi ke BRICS+ Fashion Summit 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Karya-karya ini dipresentasikan di JF3 Fashion Festival 2025, lewat sebuah show kolaboratif bertajuk Echoes of the Future by PINTU Incubator featuring École Duperré. Pertunjukan ini menegaskan komitmen program mereka dalam mendorong talenta lokal menuju panggung mode internasional.
Sejak diluncurkan pada 2022, PINTU Incubator telah menjadi wadah pengembangan bagi desainer muda melalui proses kurasi, mentoring professional, pertukaran budaya, pengalaman profesional, dan eksposur ke pasar global.
Baca juga: Karya ADITH dan Howard Laurent Curi Perhatian di Jakarta Fashion & Food Festival
Program ini menghubungkan para desainer muda dengan para ahli, institusi, dan ekosistem kreatif dari kedua negara. Dalam tiga tahun terakhir, PINTU telah menjaring lebih dari 10.000 brand yang tertarik, memilih 51 peserta terinkubasi, dan melibatkan 86 mentor ahli, termasuk 33 dari Prancis.
Mulai dari Lil Public sampai CLV, para jenama di bawah arahan PINTU Incubator memamerkan koleksi yang mencerminkan keberagaman gaya, mulai dari urban wear modern, interpretasi denim yang progresif, hingga desain modular yang fungsional.
Mengangkat konsep yang unik dan penuh imajinasi, Lil Public menghadirkan monster-monster ilustratif yang terinspirasi dari berbagai makanan ikonik yang muncul dalam novel, seperti mackerel, nori-ben, sushi, nabeyaki udon, ten-don, napolitan spaghetti, hingga Christmas cake.
Setiap karakter monster tak hanya merepresentasikan bentuk atau warna dari makanan tersebut, tetapi juga menghidupkan emosi yang melekat pada setiap cerita. Mulai dari kehangatan keluarga, cinta masa lalu, hingga rasa rindu yang tak pernah terucapkan.
Didesain untuk generasi urban yang dinamis, Hisashi Series menghadirkan fashion item dengan cutting oversize bergaya urban wear yang mudah dipadupadankan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Koleksi ini mencakup hoodie, work jacket, leather jacket, shirt & t-shirt, celana, aksesori, serta topi dengan desain unik yang menjadi ciri khas Lil Public.
Dengan karakter visual yang berani dan narasi yang mendalam, peluncuran Hisashi Series menandai langkah awal Lil Public dalam menghadirkan identitas fashion urban yang segar, kreatif, dan sarat makna. Koleksi ini menunjukkan bahwa Lil Public bukan sekadar brand pakaian, tetapi medium ekspresi yang menghubungkan cerita, rasa, dan gaya hidup urban masa kini.

Koleksi DENIMITUP (Sumber Foto: JF3 2025)
“Revelation memperkenalkan tampilan khas terbaru dari DENIMITUP, tanpa mengesampingkan misi kami untuk memperkenalkan ikon TRILOGO ke dunia,” ungkap Vincent Mikhael.
Menurut Vincent, THE REVELATION lahir dari refleksi atas situasi dunia saat ini. Dengan demikian, desain dalam koleksi ini mencerminkan visi tentang bagaimana manusia mungkin akan berpakaian di babak terakhir dari era ini.
“Kami percaya dunia ini semakin dipenuhi masalah manusia semakin serakah, tantangan terus bermunculan... dan seperti yang tercermin dalam banyak kitab suci, kita sedang mendekati akhir zaman,” ujarnya.
Tak hanya menonjol dari sisi desain, DENIMITUP juga tetap mempertahankan komitmennya pada prinsip fesyen berkelanjutan. Ini sekaligus menegaskan bahwa pakaian fungsional dan stylish dapat menjadi investasi jangka panjang, bukan sekadar tren musiman.
Koleksi Revelation menampilkan enam look yang masing-masing menonjolkan keunikan eksplorasi motif, teknik pewarnaan, hingga potongan. Seluruh prosesnya, mulai dari ilustrasi, pembuatan pola, jahit, pewarnaan, hingga penyempurnaan akhir seperti trimming benang, dilakukan oleh tangan-tangan ahli THE HOUSE OF DENIMITUP yang semuanya diproduksi di Indonesia.

Koleksi CLV (Sumber Foto: JF3 2025)
Lebih dari sekadar koleksi busana dan aksesori, W.I.P adalah potret perjalanan kreatif dari para kreator yang sibuk berkarya di tengah hiruk pikuk kota. Mereka yang berpindah dari studio ke panggung, dari ruang-ruang meeting ke jalanan, dengan membawa ide dan semangat ke mana pun perginya.
“Kami selalu percaya bahwa pakaian bukan sekadar mempercantik tampilan, tapi juga harus membawa cerita,” ujar Clavi Kirana, Founder sekaligus Creative Director CLV.
Debut runway pertama mereka di JF3 Fashion Festival 2025 bukan hanya tentang menampilkan koleksi, tapi juga merayakan orang-orang yang membangun sesuatu, mereka mencipta dan terus bergerak.
Koleksi ini mengusung konsep modular fesyen, yang memungkinkan satu item fesyen bisa dipakai dan dimodifikasi menjadi beberapa bentuk, fungsi, atau gaya sesuai kebutuhan pemakainya.
Desain ini biasanya menggunakan elemen lepasan (detachable), lipatan, atau sambungan seperti resleting, kancing, atau magnet sehingga satu pakaian bisa memiliki banyak tampilan dan kegunaan.
Dengan cutting modular yang khas dan inovasi desain yang segar, setiap tampilan dirancang dengan presisi, misalnya jaket yang berubah menjadi tas, tote bag yang dapat bertransformasi menjadi rompi, hingga aksesori fungsional seperti kantong lepas-pasang yang menyesuaikan kebutuhan pemakainya.
Runway JF3 kali ini menjadi titik awal CLV dalam membawa desainnya ke panggung internasional. “Koleksi ini kami beri nama W.I.P bukan hanya karena ini adalah Work In Progress kami, tetapi juga karena kami sendiri masih berada dalam proses. Kami menatap Paris. Runway ini adalah langkah pertama menuju sana,” tambah Clavi.
Berakar dari komunitas kreatif, CLV memadukan fesyen dengan fungsi melalui desain tas yang terintegrasi dalam pakaian modular. Pendekatan ini lahir dari pengamatan panjang Clavi terhadap para kreator yang membutuhkan fesyen yang praktis, fleksibel, tapi tetap estetik.
Dengan W.I.P, CLV mendefinisikan ulang bagaimana pakaian dapat menjadi kanvas ekspresi dan alat produktivitas. Dari musisi, ilustrator, fotografer, desainer, arsitek, hingga pelukis, koleksi ini dirancang agar setiap pemakainya dapat menjadi apa yang mereka inginkan.
Baca juga: Indonesia Kirim 4 Delegasi ke BRICS+ Fashion Summit 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.