Gunawan Woen (Sumber Foto: Linkedin Gunawan Woen)

Hypeprofil: CEO ESB Indonesia Gunawan Woen, dari Pasar Tradisional ke Teknologi F&B

25 August 2025   |   13:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Di balik kemajuan industri teknologi kuliner di Indonesia, sosok Gunawan Woen, Co-Founder sekaligus CEO PT Esensi Solusi Buana (ESB), menjadi salah satu figur yang menginspirasi. Perjalanannya merefleksikan keteguhan dan kerja keras seorang anak dari keluarga sederhana, yang mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. 

Lahir di Rengat, Riau, dan dibesarkan di Jakarta, Gunawan merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Pada awalnya dia hidup di tengah keluarga yang berkecukupan. Kakeknya merupakan salah satu orang terpandang di kampung.

Namun, ketika bisnis keluarganya diwariskan ke generasi berikutnya, semuanya hancur. Kondisi ekonomi keluarganya memburuk setelah sang kakek wafat.

Saat pindah ke Jakarta, keluarganya hanya mampu tinggal di rumah papan sederhana. Baru beberapa tahun kemudian, orang tuanya berhasil membeli rumah meski lokasinya rawan banjir. Untuk bertahan hidup, mereka berjualan kue basah dan susu kacang di Pasar Palmerah. 

Baca juga: Hypeprofil: Yukka Harlanda dan Perjalanan 15 Tahun Mendirikan Brand Sepatu Brodo 

Sejak kecil, Gunawan ikut membantu orang tuanya berjualan kue di pasar. Walau terbilang masih anak-anak, dia sering berkomentar soal cara orang tuanya berjualan. “Kenapa kue ini tidak dikasih merek? Kenapa kemasannya sederhana? Padahal kalau diberi merek dan dikemas lebih bagus mungkin bisa laku,” katanya.

Ide-ide sederhana itu sering memicu perdebatan dengan orang tuanya, tapi menunjukkan insting bisnisnya sudah tumbuh sejak dini. Bahkan rasa masakan ibunya pun tak luput dari kritiknya. Rasa ingin tahunya yang tinggi membuatnya tertarik untuk belajar memasak sejak usia 7 tahun.

Dari pengalaman itu, tumbuhlah kecintaannya pada dunia kuliner. Baginya kuliner bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga sebagai wujud seni, ruang kreativitas, dan peluang bisnis.

Setelah remaja, Gunawan mulai mendalami bidang kuliner dan hospitality. Dia bahkan sempat mendapat beasiswa ke Jepang berkat bantuan guru bahasa Jepangnya. Akan tetapi, krisis moneter 1998 memaksa mimpinya berhenti di tengah jalan.

“Sayangnya, krisis moneter membuat tabungan yang saya siapkan tidak cukup saat ditukar ke Yen. Beasiswa itu hanya menanggung biaya pendidikan, tanpa akomodasi, jadi rencana pun terpaksa batal,” ujarnya.

Gagal berangkat ke Jepang, Gunawan akhirnya mengikuti pilihan teman-temannya untuk kuliah akuntansi. Alasannya sederhana, karena kemampuan berhitung dibutuhkan di bidang pekerjaan apa pun. Selama kuliah, dia hampir tidak pernah belajar serius, hasilnya IPK-nya pas-pasan: 3,01.

Meski begitu, jurusan akuntansi justru membuka banyak peluang. Karir profesionalnya dimulai di PwC sebagai akuntan, di mana dia belajar memahami bisnis lintas industri dari sisi paling fundamental.

Sebagai akuntan, Gunawan tetap tidak bisa diam. Dia mencoba berbagai usaha sampingan mulai dari jualan sapu, dagang barang antar kota, hingga menjadi konsultan pajak dan akuntansi. Dia juga sempat mencoba bisnis mobil, kontraktor sipil, perdagangan kayu, agen perumahan, bahkan asuransi.

“Secara total, saya pernah menjalani lebih dari 200 usaha. Separuhnya gagal, sebagian kecil berhasil. Salah satu yang cukup sukses adalah bisnis makanan, ini menunjukkan bahwa tidak ada bisnis yang cocok untuk jangka panjang,” katanya.

Tahun 2006 menjadi titik balik bagi Gunawan, dia meninggalkan dunia korporat dan membangun firma konsultasi keuangan yang kemudian membawanya semakin dekat dengan industri kuliner. Dua tahun kemudian, dia mulai mendampingi banyak pelaku usaha F&B menata ulang operasional dan keuangan mereka, dan dari sanalah dia menyaksikan langsung tantangan nyata di lapangan.

"Tantangan para klien di sektor kuliner justru berangkat dari hal-hal mendasar, seperti bagaimana cara meningkatkan omzet, bagaimana mengelola laporan penjualan, pengelolaan karyawan, sampai stok bahan makanan, dari situ, saya mulai melihat peluang besar,” ujar Gunawan.  
 

Baginya, industri F&B sangat besar bahkan bisa bernilai hingga US$60 miliar per tahun. Walau dekat dengan keseharian masyarakat, justru sektor ini belum didukung oleh teknologi yang benar-benar memahami kompleksitas operasionalnya.

Berbekal wawasan bisnis dan kecintaan pada dunia kuliner, didirikanlah PT Esensi Solusi Buana (ESB) . Gunawan Woen menjabat sebagai CEO dan Co-Founder, bersama dengan Setiadi Prawiryo (CTO), Dwi Prawira (CRO), dan Eka Prasetya (COO) yang juga merupakan Founder dan Co-founder perusahaan tersebut. 

ESB merupakan perusahaan teknologi asal Indonesia yang menyediakan solusi operasional khusus untuk industri food & beverage (F&B). Sejak didirikan pada 2018, ESB telah menjadi partner digital terpercaya bagi berbagai jenis bisnis kuliner, mulai dari UMKM hingga jaringan restoran berskala besar. ESB juga telah dipercaya oleh lebih dari 30.000 merchant dan 13.000 brand di Indonesia dan Asia Tenggara.

Perusahaan ini menghadirkan layanan ekosistem dari hulu ke hilir, mulai dari sistem Point of Sale (POS) untuk transaksi di kasir, Enterprise Resource Planning (ERP) untuk mengelola operasional dan inventaris, sistem pemesanan sampai pembayaran agar proses transaksi berjalan lancar dan efisien.

Selain itu juga ada OLIN, asisten kecerdasan buatan (AI) pertama di industri kuliner Indonesia yang resmi diluncurkan pada 2025. Layanan ini dirancang untuk membantu pemilik usaha kuliner dalam mengambil keputusan strategis berbasis data. Mereka akan mendapatkan manfaat seolah memiliki empat profesional sekaligus, mulai dari analis bisnis, akuntan, auditor, dan konsultan dalam satu sistem. 

Respon pasar ternyata positif. Tanpa promosi besar-besaran, pengguna Olin sudah mencapai 5.000 orang. Fitur paling banyak dipakai adalah sales forecast. Hanya dengan data enam bulan, sistem mampu memprediksi penjualan dengan akurasi hingga 98 persen.

“Dulu, analisis forecast seperti ini dibayar ratusan juta sekali proyek. Sekarang bisa dilakukan otomatis setiap bulan dengan biaya jauh lebih terjangkau,” kata Gunawan.

Lewat pendekatan ini, ESB melalui Olin ingin membantu pelaku F&B di level menengah hingga besar. Ke depannya, dia berharap solusi ini juga bisa menjangkau pelaku mikro, yang jumlahnya mencapai jutaan di Indonesia.
 

Prinsip Dalam Berbisnis

Dalam memimpin, Gunawan mendorong ESB menjadi pelopor dan tulang punggung teknologi industri F&B di Asia Pasifik, dengan mengintegrasikan rantai bisnis dan industri pendukung dalam satu ekosistem terpadu. Dia menyadari bahwa keterbukaan dan kecepatan beradaptasi adalah elemen kunci pada era perubahan cepat. 

Bagi Gunawan, tantangan terbesar dalam membangun perusahaan bukan terletak pada aspek bisnis, melainkan pada bagaimana mengelola manusia. Dia mengakui sering bertemu dengan orang-orang pintar, tapi tidak selalu mudah diarahkan.

Karena itu, sejak awal dia menanamkan tiga nilai budaya utama di ESB, yakni honesty, empathy, dan agility. Honesty menjadi fondasi untuk selalu jujur dalam bekerja. Empathy mengajarkan kepekaan terhadap sesama dan kebutuhan pelanggan. Agility mendorong setiap individu di perusahaan untuk cepat beradaptasi menghadapi perubahan.

Gunawan juga mengakui bahwa tujuan bisnisnya dulu hanya mencari keuntungan. Akan tetapi di ESB, dia menemukan perspektif baru. Menurutnya, jika perusahaan fokus membuat merchant sukses, keuntungan akan datang dengan sendirinya.

“Kalau hanya memikirkan bagaimana customer bayar lebih banyak, itu gawat. Bisa untung sesaat tapi tidak long-term. Saya ingin ESB ini bertahan lama, bahkan hingga generasi berikutnya,” ujarnya.

Uang hanyalah by-product, yang utama adalah menyelesaikan masalah konsumen. Prinsip inilah yang dia ajarkan kepada anak-anaknya, bahwa bisnis sejati lahir dari niat untuk memberi nilai, bukan sekadar mengejar keuntungan.

Baca juga: Hypeprofil Chiki Fawzi: Perjalanan Karier dari Animator sampai ke Panggung Mode 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Cek Tanggal Merah dan Peringatan Hari Besar September 2025

BERIKUTNYA

Misteri Glass Armonica, Instrumen Ajaib Benjamin Franklin yang Punya Suara Magis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: