Pentas Bunga Penutup Abad Bakal Tampilkan Keindahan Bahasa Indonesia Klasik
16 August 2025 |
10:30 WIB
Pentas Bunga Penutup Abad produksi Titimangsa bakal kembali digelar tahun ini sebagai bagian dari perayaan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer. Pementasan ini menjadi momen istimewa, tidak hanya untuk membangkitkan kembali karya-karya penting sang sastrawan, tetapi juga untuk menghadirkan lagi keindahan bahasa Indonesia klasik.
Pentas Bunga Penutup Abad merupakan alih wahana dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Karya tersebut dikenal tidak hanya punya plot cerita yang kuat, tetapi juga menawarkan tata bahasa Indonesia yang menarik yang sudah jarang terdengar.
Baca juga: Bunga Penutup Abad Kembali Dipentaskan Rayakan Seabad Pramoedya Ananta Toer
Dalam pertunjukan yang disutradarai Wawan Sofwan ini, penggunaan tata bahasa ala Indonesia tempo dulu itu bakal dipertahankan. Para pemain pun mesti mempelajari dan menampilkan bahasa Indonesia klasik tersebut di atas panggung.
Reza Rahadian yang akan memerankan tokoh Minke mengatakan salah satu keunikan pementasan ini ialah penggunaan dialog yang tidak disesuaikan dengan bahasa masa kini. Hal ini dilakukan agar setting waktu pementasan yang menampilkan Indonesia zaman dahulu bisa lebih terasa oleh penonton.
Selain itu, Reza menyebut pilihan estetika ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan tata bahasa Indonesia klasik kepada generasi yang lebih muda. Sebab, disadari atau tidak, penggunaan bahasa Indonesia klasik makin jarang dilakukan. Padahal, menurut Reza, tata bahasa tempo dulu ini sangat indah.
"Ada diksi yang kita sudah jarang dengar, cara pemenggalan katanya berbeda, dan semua itu membuat bahasa Indonesia klasik bagiku sangat indah. Nanti, bahasa tersebut akan dihidupkan oleh semua para karakter di dalam pementasan ini," kata Reza.
Reza mengatakan dalam proses alih wahana karya sastra ke panggung teater, bahasa memang jadi satu hal yang menarik. Dia berharap cara generasi sebelumnya yang begitu indah mengolah bahasa Indonesia bisa tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, baginya, bahasa adalah akar budaya yang penting untuk dikenali, dipelajari, dan dicintai oleh masyarakat, khususnya anak muda. Sementara itu, Happy Salma, yang memerankan Nyai Ontosoroh, juga mengungkapkan kekagumannya pada keindahan bahasa dalam pementasan ini.
Dia mengaku sering merasa tidak ingin mengucapkan dialog terlalu cepat karena ingin meresapi setiap kata yang indah tersebut. Menurut Happy, kata-kata semacam ini kini semakin jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari.
"Pementasan Bunga Penutup Abad memberi kesempatan untuk menghadirkan kembali diksi-diksi itu dalam konteks yang kuat dan bermakna di atas panggung," imbuhnya.
Andrew Trigg, pemeran Jean Marais, menilai bahasa klasik dalam pementasan ini sangatlah indah. Meski mungkin generasi sekarang akan menganggapnya terlalu baku, Andrew merasa penggalan kosa katanya sebenarnya sangat menarik untuk disimak dan didalami.
Andrew juga menilai bahasa yang baku ini nantinya tak akan menghambat penonton untuk menyerap emosi yang dihadirkan para karakter. Menurutnya, para aktor di dalam tetap bisa menuangkan emosi karakternya meski secara tata bahasa menggunakan kata-kata yang unik.
"Meski bahasanya berbeda dengan sekarang, emosinya tetap bisa tersampaikan," imbuhnya.
Melalui Bunga Penutup Abad, para aktor dan tim produksi berharap penonton dapat merasakan kembali pesona bahasa Indonesia klasik. Dalam pentas ini, beberapa aktor ternama bakal terlibat menghidupkan kembali bahasa klasik tersebut ke atas panggung, dari Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Andrew Trigg sebagai Jean Marais, sampai Sajani Arifin sebagai May Marais.
Secara umum, pentas yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini akan berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh kala itu khawatir mengenai keberadaan Annelies sehingga mengutus pegawainya, yaitu Robert Jan Dapperste atau Panji Darman, untuk menemani ke mana pun Annelies pergi.
Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya terus dikabarkan melalui surat-surat oleh Panji Darman. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies.
Minke selalu membacakan surat-surat itu kepada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat itu perlahan membuka pintu-pintu nostalgia antara mereka bertiga. Di penghujung cerita, Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda.
Meski dilanda kesedihan, Minke tetap pergi ke Batavia untuk melanjutkan sekolah menjadi dokter. Dalam perjalanan, dia membawa serta lukisan karya sahabatnya, Jean Marais. Lukisan potret Annelies itu diberi nama oleh Minke sebagai ‘Bunga Penutup Abad’. Pementasan ini akan ditampilkan pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Baca juga: Naskah Buku Baru Pramoedya Ananta Toer Ditemukan di Pasar Loak Senen
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pentas Bunga Penutup Abad merupakan alih wahana dari dua buku pertama Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Karya tersebut dikenal tidak hanya punya plot cerita yang kuat, tetapi juga menawarkan tata bahasa Indonesia yang menarik yang sudah jarang terdengar.
Baca juga: Bunga Penutup Abad Kembali Dipentaskan Rayakan Seabad Pramoedya Ananta Toer
Dalam pertunjukan yang disutradarai Wawan Sofwan ini, penggunaan tata bahasa ala Indonesia tempo dulu itu bakal dipertahankan. Para pemain pun mesti mempelajari dan menampilkan bahasa Indonesia klasik tersebut di atas panggung.
Reza Rahadian yang akan memerankan tokoh Minke mengatakan salah satu keunikan pementasan ini ialah penggunaan dialog yang tidak disesuaikan dengan bahasa masa kini. Hal ini dilakukan agar setting waktu pementasan yang menampilkan Indonesia zaman dahulu bisa lebih terasa oleh penonton.
Selain itu, Reza menyebut pilihan estetika ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan tata bahasa Indonesia klasik kepada generasi yang lebih muda. Sebab, disadari atau tidak, penggunaan bahasa Indonesia klasik makin jarang dilakukan. Padahal, menurut Reza, tata bahasa tempo dulu ini sangat indah.
"Ada diksi yang kita sudah jarang dengar, cara pemenggalan katanya berbeda, dan semua itu membuat bahasa Indonesia klasik bagiku sangat indah. Nanti, bahasa tersebut akan dihidupkan oleh semua para karakter di dalam pementasan ini," kata Reza.
Reza mengatakan dalam proses alih wahana karya sastra ke panggung teater, bahasa memang jadi satu hal yang menarik. Dia berharap cara generasi sebelumnya yang begitu indah mengolah bahasa Indonesia bisa tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, baginya, bahasa adalah akar budaya yang penting untuk dikenali, dipelajari, dan dicintai oleh masyarakat, khususnya anak muda. Sementara itu, Happy Salma, yang memerankan Nyai Ontosoroh, juga mengungkapkan kekagumannya pada keindahan bahasa dalam pementasan ini.
Dia mengaku sering merasa tidak ingin mengucapkan dialog terlalu cepat karena ingin meresapi setiap kata yang indah tersebut. Menurut Happy, kata-kata semacam ini kini semakin jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari.
"Pementasan Bunga Penutup Abad memberi kesempatan untuk menghadirkan kembali diksi-diksi itu dalam konteks yang kuat dan bermakna di atas panggung," imbuhnya.
_Reza_Rahadian,_Happy_Salma,_Sajani_Arifin,_Chelsea_Islan,_Andrew_Trigg_crop.jpg)
Produser Happy Salma, pemain Reza Rahadian, Chelsea Island, dan beberapa tim produksi Bunga Penutup Abad (Sumber gambar: dok Titimangsa)
Andrew Trigg, pemeran Jean Marais, menilai bahasa klasik dalam pementasan ini sangatlah indah. Meski mungkin generasi sekarang akan menganggapnya terlalu baku, Andrew merasa penggalan kosa katanya sebenarnya sangat menarik untuk disimak dan didalami.
Andrew juga menilai bahasa yang baku ini nantinya tak akan menghambat penonton untuk menyerap emosi yang dihadirkan para karakter. Menurutnya, para aktor di dalam tetap bisa menuangkan emosi karakternya meski secara tata bahasa menggunakan kata-kata yang unik.
"Meski bahasanya berbeda dengan sekarang, emosinya tetap bisa tersampaikan," imbuhnya.
Melalui Bunga Penutup Abad, para aktor dan tim produksi berharap penonton dapat merasakan kembali pesona bahasa Indonesia klasik. Dalam pentas ini, beberapa aktor ternama bakal terlibat menghidupkan kembali bahasa klasik tersebut ke atas panggung, dari Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Andrew Trigg sebagai Jean Marais, sampai Sajani Arifin sebagai May Marais.
Secara umum, pentas yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini akan berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Nyai Ontosoroh kala itu khawatir mengenai keberadaan Annelies sehingga mengutus pegawainya, yaitu Robert Jan Dapperste atau Panji Darman, untuk menemani ke mana pun Annelies pergi.
Kehidupan Annelies sejak berangkat dari Pelabuhan Surabaya terus dikabarkan melalui surat-surat oleh Panji Darman. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies.
Minke selalu membacakan surat-surat itu kepada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat itu perlahan membuka pintu-pintu nostalgia antara mereka bertiga. Di penghujung cerita, Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda.
Meski dilanda kesedihan, Minke tetap pergi ke Batavia untuk melanjutkan sekolah menjadi dokter. Dalam perjalanan, dia membawa serta lukisan karya sahabatnya, Jean Marais. Lukisan potret Annelies itu diberi nama oleh Minke sebagai ‘Bunga Penutup Abad’. Pementasan ini akan ditampilkan pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Baca juga: Naskah Buku Baru Pramoedya Ananta Toer Ditemukan di Pasar Loak Senen
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.