Peluncuran Brand BLEE (Sumber Foto: SWI)

Sroja Warna Indonesia SWI Ungkap Rencana Ekspansi Global, Hadirkan BLEE Sebagai Lini Terbaru

06 August 2025   |   09:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Sroja Warna Indonesia (SWI), perusahaan lokal yang bergerak di bidang fesyen, mengungkap rencana-rencana ke depan mereka untuk terus memperkuat posisinya di industri mode tanah air dan internasional.

Setelah sukses dengan dua lini andalannya, SROJA yang menghadirkan busana premium untuk perempuan, serta KUDUNG yang berfokus pada modest wear, SWI kini memperluas cakupannya melalui peluncuran brand streetwear baru bernama BLEE.

Langkah ini menandai komitmen mereka untuk menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus menjawab kebutuhan generasi urban akan busana yang modern, inklusif, dan ekspresif.

"Nama “Sroja” sendiri diambil dari kata “Seroja” yang dikenal sebagai lotus atau teratai, simbol kesucian yang juga menjadi pengingat bahwa hidup bisa berisi hal baik maupun buruk, namun akan tetap tumbuh menjadi lebih baik," kata Luthfian Zuhdi Haryadi, General Manager SWI, Selasa (5/8/2025).

Baca Juga: Sroja Warna Indonesia Kenalkan BLEE, Merek Fesyen Streetwear Bergaya Edgy

Dia menambahkan, filosofi ini menjadi semangat dasar SWI dalam menciptakan berbagai lini busana. Peluncuran BLEE juga diikuti dengan pembukaan dua official store mereka di Lippo Mall Nusantara. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tamu undangan dan menjadi momentum penting dalam perjalanan mereka dalam memperluas lini busananya.

Lebih lanjut, Luthfian mengungkap cerita di balik berdirinya tiga lini busana SWI. Pertama, SROJA lahir dari tangan seorang perempuan muda asal Pekalongan, Samira Bajri, yang jatuh cinta pada warna-warna khas Indonesia. Tahun 2021 menjadi titik tolak ketika dia menantang dirinya sendiri untuk membuat scarf hasil kreasinya. Bukan untuk dijual, melainkan hanya sebagai hadiah bagi kerabat dan teman dekat.

Namun siapa sangka, sambutan yang datang begitu luar biasa. Banyak yang terpikat oleh keindahan motif dan kualitas bahan premium yang menjadi meterialnya. Kemudian dari sana lahirlah SROJA, brand pertama Sroja Warna Indonesia yang menjadi simbol elegansi perempuan Indonesia dalam balutan scarf sutra dan twilly.

"Scarf berupa kain untuk aksesori di leher, sementara twilly adalah kain yang biasanya jadi hiasan tas, tapi sekarang bisa juga dibuat jadi aksesori untuk leher seperti scarf atau sebagai belt," kata Luthfian.


 
 

 

SROJA kemudian berkembang menjadi dua lini busana, yakni SROJA Basic, yang menawarkan pakaian ready-to-wear sehari-hari dengan potongan simpel namun anggun dan SROJA Studio berupa koleksi busana edisi terbatas dengan sentuhan premium yang dirancang untuk mereka yang mencari eksklusivitas.

Seiring berkembangnya pasar dan meningkatnya kebutuhan akan busana muslimah yang modern namun tetap menjaga nilai-nilai kesopanan, SWI kembali menjawab tantangan itu dengan meluncurkan KUDUNG. Melalui koleksi hijab berbahan voal dan viscose dalam berbagai ukuran, baik polos maupun bordir, serta busana yang yang nyaman sekaligus estetis untuk perempuan muslim masa kini.

 



 
KUDUNG juga dibagi menjadi dua lini, yakni Kudung Basic berupa ready-to-wear modest untuk sehari-hari dan Kudung Klasik yang terdiri dari abaya dan gamis premium sebagai busana elegan untuk acara-acara spesial.

Namun semangat SWI tak berhenti hanya pada womenswear dan modest wear. Melihat geliat generasi muda urban yang ekspresif, lahirlah BLEE, lini streetwear terbaru yang desain-desainnya modern, edgy, dan penuh karakter terinspirasi dari tren mode di Eropa, Asia, dan Amerika.
 
Nama “BLEE” sendiri berasal dari kata ble’e dalam bahasa Jawa, yang berarti usang atau jelek. Ini menjadi sebuah tantangan bagi brand untuk membuktikan bahwa dari sesuatu yang dianggap tidak sempurna, bisa tercipta sesuatu yang keren dan ikonik.

"Jadi kami ditantang untuk membuat brand dari kata “ble’e” yang artinya usang dan jelek, tapi ketika menjadi brand fesyen justru bisa bermakna sebaliknya (bagus), akhirnya ble'e kami modifikasi menjadi “
BLEE yang terdengar lebih estetik, keren, dan modern," kata Brand Manager Farizky Putra.
 
Kata Blee sendiri juga punya arti yang berhubungan dengan warna, corak, atau pewarnaan. Memang, kata ini sudah jarang dipakai lagi dalam bahasa modern, dulu biasanya digunakan untuk menggambarkan kata "cerah". Dalam konteks ini, blee dimaknai sebagai simbol pewarna dengan harapan bahwa merek ini bisa membawa warna baru atau penyegaran dalam industri mode.


 

 
Dengan produk-produk seperti t-shirt, jaket, celana, hingga aksesoris, BLEE tampil beda lewat detail potongan yang presisi, material premium, dan kutipan-kutipan inspiratif pada desainnya. Merek ini bukan hanya soal pakaian, melainkan tentang menyuarakan identitas dan kebebasan berekspresi.

SWI sendiri memiliki visi untuk menjadi merek busana terkemuka di Indonesia dan Internasional. Mereka berkomitmen menghadirkan produk berkualitas dengan desain dan bahan berkualitas, serta teknologi produksi modern.

"Harapan kami di bidang fesyen, semoga bisa tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kami ingin menciptakan pakaian berkualitas tinggi yang menggabungkan unsur keanggunan, keindahan, dan mendukung aktivitas harian penggunanya," ujar Luthfian.

Target pasar Sroja Warna Indonesia mencakup segmen yang cukup luas dan strategis. Untuk lini SROJA dan Kudung, SWI menyasar konsumen perempuan, sementara lini streetwear BLEE dirancang untuk pasar unisex.

Secara sosial ekonomi, produk-produk SWI ditujukan bagi kelas menengah hingga atas (kelas B hingga A+), dengan rentang usia antara 20 hingga 40 tahun. Wilayah pemasaran tidak hanya terbatas pada kota-kota besar di Indonesia, tetapi juga diperluas hingga ke pasar internasional.

Kiprah mereka industri fesyen juga diperkuat dengan partisipasi aktif dalam sejumlah ajang bergengsi. Brand ini telah tampil di Indonesia Fashion Week (IFW) pada 2024 dan 2025, serta di JF3 2024.

Di kancah internasional, SWI berkesempatan hadir dalam Diplomatic Reception dan Business Matching di Den Haag pada 2024, serta tampil dalam acara Sroja Fashion Day dan Indonesia House di Amsterdam pada 2025. Partisipasi ini mencerminkan komitmen mereka dalam membangun eksistensi global di industri mode.

Baca Juga: Mekarnya Wijaya Kusuma, Abeey Hadirkan Koleksi Prana di JF3 2025

SEBELUMNYA

Bukan Sekadar Selera, Ini 4 Alasan Di Balik Ngidam Makanan Pedas

BERIKUTNYA

Cek Fitur Polytron Luxia, Laptop Lokal dengan Harga Terjangkau

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga